Memahami Kemunculan Intoleransi di Dalam Umat Beragama: Studi Orientasi Keberagamaan, Fundamentalisme Agama, Orientasi Dominansi Sosial, dan Orientasi Politik

Posted: May 12, 2011 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , ,

Idhamsyah Eka Putra

Abstrak

Saat ini muncul debat mengenai mengapa orang-orang beragama dapat bersikap toleran dan  intoleran. Beberapa temuan sebelumnya menunjukkan ahwa tipe orientasi sangat menentukan sikap mereka. Dua tipe orientasi yang dianggap mendukung toleransi adalah orientasi keberagamaan intrinsik dan orientasi politik liberal. Akan tetapi, beberapa temuan terkini menjelaskan bahwa dua tipe tersebut tidak konsisten mendukung toleransi. Penelitian ini berupaya untuk menemukan jawaban munculnya intoleransi di dalam tipe orientasi keberagamaan intrinsik dan orientasi politik liberal dengan mempertimbangkan  fundamentalisme agama dan orientasi dominansi sosial sebagai moderator. Data penelitian didapat dari 302 partsipan (L=153, P=140) beragama Islam melalui kuesioner. Sesuai dengan prediksi, hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi dominansi sosial terbukti memoderasi hubungan orientasi keberagamaan dan intoleransi. Sementara itu, hubungan orientasi politik dengan intoleransi terbukti dimoderatori oleh orientasi dominansi sosial. Implikasi dari temuan ini menjelaskan bahwa kemunculan sikap toleran dan intoleran di dalam orang-orang beragama tidak berasal dari faktor tunggal.

PENDAHULUAN

Saat ini muncul perdebatan dan diskusi mengenai hubungan agama dengan toleransi. Perdebatan dan diskusi tersebut disebabkan oleh fenomena kelompok-kelompok religius yang kerap melakukan aksi-aksi imoral, destruktif, dan teror. Beberapa kelompok religius tersebut adalah kelompok fundamentalis kristen Klu Klu Klan yang menentang ras kulit hitam di Amerika, kelompok aliran keagamaan baru Aum Shinrikyo yang menyebarkan gas beracun di kereta bawa tanah di Jepang, kelompok teroris Islam internanasional Al Qaeda, kelompok teroris Islam Jamaah Islamiyah (JI), dan Fundamentalisme Hindu di India. Aksi-aksi kelompok tersebut membuktikan bahwa unsur kedamaian dan kasih yang diajarkan di dalam agama menjadi dipertanyakan.

Kenyataan munculnya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok atas nama agama menjadikan toleransi di dalam masyarakat semakin sulit terbentuk. Kenyataan ini menjadi sangat miris ketika diketahui bahwa prasayarat terciptanya masyarakat yang adil dan damai adalah terwujudnya toleransi antar warga. Toleransi menjelaskan hadirnya rasa menghargai antar sesama. Kejadian-kejadian yang menerangkan betapa brutalnya kelompok religius menimbulkan pertanyaan apakah dengan agama dapat terwujud toleransi antar warga?

Allport (1954) menganilisis adanya dua bentuk ajaran agama yang paradoks. Agama mengajarkan hal-hal yang menyejukkan dan mendamaikan tetapi juga tidak menolak secara tegas aksi-aksi kekerasan. Dua kenyataan ini memunculkan dua tipe orang beragama, yaitu orang  religius yang sangat menjunjung tinggi perbedaan dan kedamaian dan orang religius yang intoleran dan membenarkan kekerasan. Penelitian ini mencoba mencari penjelasan mengapa orang beragama menentang toleransi. Dugaan saya, pengungkapan intoleransi yang muncul dari orang beragama dapat ditelusuri dari dua orientasi, yaitu orientasi agama dan orientasi politik.

Orientasi keberagamaan, Fundamentalisme agama, dan Toleransi

Allport dan Ross (1967) menemukan bahwa kaitan toleransi dengan keagamaan sangat berhubungan erat dengan orientasi keberagamaan seseorang. Dari dua tipe orientasi keberagamaan, yaitu orientasi keberagamaan intrinsik dan orientasi keberagamaan ekstrinsik, individu dengan tipe orientasi keberagamaan ekstrinsik terbukti lebih bersikap intoleran terhadap kelompok lain. Sedangkan individu dengan tipe orientasi keberagamaan intrinsik justru membuktikan hal sebaliknya, yaitu mendukung toleransi. Allport (1960 dalam Crapss, 1993) menjelaskan bahwa pemeluk agama dengan tipe orientasi keberagamaan intrinsik adalah tipe keberagamaan yang penuh dengan penghayatan. Agama dirasakan sebagai sebuah kebutuhan spiritual yang diperuntukkan untuk mengatasi egoisme kepentingan pribadi. Agama dijadikan sebagai suatu kebutuhan pengembangan diri. Berbeda dengan orientasi keberagamaan intrinsik, orientasi keberagamaan ekstrinsik ditemukan pada orang-orang yang memanfaatkan agama sebagai upaya mendapatkan penghargaan secara sosial. Pemeluk agama dengan orientasi keberagamaan ekstrinsik menemukan agama bermanfaat dalam banyak hal seperti memperbaiki status, menjadi orang terpandang, dan bahkan dapat dijadikan alat untuk dapat merendahkan orang lain.

Beberapa penelitian telah memberikan penguatan pada apa yang Allport dan Ross temukan. Orientasi keberagamaan ekstrinsik terbukti memiliki hubungan dengan prasangka (Duck & Husberger 1999; Cannon, 2001; Herek, 1987). Orientasi keberagamaan ekstrinsik juga terbukti tidak hanya intoleran pada penganut agama lain tetapi juga pada ras, etnis, dan homo (Herek, 1987; Cannon, 2001). Namun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan hasil yang mengejutkan mengenai posisi orientasi keberagamaan intrinsik. Intoleransi dan prasangka terbukti juga muncul dalam orientasi keberagamaan intrinsik (lihat Herek, 1987; spilka, Hood, & Gorsuch, 1985; lough, 2005). Hasil temuan tersebut menjelaskan adanya hal yang luput dipertimbangkan di dalam memahami hubungan toleransi dan orientasi keberagamaan.

Salah satu hal yang paling jelas adalah luputnya pertimbangan unsur kefanatikan. Asumsi tersebut dipertegas dan diperkuat oleh temuan yang didapat Altemeyer (lihat Altemeyer, 2003; Altemeyer & Hunsberger, 1992).  Dia yakin bahwa intoleransi dan prasangka amat kuat muncul pada penganut yang fanatis. Menurutnya, gambaran penganut yang fanatis dapat terekam jelas pada orang-orang dengan paham fundamentalisme, yaitu paham yang menggunakan agama sebagai wadah untuk memahami dan menjadi pedoman berperilaku dalam segala hal (Altemeyer & Hunsberger, 1992; lihat juga Hood, Hill, & Williamson, 2005; Taylor & Horgan, 2001). Cara para fundamentalis agama ini memaknai dan memandang dunia juga berbeda. Mereka memaknai dunia dengan cara memahami bagaimana kitab suci memandang dunia. Apa yang dijelaskan dalam kitab suci itulah yang dijadikan sebagai tumpuan mereka dalam memandang dunia. Bagi mereka, orang lain harus memiliki pandangan yang sama dengan mereka, jika tidak mereka akan dipandang sebagai orang-orang yang tidak terselamatkan. Dari penjelasan-penjelasan tersebut dapat diasumsikan bahwa hubungan orientasi agama dengan intoleransi sangat dipengaruhi oleh kefanatikan atau paham fundamalisme agama. Penelitian ini akan menguji faktor orientasi agama dengan intoleransi yang di moderatori oleh fundamentalisme agama.

Orientasi politik, Orientasi Dominansi Sosial, dan Intoleransi 

Secara umum, saat ini terdapat dua orientasi politik yang saling bertentangan satu sama lain. Orientasi politik tersebut adalah orientasi politik kiri, liberal dan kanan, konservatif. Orang-orang liberal adalah mereka yang selalu mengusung kesamaan hak dan menentang status quo. Mereka digambarkan sebagai orang atau kelompok yang memandang perubahan sebagai suatu hal yang alamiah di dalam masyarakat. Sementara itu, orang-orang konservatif adalah mereka yang selalu bersikap resisten terhadap perubahan. Biasanya individu dengan ideologi politik konservatif sulit untuk menerima nilai, tindakan politik dan gaya pemikiran baru. Secara historis, Konservatisme biasanya timbul dari orang-orang yang menginginkan kestabilan, bukan perubahan (lihat Jost & Hunyady, 2002; Jost, Glaser, kruglanski, & Sulloway, 2003).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orientasi politik liberal lebih mendukung toleransi dan pikiran terbuka. Sementara itu orientasi politik konservatif lebih mendukung intoleransi (lihat Fibert & Ressler, 1998) dan pikiran tertutup (Kruglanski&Webster, 1996). Temuan-temuan ini menegaskan bahwa konservatisme lebih mengarah pada hal-hal yang negatif dibandingkan dengan liberalisme.

Namun fenomena berkata lain. Kenyataannya perilaku kelompok liberal tidak memberikan bukti  bahwa mereka benar-benar toleran. Mereka terbukti intoleran pada lawan politiknya (Sullivan, Pierson, & Marcus, 1982). Mereka pun juga kerap kali terekam berbicara sesuatu yang bersifat merendahkan dan meremehkan lawan politik yang berbeda haluan. Orang-orang liberal terbukti tidak menyukai orang-orang konservatif yang selalu mendukung status quo. Kenyataan ini menjelaskan adanya faktor lain yang dapat membentuk kedua orientasi politik dalam mendukung intoleransi.

Pertimbangan yang paling masuk akal dalam upaya menjawab kemunculan intoleransi di dalam kehidupan politik adalah dengan mencoba memahami karakteristik politik itu sendiri. Di dalam kehidupan berpolitik ada hal alamiah yang tidak bisa dihindari, yaitu perebutan kekuasaan. Adalah hal yang juga lumrah bahwa masing-masing ide di dalam setiap kubu aliran politik menganggap bahwa idenyalah yang paling benar sehingga memandang ide dari lawan politik sebagai tandingan yang perlu dikalahkan. Secara tidak sadar kehidupan politik membentuk pola pandang orang dengan menganggap bahwa kehidupan sosial ini berbentuk hirarkis, yaitu pemahaman adanya level di atas, sejajar, maupun di bawah. Dengan demikian, tidak dapat diragukan lagi bahwa kondisi dunia perpolitikan yang seperti itu mendorong setiap aliran politik memiliki orientasi dominansi sosial yang tinggi (Sidanus & Pratto, 2001; Pratto, Sidanius, Stallworth, & Malle, 1994). Orang dengan dominansi sosial yang tinggi adalah orang yang percaya bahwa kehidupan terbagi ke dalam struktur yaitu yang di atas dan yang di bawah. Mereka yang di atas adalah mereka yang menang, memiliki kekuasaan, atau memiliki seluruh nilai-nilai yang positif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan orientasi dominansi sosial yang tinggi memiliki hubungan yang kuat dengan prasangka dan diskriminasi (lihat Duckitt, 2001; Altemeyer, 2003).  Dengan mengaitkan tipe orientasi politik yang dianut para pemeluk agama, dapat diasumsikan bahwa orientasi dominansi sosial akan sangat memegang peranan penting pada hubungan orientasi politik dengan intoleransi. Penelitian ini akan mencoba untuk mengujinya.

*Versi lengkap artikel ini dimuat pada Jurnal psikologi sosial. vol. 15 no. 2, 2009

alamat redaksi: fakultas psikologi Universitas Indonesia, ruang LPSP3

Comments
  1. HP says:

    Karena saya belum membaca versi utuh tulisan ini, maka saya hanya akan mengomentari beberapa potongan pemikiran yang muncul saja. Yang ingin saya cermati adalah definisi Allport tentang orientasi keagamaan, kenapa misalnya dia tidak mempertimbangkan karakter sebuah agama. Seperti Islam yang lebih menyukai ide keadilan atau Kristen yang menyukai ide kasih sayang. Karakter agama ini jelas mempengaruhi pemikiran seseorang akan agama yang ia anut (jangan2 agama menurut Allport itu hanya Kristen semata?). Tentu saja, harus dibedakan pula pemahaman seseorang akan agama yang ia anut. Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu al-Quran sama sekali mampu mewakili domain Islam, dengan mengkategorikannya sebagai liberal. Dan yang membuat saya heran, kenapa tiba2 kata saleh menghilang dari kajian modern yang dengan semena-mena mempopulerkan term fundamentalisme. Apakah benar seorang yang saleh itu fundamentalis? Atau sebaliknya, apakah semua yang tidak fundamentalis itu tidak saleh? Kategorisasi inilah yang sepertinya tidak diamati oleh Allport.

    • idhamputra says:

      pridityo: kenapa misalnya dia tidak mempertimbangkan karakter sebuah agama. Seperti Islam yang lebih menyukai ide keadilan atau Kristen yang menyukai ide kasih sayang (jangan2 agama menurut Allport itu hanya Kristen semata?)

      idham: Dari artikel yang saya baca, saya memahaminya bahwa argumen yang dibangun Allport tidak didasarkan oleh agama Kristen saja. penelitian yang dilakukan oleh Allport memang lebih banyak dilakukan pada Kristen. Akan tetapi beberapa penelitian juga telah dilakukan pada sejumlah sampel dari Yahudi dan Islam. Allport sangat menyadari bahwa seluruh agama memiliki dan mengajarkan sesuatu yang damai. Akan tetapi Allport juga melihat pada tiap-tiap agama (Hindu, Yahudi, Katolik, Protestan, bahkan Budha) melakukan praktek-praktek kekerasan yang ditujukan pada agama dan kelompok lain.
      mengenai Islam yang menekankan keadilan dan Kristen yang menekankan kasih memang tidak dibahas oleh Allport karena hal tersebut bukan kajian atau konsern yang akan diteliti oleh Allport. Yang ingin dia lihat adalah kenapa orang beragama ada yang melakukan perbuatan yang baik tetapi ada juga yang berbuat jahat. Kenapa ada orang beragama yang baik? dan kenapa ada orang beragama yang jahat? pertanyaan inilah yang ingin Allport jawab
      jawabannya karena itu dibentuk dari dua orientasi keberagamaan yang berbeda; intrinsik yang mendorong orang pada hal-hal yang baik; ekstrinsik yang akan membawa orang untuk intoleran, diskriminatif, dan berprasangka

      Pridityo: Tentu saja, harus dibedakan pula pemahaman seseorang akan agama yang ia anut. Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu al-Quran sama sekali mampu mewakili domain Islam, dengan mengkategorikannya sebagai liberal. Dan yang membuat saya heran, kenapa tiba2 kata saleh menghilang dari kajian modern

      idham: penjelasan mengenai orang tidak tahu al-qur’an itu seperti apa ya? biasanya orang-orang yang melakukan penyerangan atas nama agama, mereka merasa dirinya telah (bahkan lebih) memahami al-Qur’an dibandingkan kelompok lain.
      jika merujuk pada Allport, kesalehan ada pada orang-orang dengan orientasi keberagamaan intrinsik.
      mengenai fundamentalisme, sepanjang yang saya tahu Allport tidak membahas isu, term, maupun fenomena mengenai fundamentalisme. di dalam school of psychology, penelitian dan pembahasan mengenai fundamentalisme datang setelah Allport misalnya oleh Altemeyer (1992).

      Pridityo: Apakah benar seorang yang saleh itu fundamentalis? Atau sebaliknya, apakah semua yang tidak fundamentalis itu tidak saleh? Kategorisasi inilah yang sepertinya tidak diamati oleh Allport

      Idham: orang saleh belum tentu fundamentalis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s