Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia

Posted: May 12, 2011 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , , ,

Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren


Abstract

This study aims to adapt and modify RFS (Religious Fundamentalism Scale) and IFS (Intratextual Fundamentalism Scale) to develop ISFS (Islamic Fundamentalism Scale). Further, this study examines correlation between ISFS and prejudice towards Christians. Data were collected from a total of 311 Muslim participants via questionnaire. The results show that the items in ISFS have 0.86 level of reliability with 0.37–0.64 validity coefficient thus the scale is effective in measuring Islamic Fundamentalism. The results also indicate the strong correlation between Islamic fundamentalism and prejudice towards Christians and even proves its position as a determinant in predicting prejudice towards Christians as the dependent variable. Further researches suggested are concerning the correlations between Islamic fundamentalism and prejudice towards other believers, certain race or ethnic, and homosexual, as well as the roles of other variables such as social identity, social dominance orientation, and authoritarian in determining prejudice.

Pendahuluan

Di dalam psikologi sosial, diskriminasi dan prasangka merupakan kajian yang banyak diteliti terutama setelah perang dunia pertama dan kedua. Setidaknya laporan terakhir di dalam Pyscinfo (18 Juli 2010) menunjukkan 1424 artikel jurnal yang memberikan judul prasangka dan sekitar 5103 artikel jurnal yang memiliki kata kunci prasangka. Data tersebut belum termasuk jumlah buku, tesis, disertasi, artikel konferensi. Tokoh-tokoh awal psikologi seperti Thorndike, Lewin, Ash, dan Allport pun ikut memberikan kontribusi terhadap berbagai kajian di seputar isu tersebut. Prasangka menjadi suatu topik yang banyak ditelaah karena konflik sosial, perang, dan penindasan diantaranya diakibatkan oleh prasangka.

Prasangka dapat muncul dari berbagai sebab, yaitu di antaranya deprivasi relatif (Davis, 1959), identitas (Tajfel & Turner, 1979), konflik sosial (Bar-Tall, orientasi dominansi sosial (Sidanius & Pratto, 2001), sifat otoriter (Altemeyer, 1981; Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, & Savvord, 1950), ancaman (Greenberg, Solomon, & Pyszczynski, 1997), dan agama (Allport, 1955). Faktor terakhir yang disebut sebagai penyebab prasangka, yaitu agama, menarik untuk ditelaah secara mendalam disebabkan oleh unsur ajaran setiap agama yang justru mempromosikan nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan, termasuk tidak memiliki prasangka negatif terhadap sesama atau manusia lain, untuk dijadikan pedoman bagi pemeluknya agar mencapai ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Berkaitan dengan agama sebagai determinan prasangka, Allport dan Ross (1967) membuktikan bahwa orang beragama dengan orientasi ekstrinsik cenderung memiliki prasangka negatif terhadap penganut lain. Sementara orang beragama dengan orientasi intrinsik cenderung tidak mendukung prasangka terhadap penganut lain. Orientasi keberagamaan ekstrinsik adalah agama yang dimanfaatkan. Agama berguna untuk mendukung kepercayaan diri, memperbaiki status, bertahan melawan kenyataan, atau memberi sangsi pada suatu cara hidup. Orang dengan orientasi keberagamaan ekstrinsik menemukan bahwa agama bermanfaat dalam banyak hal, dan menekankan imbalan apa yang akan diperolehnya. Orientasi keberagamaan intrinsik sebaliknya, adalah agama yang dihayati. Iman dipandang bernilai pada dirinya sendiri yang menuntut keterlibatan dan mengatasi kepentingan diri. Orientasi keberagamaan intrinsik meletakan motif orientasi di bawah keterlibatan yang komprehensif (Allport, 1960, dalam crapps, 1993). Dua kecenderungan ini muncul karena menurut Allport (1954) agama disamping mengajarkan kebaikan juga mengajarkan kekerasan dan intoleransi. Kondisi ini memberikan potensi munculnya dua sisi pandang yang berbeda mengenai agama, di satu sisi menciptakan kebaikan di sisi lain menciptakan kejahatan (Allport, 1954).

Di samping Allport dan Ross, beberapa peneliti seperti Duck dan Husberger (1999) dan Cannon (2001) turut memberikan dukungan dan menguatkan hasil temuan mereka. Akan tetapi, beberapa penelitian terakhir mengenai orientasi intrinsik dan ekstrinsik membuktikan akan lemah dan tidak kuatnya konsep yang diberikan Allport dan Ross. Beberapa temuan menunjukkan bahwa orang dengan orientasi intrinsik juga menunjukkan dukungannya terhadap prasangka terhadap penganut lain (Herek, 1987; spilka, Hood, & Gorsuch, 1985; Lough, 2005). Hasil dari penjelasan-penjelasan tersebut menunjukkan akan adanya faktor lain yang terlewat atau belum terpikir yang menjadi determinan sesungguhnya dalam mengukur hubungan antara agama dan prasangka. Menurut Altemeyer (2003), hal lain yang belum terpikirkan tersebut adalah kefanatikan. Dengan kata lain, kefanatikan menurutnya merupakan penyebab sesungguhnya dalam mengukur hubungan antara agama dan prasangka. Kefanatikan ini menurutnya muncul di dalam fundamentalisme agama. Altemeyer sendiri menjelaskan fundamentalisme agama adalah suatu keyakinan kuat tentang ajaran agama yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan berperilaku. Lebih jelas, Altemeyer dan Hundberger menjelaskan:

“The belief that there is one set of religious teaching that clearly contains the fundamental. Basic intrinsic, essential, inerrant truth about humanity and deity; that this essential truth is fundamentally opposed by forces of evil which must be vigorously practice of the past; and that those who believe and follow these fundamental teachings have a special relationship with the deity”. (Altemeyer & Husberger, 1992)

Senada dengan Altemeyer, Taylor dan Horgan mengartikan fundamentalisme agama sebagai suatu ideologi yang berangkat dari latar belakang keyakinan agama yang kuat dan kehidupan agama yang dijalankan dengan sangat serius (Taylor & Horgan, 2001). Berangkat dari pemahaman tersebut, Altemeyer dan Hunsberger (1992) membuat alat ukur yang disebut dengan skala fundamentalisme agama (religious fundamentalisme scale/RFS). Beberapa penelitian dengan mayoritas sampel agama Kristen, RFS menunjukkan hubungan yang kuat terhadap prasangka pada ras maupun etnis   (Smith, Stones, Peck, & Naidoo, 2007) prasangka terhadap agama yang berbeda (Altemeyer, 2003; lihat juga Raiya, Pargament, Mahoney, & Trevino, 2008; Rowatt, Franklin, & Cotton, 2005), dan dukungan kekerasan terhadap homoseksual (Bizumic & Duckitt, 2007; Laythe, Finkel, & Kirkpatrick, 2001).

Meskipun RFS telah menunjukkan kekonsistenannya dalam menguji hubungan fundamentalisme agama dengan prasangka menurut Hood, Hill, dan Williamson (2005) pemaparan Altemeyer dan Hunsberger mengenai penjelasan fundamentalisme agama perlu dikoreksi dan dikembangkan. Menurut Hood dkk (2005), hal mendasar dari fundamentalisme agama tidak sekedar keyakinan yang kuat tetapi bagaimana keyakinan tersebut dimaknai dan dipahami. Pemaknaan dan pemahaman ini terkait erat dengan bagaimana seseorang menempatkan, menggali, dan mempelajari kitab sucinya. Fundamentalis agama cenderung memahami kitab suci secara literal dan tertutup untuk didiskusikan dan dinegosiasikan pada kitab lain. Model pemahaman kitab suci ini oleh Hood dkk disebut dengan intratekstual yang berlawanan dengan model intertekstual yaitu bentuk pemahaman Al qur’an yang terbuka untuk didiskusikan dan ditafsirkan.

Kitab suci sebagai dasar ajaran biasanya oleh fundamentalis agama digunakan untuk memahami dirinya dan untuk memahami seluruh yang ada, yang sifatnya mutlak dan tidak berubah. Mereka yakin bahwa isi kitab suci adalah suatu yang dipastikan benar dan akurat sifat kebenarannya. Berdasarkan penjelasan tersebut, Hood dkk (2005) Berkesimpulan bahwa untuk mengukur Fundamentalisme agama intinya ada pada pemahaman mereka mengenai kitab suci. Untuk mengakomodasi idenya ini dan mengujinya secara empiris, Hood dkk (2005) pun membuat alat ukur skala intratekstual fundamentalisme (Intratekstual Fundamentalism Scale/IFS).

Pertanyaan yang muncul setelah membaca keterangan Hood dkk adalah apakah alat ukur yang dikembangkan oleh Hood dkk akan cocok diukur pada agama Islam? Jika mengamati konsep Fundamentalisme agama dan memahaminya secara khusus, maka alat ukur IFS yang dikembangkan oleh Hood dkk, akan bermasalah ketika diuji pada agama Islam. Dasar Islam tidak hanya berasal dari kitab suci Al-qur’an tetapi juga pada As sunnah yang merekam segala perbuatan dan ucapan Muhammad, dan pola pengajaran atau pemahaman yang diberikan (Lewis, 1993). Menurut Taylor dan Horgan (2001), beberapa pemahaman yang khas dimiliki fundamentalisme Islam adalah; 1) Islam merupakan agama yang universal. 2) ajarannya dapat menjelaskan dan menyelesaikan segala aspek kehidupan. 3) memiliki hukum dan aturan yang jelas. 4) Muhammad telah memberikan contoh pemerintahan yang baik di Madina, atau biasa disebut sebagai jaman keemasan Islam (Taylor & Horgan, 2002). Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kerangka konseptual yang dikembangkan oleh Hood dkk belum dapat mengukur fundamentalisme Islam yang sebenarnya. Penelitian ini berupaya untuk mengadaptasi dan memodifikasi alat ukur fundamentalisme agama Altemeyer dan Hunsberger (1992; 2004), Hood dkk, dan mengembangkannya menjadi sebuah alat ukur fundamentalisme Islam berdasarkan penjelasan Lewis (1993), Taylor dan Horgan (2001). Setelah skala pengukuran fundamentalisme Islam terbentuk, alat tersebut akan diuji keterkaitannya dengan Prasangka.

 *versi lengkap  artikel ilmiah ini dimuat di Jurnal Psikobuana. Vol. 1 No. 3,  2010

alamat redaksi: jl. meruya selatan, kembangan

situs: http://psikobuana.com

email: penyunting@psikobuana.com

tlp: 0215840816, 02131137627

Comments
  1. rahma says:

    punya info ga tenatng skala ROS yang udah di adaptasi ke B. Indonesia? kalo ada tolong kirim info’a ya ke email aku… makasih..

    • idhamputra says:

      ROS itu maksudnya religious orientations scale? kalau maksudnya itu, di fakultas psikologi UI telah banyak yang menerjemahkannya.bahkan orientations scale yang quest pun juga telah ada. silahkan saja datang ke perpustakaan fakultas psikologi UI. cari skripsi atau tesis yang bertema orientasi agama/keberagamaan
      semoga info ini dapat membantu

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s