Representasi Sosial dan Prasangka

Posted: January 4, 2012 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , , , ,

Representasi Sosial dan Prasangka[1]

“Kita tidak akan mampu menilai kelompok lain tanpa sebelumnya kita memiliki pengetahuan mengenai kelompok tersebut” (Moscovici & Perez, 1997, hal. 27).

Apa yang mendasari orang memiliki prasangka terhadap kelompok lain? Apa yang menyebabkan orang berperilaku diskriminatif terhadap orang lain? Dan bagaimana orang dapat memberikan penilaian-penilain terhadap kelompok lain bahwa ada yang dipandang lawan atau musuh, buruk atau baik,  dan lemah atau kuat? Boleh jadi, penilaian dan kebencian atas kelompok telah ada dan meresap pada dunia di luar individu tempat dimana individu itu tinggal dan berinteraksi. Jelas sekali bahwa “prasangka sosial dan rasis tidaklah muncul dari fenomena yang terisolasi” (Moscovici, 2008, hal. 9), melainkan hal tersebut muncul disebabkan dari sebuah proses diskusi yang memberikan konsensus dan konfirmasi mengenai karakter, sikap, dan sifat kelompok lain. Terlebih lagi, pengetahuan mengenai sesuatu dan juga kelompok telah ada sebelum manusia itu lahir semakin memperjelas bahwa prasangka tidak muncul dari suatu kekosongan atau muncul begitu saja.

Di dalam psikologi sosial, Moscovici (2008) adalah tokoh utama dan penggagas yang berupaya meletakkan ruang sosial sebagai tempat manusia bertukar pikiran dan menciptakan suatu perangkat dasar bagi manusia untuk berpengatahuan dan bertindak. Dengan perangkat itulah manusia dapat mengolah dan membandingkan informasi-informasi atau pengetahuan-pengetahuan. Moscovici menyebut perangkat tersebut representasi sosial. Sebagai informasi, setelah Moscovici banyak sekali pemikir-pemikir yang lahir berupaya untuk menjelaskan dan memperkokoh posisi representasi sosial di dalam ilmu sosial, khususnya psikologi sosial. Kenyataan ini menjadikan teori representasi sosial lebih sulit untuk dipahami dibandingkan dengan teori-teori psikologi sosial lainnya.

Namun demikian, lebih mudahnya, secara singkat representasi sosial adalah suatu realitas sosial yang dijadikan sebagai suatu objek diskusi dalam suatu komunitas sebagai kerangka acuan untuk bertindak dan berkomunikasi (Wagner dkk, 1999). Melalui representasi sosial informasi-informasi dan tema-tema yang begitu luas dan tersebar diperkecil jaraknya sehingga memudahkan manusia mengolah informasi dengan cepat dan mendapatkan pemahaman. Dengan demikian, ketika manusia telah mendapatkan perangkat pengetahuan misalnya suatu tema tertentu, maka manusia akan sangat mudah berkomunikasi dengan orang lain. Lebih lanjut Moscovici menuliskan penjelasan representasi sosial sebagai:

a system of values, ideas, and practices with a twofold function; first to establish an order which will enable individuals to orient themselves in their material and social world and to master it; and secondly to enable communication to take place among the members of a community by providing them with a code for social exchange and a code for naming and classifying unambiguously the various aspects of their world and their individual and group history(kutipan Moscovci, 1976, hal. xiii dalam Duveen, 2001, hal. 12)

Sebuah sistem nilai, ide, dan praktis yang memiliki dua fungsi: pertama untuk membangun keteraturan yang dapat memberikan jalan pada manusia dalam mengorientasikan dirinya di dunia sosial dan juga untuk menguasainya; dan kedua untuk memberikan kemudahan pada manusia dalam berkomunikasi pada komunitasnya dengan pembekalan sebuah petunjuk untuk pertukaran sosial dan petunjuk untuk menamakan dan mengklasifikasikan secara jelas berbagai aspek yang ada di dunia. (kutipan Moscovci, 1976, hal. xiii dalam Duveen, 2001, hal. 12)

Penjelasan di atas tersebut dapat dipahami bahwa reperesentasi sosial telah menciptakan manusia masuk ke dalam kerangka-kerangka tertentu sehingga mereka dapat mendapatkan arahan dalam berpikir, bekomunikasi, dan bertindak.

Berkenaan dengan munculnya prasangka, representasi sosial akan memandang prasangka sebagai fenomena sosial yang disimpulkan serta disepakati atas dasar sosial. Hal ini menerangkan bahwa dalam representasi sosial, inter-komunikasi dan sosialisasi sangat memberikan peranan penting. Di samping itu, manusia yang memiliki ekspresi, emosi, dan historis juga menerangkan bahwa proses pembentukan prasangka sangat erat kaitannya dengan sejarah, emosi, pengalaman, pengetahuan yang telah dibangun sebelumnya, dan bahkan pada bentuk karakteristik masyarakat (lihat Wagner, 1993; Duveen, 1993; Scherer, 1992; Liu & Hilton, 2005; Moscovici, 2001).

Di dalam representasi sosial sendiri, prasangka dipahami sebagai sebuah representasi sosial bersifat negatif yang ditujukan pada  kelompok lain serta dikomunikasikan dan didisikusikan sesama anggota (bandingkan dengan Van Dijk, 1989, dalam Echabe, 1997).  Representasi negatif tersebut diolah dipelajari, dan ditelaah dapat berupa keluaran yang lebih menilai kelompok lain lebih negatif atau lebih mengarah kearah positif. Ini tentu saja sangat tergantung dengan kebeharuan dan pengalaman yang didapat oleh anggota kelompok. Melalui representasi sosial tersebut, individu mendapatkan pengetahuan mengenai karakter-karakter kelompok dan alasan (cenderung tidak mendasar) mengapa mereka harus dimusuhi dan dibenci.  Selanjutnya, pengetahuan tersebut akan memberikan kerangka bagaimana individu harus bertindak dengan kelompok lain.

Sebelum berangkat lebih jauh, perlu ditekankan di sini bahwa representasi sosial bukanlah suatu stimulus yang menentukan manusia bertindak. Inti dasar dari representasi sosial adalah aktivitas atau komunikasi yang sifatnya sosial. Di dalam aktivitas, stimulus dan respon terus saling bertukar. Artinya, representasi sosial adalah stimulus dan juga respon itu sendiri. Kosep dasar representasi sosial tersebut menerangkan bahwa representasi memiliki kerangka berpikir atau konseptual yang berbeda dengan psikologi arus utama pada kognitif sosial.

Ada hal-hal yang sangat mendasar antara representasi sosial dan kognitif sosial menjadi begitu berbeda. Dalam menganalisis pengetahuan, kognitif sosial lebih melihat bagaimana pengetahuan mengenai sesuatu diserap dan bagaimana proses di dalam kepala individu sehingga menghadirkan pemahaman dan tindakan. Di dalam kehidupan sosial, kognitif sosial seolah-olah menempatkan individu sebagai agen pasif yang hanya dapat menyerap keadaan di luar tanpa ada indikasi bahwa individu juga ikut mempengaruhi pengetahuan. Sementara itu, representasi sosial lebih melihat bagaimana pengetahuan itu tersebar serta bagaimana prosesnya sehingga menjadi suatu pengetahuan yang khas dan mudah dipahami. Representasi sosial menempati individu sebagai agen yang juga aktif mempengaruhi pembentukan individu.

            Oleh kognitif sosial, individu ditempatkan sebagai agen tunggal yang mengolah pengetahuan sebagai bekal untuk dirinya. Sementara itu, representasi sosial menempatkan individu sebagai agen yang saling berkomunikasi dalam mengelola dan mencerna pengetahuan. Konteks dimana individu mengolah pengetahuannya terkesan dilupakan oleh kognitif sosial, sementara itu representasi sosial menempatkan konteks sebagai suatu hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan.

Identitas sosial dan representasi sosial

Mengapa ada kelompok yang dibenci? Mengapa pelabelan negatif pada kelompok lain ada yang sama tapi ada juga yang berbeda. Kenapa Padang dan Cina (Tionghoa) digambarkan sebagai kelompok yang pelit (Soewarsih, 1979)? Kenapa Jawa digambarkan oleh orang Papua sebagai penjajah? Mengapa orang Dayak membenci Madura tetapi tidak membenci Melayu walaupun berasal dari agama yang berbeda? Mengapa perempuan diperlakukan secara berbeda pada etnis Minang dan Batak (Muluk, 1995). Gambaran, sikap, dan perlakuan khusus pada kelompok tertentu tersebut menjelaskan bahwa interaksi dan interkomunikasi ide merupakan syarat yang tidak dapat dielakkan. Lebih lanjut, kenyataan tersebut juga mengartikan bahwa prasangka sebagai fenomena tidaklah bersifat subjektif namun sosial atau kolektif.

Berbicara mengenai permasalahan prasangka, melalui pendekatan reprsentasi sosial, kita akan diajak untuk menjawabnya atas dasar pertanyaan di mana prasangka itu dibentuk, oleh siapa dan dengan siapa (Duveen & De Rosa, 1992). Melalui dasar pertanyaan tersebut dapat disadari bahwa keberadaan kelompok sebagai wadah yang memberikan label identitas kolektif atau sosial akan sangat memberikan pengaruh. Hal ini memberikan kejelasan akan adanya relasi yang sangat kuat antara identitas sosial dengan representasi sosial. Bahkan Renedo (2010) berpendapat bahwa representasi sosial dan identitas merupakan sebuah hal yang sangat mengikat dimana kedua faktor tersebut akan membentuk proses psikologis pada cara manusia berhubugan dengan dunia. Individu yang merasa terikat dengan kelompok tertentu akan mendekatkan pemahaman, pengetahuan, dan tindakannya serupa dengan kelompok.

Bahwasannya identitas dan representasi sosial akan sangat memberikan kekuatan pada pemahaman dan tindakan orang, hal ini tidak berarti juga menerangkan bahwa individu tidak memiliki kehendak bebasnya. Individu tetap mahkluk yang bebas dan dapat menentukan pada kelompok mana dia merasa terikat atau menyatu. Sebagai subjek yang aktif menafsirkan dan menentukan pilihan, individu berhak menentukan sendiri kepada siapa (kelompok mana) dia merasa terikat dan kepada kelompok mana orang lain dikelompokkan atau dilabelkan.

Kumpulan individu yang aktif menafsirkan keanggotaannya di dalam kelompok  diistilahkan oleh Wagner (1995) dengan menyebutnya sebagai kelompok reflektif. Kriteria istilah ini ingin membedakan kelompok yang berdasarkan pengelompokan berdasarkan kategeorisasi agregat yang menegasikan emosionalitas. Kelompok berdasarkan agregat ini lebih sering dikelompokkan oleh pihak luar atau saintis tetapi tidak berdasarkan pengakuan individu. Ini sangat berbeda dengan kelompok reflektif yang terdiri dari anggota yang sadar bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok dimana anggota kelompok lain juga mengakui keanggotaan individu tersebut. Sementara itu, kelompok yang berdasarkan agregat dikelompokan secara tidak sadar bahwa mereka bagian dari kelompok. Contoh dari kelompok kategori agregat adalah kelompok miskin, kelompok kaya, penderita jantung, kelompok pengendara bermotor, dll. Kategorisasi kelompok berdasarkan kriteria agregat tidak memiliki keinginan atau kesadaran untuk membangun ikatan dan komunikasi bersama, oleh sebab itu konsensus representasi sosial tidak terbentuk atau berproses dalam kelompok agregat.

Kelompok reflektif dimana penentuan identitas kelompok atau kolektif dipilih secara sadar menyebabkan persebaran pengetahuan dan makna yang bersifat beragam dapat dikelola, diarahkan, dan difokuskan. Artinya, dalam kondisi ini, penentuan pilihan secara sadar juga dapat menentukan posisi individu atau subjek sebagai aktor atau agen aktif (Duveen, 1993; Renedo, 2010). Penentuan posisi berarti mempertegas representasi. Sebagai agen yang aktif mengelola representasti sosial, pemposisian individu sangat mungkin merubah. Jika terjadi perubahan posisi pada individu, maka dampak pola dan sumber komunikasi di dalam individu dan sosial pun ikut berubah.

Sebagaian besar pada tiap-tiap kelompok reflektif memiliki representasi nya sendiri, yaitu perangkat-perangkat yang menyediakan aturan, arahan, keyakinan, dan bahan yang akan didiskusikan. Melalui interaksi dan diskusi di dalam kelompoklah jenis pelabelan-pelabelan negatif disaring dan dilekatkan pada sesuatu yang dianggap paling mendekati kelompok lain. Individu yang bergabung ke dalam kelompok secara tidak langsung akan terkontaminasi dengan ide-ide atau pengetahuan-pengetahuan yang telah berkembang di dalam kelompok. Kontaminasi ini tidak hanya akan berdampak pada bagaimana individu memandang dunia tetapi juga bagaimana individu memandang dirinya.

Secara alamiah, manusia sebagai mahkluk hidup yang ingin mengenal dirinya dan dunianya akan mencari sumber pengetahuan yang dapat menjelaskan keingin tahuannya itu. Dikarenakan manusia hidup terikat dengan konteks di mana dia berada maka dia mencari jawaban akan dirinya berdasarkan sumber-sumber yang paling dekat, orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar. Adalah orangtua dan keluarga yang akan memperkenalkan anak mengenai identitas kelompoknya (agama, etnis, atau bangsa). Mereka jugalah yang akan memberikan pengetahuan mengenai karakter-karakter dan sifat-sifat. Lalu juga menjelaskan perbedaan kelompoknya dengan kelompok lain. Sebagai individu yang aktif, informasi-informasi tersebut diolah, dicerna, lalu kemudian dilempar kembali hasil pengeolahannya untuk didiskusikan. Salah satu hasilnya adalah representasi sosial.

(Bersambung)

1: Versi lengkap dari tulisan ini dimuat di dalam buku “Psikologi Prasangka: Sebab, Dampak, dan Solusi” oleh penerbit Ghalia Indonesia. Penulis: Idhamsyah Eka Putra & Ardiningtiyas Pitaloka


[1] Representasi Sosial memiliki banyak penjabaran-penjabaran dan istilah-istilah. Di dalam tulisan ini, tidak semua penjelasan teori dijelaskan. Beberapa istilah-istilah dan penjabaran-penjabaran lainnya dapat membaca Moscovici (2001; 1984; 2008) Wagner (1993, 1994, 1999), atau Jovchelovitc (2007)

Comments
  1. Tulisan yang menarik. Ditunggu sambungannya.

    Salam

    • idhamputra says:

      Terima kasih komentarnya.
      Iya versi lengkap tulisan ini dimuat dalam salah satu bab di buku Psikologi Prasangka: Sebab, dampak, dan solusi.
      Mas Irsyad dapat membelinya di gramedia atau toko buku yang banyak memyediakan buku teks psikologi.
      Salam,
      Idhamsyah Eka Putra

  2. Amalia says:

    Tulisannya sangat membantu memahami repsos. Kalau hubungan repsos dg komunikasi, bagaimana ya? Trimz

    • idhamputra says:

      Halo mb Amalia,
      Mohon maaf sekali baru membalasnya. Belakangan ini sy sdg disbukkan dengan banyak kegiatan.
      Maksudnya Repsos dengan komunikasi bagaimana yah mb? Di dalam pendekatan teori representasi sosial sendiri, jika kita mencoba memahami pola komunikasi, maka sebenarnya ‘kegiatan’ komunikasi, subjek pelaku dan penerima komunikasi tidak dapat lepas dari representasi-representasi. representasi sosial ini biasanya terikat dengan konteks tertentu. Misalnya saja, ada pembahasan berbeda antara kelompok religius dan kelompok agnostik ketika membicarakan tema “ateisme”. Di dalam kelompok religius mungkin saja pembahasannya yang keluar adalah kafir,buruk, keluar dari jalur, telah menjauh dari Tuhan, dsb. Pembahasan ini tentunya berbeda dengan kelompok agnostik, mereka mungkin lebih banyak membahas tentang Tuhan dan ketiadaan Tuhan di mana pemhasan kafir dan tidak kafir tidak keluar sebagai suatu pembhasan utama. Istilah dalam representasi Sosial mengenai hasil2 pembahasan ini adalah temata.
      Demikian penjelasan singkatnya mb, semoga membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s