Fundamentalisme Agama (2)

Posted: August 1, 2009 in seputar ilmu sosial

4. Sistem Makna Fundamentalisme Agama

Bagi Hood dkk. (2005), mereka yang berciri fundamentalisme agama atau tidak, dapat dilihat kejelasannya dilihat sistem maknanya. Walaupun mereka berasal dari agama yang sama, menggunakan kitab yang sama, tapi dalam kalangan umat beragama, mereka bisa saja  memiliki sistem makna yang berbeda.

Sistem makna adalah suatu sistem yang berasal dari kumpulan sistem keyakinan (belief) berupa (1) keyakinan yang lain dan situasi, dan (2) keyakinan tentang diri. Dimana sebenarnya kedua sistem keyakinan  tersebut sangat diperlukan ada dalam bidangnya masing-masing, seperti yang dijelaskan oleh Hood dkk. (2005):

“A meaning system can be thought of as a group of beliefs or theories about reality that includes both a world theory (beliefe about others and situations) and self theory (beliefs about the self), with connecting propositions between the two sets of beliefs that are important in terms of overall functioning”.(Hood dkk., 2005)

Hood dkk. (2005) berpendapat kalau sistem makna dapat membantu individu dalam membentuk tujuan, meregulasi tingkahlaku dan pengalaman, merencanakan aktivitas, memahami langsung tujuan hidup, dan membentuk evaluasi diri terhadap pengalaman yang diperolehnya.

Makna diri hadir tidak dan bisa lepas dari hubungan individu dengan keberadaan lingkungan sekitarnya. Sebenarnya sistem makna itu bisa dikatakan sebagai suatu struktur sentral yang membentuk komponen kognitif, motivasi, serta afeksi dalam melihat realitas keberadaan diri dengan yang lainnya, sebagaimana Wong memberikan argumen:

“…The personal meaning system comprises the categories (conceptual schemes) used for self and life interpretation. It is a cognitive-affective network containing person directed and environment-directed motivational cognitions and understandings, like goal concept and behaviour plans, concetions of character and compentencies, of internal process and mecahanisms, various kinds of standards and self-appraisals (Wong, 1998, dalam Hood dkk., 2005)

Pada tiap agama  ada ajaran yang menerangkan tentang pedoman menjalankan kehidupan, serta tujuan yang harus dicapai dalam kehidupan. Hakikatnya manusia selalu mencari makna dari keberadaannya di dunia (Jung, 1958,) dan terus memberikan makna sepanjang hidupnya (Frankl, 1963, dalam Hood dkk., 2005). Dari agama manusia mendapatkan jawaban tentang kehidupan yang harus dijalaninya.

Karena agama dapat memberikan jawaban tentang kehidupan yang harus dijalani, agama pun sering dijadikan sebagai sistem makna primer bagi banyak kalangan. Namun demikian, selain agama memberikan jawaban aturan tentang kehidupan, agama pun memberkan aturan tentang larangan kehidupan yang harus dijalani. Bagi mereka yang melanggar aturan yang telah ditetapkan agama, maka ada hukuman bagi mereka yang melanggar (dalam Hood dkk., 2005).

Sebenarnya, sistem makna bisa berasal dari mana saja, seperti agama, kelompok, budaya, adat istiadat, nasional, wilayah, ras, dan sebagainya. Sistem makna menyediakan suatu pedoman kehidupan yang bisa berupa cara, peraturan, nilai, etika, dll.. Namun buat Clark (dalam Hood dkk., 2005), mereka lebih memilih sistem maknanya lewat agama karena menurut mereka agama memberikan pedoman yang lebih jelas tentang makna hidup manusia daripada yang lainnya (Hood dkk, 2005). Bahkan buat fundamentalis agama hanya ada satu jalan kebenaran dalam menemukan makna. Bagaimana seseoarang mencari makna dalam hidupnya, seperti bekerja kreatif, hubungan personal, mendapatkan anak, pertumbahan personal, karir yang cemerlang, dll, hanya bisa dimaknai jika diinterpretasikan dan dilegitimasikan melalui kitab suci. Jadi bagi fundamentalis agama, kitab suci adalah satu-satunya sumber makna yang otoritatif yang bisa menjawab pertanyaan tentang kehidupan (Hood dkk., 2005).

Untuk melihat kitab suci yang dijadikan sebagai satu-satunya sumber oleh fundamentalis agama, kita dapat melihat dari bagaimana cara para fundamentalis agama mempersepsikan dunia dan menjalankan suatu kehidupannya. Dalam pedoman mereka, makna hidup tidak sekadar memberikan gambaran serta cara menjalankannya saja,  tetapi di dalamnya juga ada bentuk pelarangan. Di balik semua itu, dalam agama pun ada suatu perintah ketaatan bagi setiap individu untuk menjalani perintah agama dengan benar. Jika tidak menjalaninya, maka ada bentuk-bentuk hukuman yang diberikan sesuai dengan kesalahannya. Konsep makna hidup berikut ketaatan dan larangannya ini harus diterima mentah-mentah dan ikhlas karena hal tersebut diberikan dari Tuhan Yang Maha Mengetahui (Hood dkk., 2005).

Bagi fundamentalis agama, agama adalah jalan hidup yang harus dijalankan dengan total. Seorang Fundamentalis pun tidak bisa dikatakan sebagai orang yang berpikiran tertutup, melainkan mereka lebih bisa dikatakan mempertimbangkan segala pengetahuan melalui kitab suci, pengetahuan ini bisa diterima atau tidak, lewat hal tersebutlah mereka memaknakan kehidupan mereka serta menggunakan kitab suci sebagai tuntunan  (Baumester, 1991, dalam Hood dkk., 2005).

Dalam perpekstif pencarian makna dan ke-imanan, bagi fundamentalis agama yang terpenting adalah Iman dahulu, setelah itu manusia dapat menemukan makna hidupnya. Menurut mereka, keimanan adalah makna yang paling utama akan keberadaan manusia sehingga seluruh peristiwa harus diartikan kembali kejadiannya lewat iman. Dalam struktur keimanan inilah, fundamentalis agama mencoba melihat dunia yang berpedoman pada kitab suci yang lalu disesuaikan antara keadaan dunianya dengan gambaran kitab suci tentang dunia yang seharusnya. Jika tidak ada koherensi di antara keduanya, maka keadaan dunialah yang harus disesuaikan dengan apa yang diceritakan dalam kitab mereka (Hood dkk., 2005). Dalam sumber kitab suci itu pulalah, sebenarnya kebutuhan akan makna hidup yang dicari fundamentalis agama bisa terjawab.

Setidaknya dalam Hood dkk., (2005) ada empat penjelasan mengapa agama dijadikan sebagai sumber sistem makna: 1. karena agama merupakan sistem komprehensif yang menjelaskan tentang hubungan makna lainnya seperti kreatifitas, hubungan personal, keberhasilan, kerja, nilai, hidup ideal, dll,  dibandingkan dengan sistem makna lainnya. 2. agama pun bisa dijadikan sebagai dasar  melihat dunia dan memandang dunia (world-view). 3. agama juga tidak hanya memberikan keterangan tentang kehidupan saat ini, tetapi juga setelahnya dan kehidupan yang bersifat transenden. 4.  agama pun secara langsung memberi tahukan lewat penyampainya atau utusannya kalau dia adalah jalan yang harus diikuti, karena dia adalah kebenaran, “I am the way, the truth, and the life: no man cometh unto Fater, but by me” (dalam ,, Hood dkk., 2005).

Sistem makna pun, menurut Hood dkk., (2005) bisa diukur lewat tiga pengamatan yaitu dilihat dari (1) kesatuan filosofi hidupnya, dilihat dari worldview-nya (pandangan dunia), (2) koherensinya dengan worldview, (3) lalu kebutuhan akan maknanya (personal need for meaning). Tidak sampai di situ saja, menurut Baumesiter (1991, dalam Hood dkk., 2005), setidaknya ada empat faktor yang saling melengkapi ketika hendak mengetahui kebutuhan akan makna personal, yaitu: Tujuan (Purpose), Nilai (Value), Manfaat (efficacy), dan harga diri (self-worth). Mengapa keempat faktor tersebut saling terkait erat, karena manusia pun membutuhkan jaminan kebenaran dan keuntungan dari sumber yang akan mereka jadikan pedoman.

5. Faktor Dalam Fundamentalisme Agama

Seperti yang Baumeister (1991, dalam Hood dkk., 2005) ungkapkan bahwa ada empat faktor yang saling melengkapi kebutuhan akan makna hidup seseorang.  Empak faktor tersebut juga tampak di kalangan fundamentalisme agama. Penjelasan empat faktor yang saling terkait, tujuan (purpose), nilai (value), manfaat (efficacy), dan harga diri (self-worth) adalah sebagai berikut:

Tujuan (Purpose)

Sifat manusia adalah pencari dari tujuan keberadaan dia, dan dengan demikian dia bisa mengerti apa yang akan dia lakukan kedepanya. Kondisi kejadian yang terjadi (seperti kecelakaan) pun bisa saja selalu dia pertanyakan maksud dari kejadian tersebut.

Menurut fundamentalis agama, Tuhan adalah sumber yang paling dapat dipercaya untuk menjelaskan maksud dan tujuan manusia diciptakan. Tuhan adalah Sang Pencipta dan Dia pula yang menciptakan manusia sehingga Dia pasti tahu mengapa manusia diciptakan. Karena Tuhan adalah sang pencipta, maka ketika memandang dunia pun, manusia memahami hanya bisa lewat kitab suci. Menurut fundamentalis agama tidak ada yang paling mengetahui semua kejadian ini selain Tuhan. Seperti ungkapan yang sering mereka sebut “I know what the future holds, but I don’t know who hold the future”.

Adalah suatu kesia-siaan buat manusia ketika dia berupaya untuk mencari jawaban atas tujuan keberadaanya lewat pikirannya sendiri atau lewat pengalamannya, karena bagi Fundamentalis sang penciptalah yang lebih mengetahui tujuan dari semua penciptaan ini. Oleh sebab itu kitab suci diturunkan oleh Tuhan untuk manusia agar bisa memandang dunia dan dirinya. Jadi tidak ada gunanya manusia berupaya memandang dunia dan membangun pandangannnya sendiri, sementara Tuhan yang Maha Mengetahui telah memberikan pedoman baginya dalam memandang dunia dan dirinya.

Tidak hanya penjelasan tentang kehidupan yang nyata, kitab suci sebagai sumber tujuan manusia diciptakan juga memberikan informasi bahwa tujuan kehidupan manusia di dunia bukanlah akhir dari kehidupannya. Setelah kehidupan di dunia, fundamentalis agama memahami adanya kehidupan lainnya di akhirat. Dalam kitab suci,  bahkan diterangkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia bukanlah di dunia melainkan hidup abadi di akhirat. Kehidupan di dunia juga dipahami sebagai tangga pencapaian dalam menapaki kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Dengan demikian  bagi fundamentalis agama, kitab suci memberikan penjelasan yang pasti tentang tujuan sejati kehidupan manusia, yaitu untuk hidup abadi di akhirat.

Nilai

Setelah mengetahui sumber yang dapat dijadikan pedoman dalam mengetahui makna dari kehidupannya. Nilai dari keberadaan sumber yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan juga mesti diperhitungkan keakuratan kebenarannya ketika dibandingkan dengan tiap-tiap pedoman yang ada.

Karena sumber tentang tujuan hidup yang dipakai oleh fundamentalis agama adalah sumber dari Tuhan, maka sifat dari sumber nilai tersebut adalah benar dan absolut. Bahkan menurut mereka, hal tersebut tidak perlu diperbandingkan lagi dengan yang lain. Bagi fundamentalis agama, sudah bisa dipastikan pula bahwa kitab suci bisa menjawab seluruh permasalahan kehidupan seperti masalah alkohol, narkoba, aborsi, tingkah laku sosial dan lain-lain.

Sebagai contoh, dikemukakan dalam kitab suci bahwa homoseksual dilarang. Maka sampai kapan pun perilaku homoseksual tidaklah dibenarkan, karena perilaku tersebut telah menyimpang dari kitab suci. Sifat dari kitab suci pun menjadi sifat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bagi fundamentalis agama, keputusan Tuhan adalah keputusan yang terbaik untuk manusia yang juga tidak bisa ditawar lagi. Perilaku yang benar adalah perlaku yang sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam kitab suci.

Manfaat (efficacy)

Kalau segala sumber kehidupan dan nilai telah dapat diketahui lalu apa manfaat yang ditawarkan dari masing-masing mereka? Apa manfaat yang diberikan kalau manusia berupaya mengikuti jalan Tuhan dan tidak keluar dari jalurnya? Lalu bagaimana dengan manfaat jalan yang selain jalan Tuhan, manakah yang lebih bermanfaat?

Fundamentalis agama menganggap kalau jalan Tuhan yang diikuti, jika mereka berperang di jalan Tuhan, maka jaminannya adalah kemenangan. Bila di jaman ini belum didapati juga kemenangan itu, fundamentalis agama tidak mengkhawatirkannya karena Tuhan pasti akan memberikan kemenangan setelah mereka mati. Jaminan dari mereka yang berperang adalah bahwa “mereka tidak perlu khawatir untuk itu, karena mereka akan bersanding bersama Tuhan tinggal di Surga”. Pandangan inilah yang biasa disandang oleh fundamentalis agama.

Menurut fundamentalis agama, jika hidup ini dipandang sudah bergelimang dosa dan dikelilingi kejahatan, maka sebagai hamba Tuhan sudah menjadi tugasnyalah untuk meluruskan kembali ke jalan Tuhan agar hidup menjadi tentram. Kalau keadaan dunia modern dipandang sudah keluar dari apa yang diterangkan Tuhan dalam kitabnya, maka kewajiban manusialah untuk memeranginya supaya dunia ini terselamatkan. Dalam peperangan, apa pun yang terjadi, jika mereka meyakini kitab sucinya dan merasa telah menjalaninya dengan baik, yang terjadi merupakan hal yang terbaik buat mereka karena Tuhan lebih mengetahui mana yang baik buatnya dan mana yang tidak baik.

Bahkan ada dari kalangan kelompok Fundamentalis yang menyerahkan segala penyakit hanya lewat penyembuhan melalui wahyu tanpa pengobatan medis. Mereka percaya kepada keajaiban Tuhan karena mereka telah mengagungkan ayat-ayat-Nya. Kelak jika kesembuhan tidak kunjung datang juga, bagi mereka apa yang didapatinya saat itu adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan karena Tuhan tahu mana yang baik buat mereka (Hood dkk., 2005).

Hukum Tuhan adalah yang terbaik dan tidak mungkin salah. Makanya kebaikan akan didapati kalau semua orang mengikuti jalan Tuhan. Sebab itu, fundamentalis agama selalu berusaha untuk membentuk pemerintahan yang theokratis karena buatnya itulah yang terbaik dan tak pernah salah. Hanya dengan mengikuti hukum Tuhanlah kebaikan akan datang.

Harga Diri (Self-Worth)

Sumber makna, menurut Baumesiter (1991. dalam Hood dkk., 2005 pun juga akan ikut memberikan peningkatan harga diri. Ini disebabkan oleh bobot atau seberapa kuat sumber makna tersebut bisa memberikan keuntungan dalam dirinya dalam memandang kehidupan.

Dalam banyak kitab suci banyak dijelaskan “karena manusia dapat mengenal perbedaan dan dapat memahami keberadaannya, maka dibandingkan dengan mahluk lainnya manusia dianggap mahluk yang lebih unggul dan menguasai mereka”. Di dalam agama, khususnya agama semit (Islam, Kristen, Yahudi) juga diterangkan hal tersebut, tidak hanya dengan manusia dengan makhluk lainnya, sesama manusia pun ada pembagian status orang yang diberikan petunjuk dengan yang tidak, orang baik dengan orang yang jahat.

Menurut fundamentalis agama, mereka yang paling berharga di antara manusia lainnya adalah mereka yang telah menjalankan sesuatu ini berdasarkan pedoman Tuhan. Dan mereka yang menjalankan suatu kehidupan tanpa berpedoman pada kitab suci tidak memiliki harga lagi dan tidak memiliki pengharapan lagi. Untuk itulah, fundamentalis agama berusaha menyadarkan manusia untuk kembali ke jalan Tuhan, supaya mereka menjadi sesuatu yang berharga (dalam Hood dkk., 2005).

Bagi fundamentalis agama, memang sudah sepantasnya mereka yang menjalani sesuatu berdasarkan pada pedoman Tuhan yang berdiri paling tinggi daripada pedoman lainnya. Hal ini dikarenakan tidak ada yang lebih agung selain Tuhan itu sendiri dan dia itu adalah yang Maha Agung, jadi bisakah pedoman Tuhan diperbandingkan dengan pedoman lainnya?

Jika dilihat dari pemahaman fundamentalis agama ini, maka sulit untuk dipungkiri atas apa yang mereka lakukan dengan keraguan. Bagaimana tidak, sesuatu yang mereka lakukan (fundamentalis agama) adalah untuk mengajak manusia kepada posisinya yang mulia di antara makhluk lainnya dengan pedoman yang telah diturunkan Tuhan untuk dijalani. Apakah mengajak manusia kepada sesuatu kemuliaan adalah suatu hal yang tidak mulia? Justru mereka yang mengajak yang demikian itu adalah orang-orang yang termulia di antara manusia lainnya, itulah argumen dari fundamentalis agama atas sesuatu hal yang telah mereka lakukan saat ini. Apalagi dengan ada jaminan surga bagi mereka yang berperang di jalan Tuhan, maka kematian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu hal yang mesti ditakuti, kalaupun mereka mati jaminannya surga. “Jadi tidak perlu takut, mereka yang mati di jalan Tuhan, mereka itu tetap hidup disisi Tuhan sebagai mahkluk yang  memiliki kemulian tinggi”.

Comments
  1. Izin share ya buat anak2 Fisip di banda aceh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s