Fundamentalisme Agama (1)

Posted: August 1, 2009 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , ,

1. Sejarah dan Perdebatan tentang Fundamentalisme

Istilah Fundamentalisme biasanya dipahami sebagai suatu paham yang berasal dari pemahaman agama. Istilah ini bermula dari sebuahh buku berjudul “the  Fundamentals” pada tahun 1915 (dalam Summers, 2006). Fundamentalisme merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap pengaruh Modernisme dengan mengembalikan Protestantisme kapada keyakinan yang sesungguhnya. Hal ini tidak berarti Fundamentalisme diartikan sama dengan keberadaan gereja Protestan, Fundamentalisme di sini adalah suatu bentuk manifestasi umat Protestan yang menyikapi Modernisme sebagai bentuk ancaman bagi ajaran Protestan.

Dalam penjelasan “The Fundamentals” tentang fundamentalis, Summers (2006) mengartikan arti awal Fundamentalisme sebagai tujuan untuk mengembalikan agama kepada bentuk dan prinsip asal muasalnya. Implikasi ini juga menyentuh wilayah keimanan yang juga dianggap telah menyimpang dari konsep dasarnya sehingga kehilangan hubungan dengan makna yang sesungguhnya dari alkitab. Dalam menjalankan segala kehidupan yang ada, manusia menurut mereka tidak boleh keluar dari apa yang ada dalam kitab suci. Para fundamentalis biasanya mengarahkan perlawanannya kepada Modernisme yang bersifat sekuler.

Istilah Fundamentalisme awalnya memang ditujukan pada umat Protestan yang mengadakan perlawanan terhadap Modernisme. Namun, setelah peristiwa runtuhnya gedung WTC pada 11-September-2001, media-media di Amerika telah mempersempit arti kata Fundamentalisme, yakni merujuk kepada kelompok militan dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Asia Tengah. Terlebih lagi, banyak orang Amerika yang menganalogikan arti Fundamentalisme dengan kata Muslim yang kemudian diasosiasikan dengan terorisme (Volkan, 2005).

Jadi, dalam terminologi apa sebenarnya istliah Fundamentalisme itu layak disebutkan? Apakah kelompok fundamentalis Kristen itu sama dengan fundamentalis Islam? Lalu apakah kelompok tradisionalis agama itu dapat juga disamakan dengan  kelompok fundamentalis agama? Dalam hal ini banyak pemikir kajian agama (baik Kristen maupun Islam) berdebat tentang istilah Fundamentalisme.

Dalam Perpekstif Islam, Nasr (1994) membedakan dua karkater Islam, yakni antara karakter tradisional dengan pseudo-tradisional. Pseudo-tradisional diidentifikasikan oleh Nasr sebagai Fundamentalisme. Menurut pendapatnya, Islam tradisional itu adalah anggapan yang mewajibkan dipertahankannya Syari’ah sebagai hukum Illahi sebagaimana ia dipahami dan diartikan selama berabad-abad yang terkristalkan dalam madzhab-madzhab hukum klasik. Namun demikian, Islam tradisional menerima kemungkinan memberikan pandangan-pandangan baru yang berdasarkan prinsip-prinsip dari suatu ketentuan, seperti halnya Ijtihad, dan juga memanfaatkan alat-alat penerapan hukum lain ke dalam situasi-situasi yang baru muncul. Bahkan Tradisionalisme juga tidak mengabaikan oposisi yang ada di antara representasi pemikiran-pemikiran Islam yang keluar.

Dalam sejarah, sebenarnya tradisi Islam  tidaklah berkembang secara tunggal tetapi memiliki berbagai macam corak tradisi. Keanekaragaman corak tradisi ini timbul di segala bidang dari segi fiqih sampai kepada pola pemerintahan, dari bentuk pemikiran sampai bentuk doktrin. Meskipun demikian, mereka tetap bertitik tolak dari suatu akar yang sama, yaitu al-Qur’an dan Hadis (Nasr, 1994). Karenanya, buat Nasr tradisi Islam itu mirip sebuah pohon yang akar-akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat Illahi dan darinya tumbuh batang dan cabang sepanjang jaman. Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus, langgeng dan tetap, kebijaksanaan yang abadi, dan penerapan yang berkesinambungan dengan prinsip-prinsipnya terhadap berbagai situasi ruang dan waktu. Menurut Nasr (1994), Tradisionalisme dalam Islam itu merujuk pada corak keberagamaan yang juga menerima pluralisme mengenai perbedaan penafsiran. Inilah yang oleh Nasr sebut sebagai tradisi dalam Islam.

Hal ini berbeda dengan para fundamentalis yang mengagungkan satu-kesatuan penafsiran yang menganggap bahwa penafsiran kelompoknyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Fundamentalis mengklaim dirinya berupaya mengembalikan Islam kepada kemurniannya yang asli. Faktanya, mereka para fundamentalis justru menimbulkan sesuatu yang sangat berbeda dari Islam tradisional yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan telah bertahan hidup serta tumbuh seperti pohon abadi selama empat belas abad sejak Hijrah Nabi ke Madinah. Islam tradisional menerima perbedaan corak pemikiran sebagai suatu rahmat, namun fundamentalis sama sekali tidak menerima perbedaan pemikiran dalam Islam.

Kuzzman (2001) mensinonimkan Islam fundamentalis dengan bentuk Islam revivalis, yaitu gerakan pemurnian Islam. Bagi para revivalis, Islam saat ini sudah banyak dikotori oleh bid’ah-bid’ah dan penafsiran-penafsiran yang sama sekali keluar dari al-Qur’an. Menurut mereka tiada hukum selain hukum Tuhan. Gerakan revivalis pun menolak adat dan mereka hanya ingin menerima Islam secara murni.

Berbeda dengan Nasr yang membedakan tradisonal dengan pesudo-tradisional sebagai sebutan untuk fundamentalisme Islam, dalam tradisi Kristen, Segady (2006) justru melihat Fundamentalisme merupakan bagian dari tradisionalis itu sendiri. Serupa dengan tradisionalis, fundamentalis adalah mereka yang juga berpedoman pada kitab suci Injil dalam menjalankan kehidupannya, serta mereka yang percaya kalau kasih Tuhan akan selalu hadir dalam diri mereka yang mengabdi padanya. Perbedaannya, penganut fundamentalis adalah mereka, para tradisioanalis, yang bereaksi terhadap modernisme. Jadi dapat dipahami di sini, bahwa Segady memisahkan antara tradisionalis yang berperilaku pasif dengan Modernisme dan ada yang berperilaku aktif dalam menyikapi Modernisme.

Reaksi para fundamentalis Kristen terhadap Modernisme melahirkan lima doktrin Fundamentalisme, yaitu:

  1. Kebenaran mutlak dan tiadanya kesalahan pada kitab suci Injil (Holy Bible).
  2. Kelahiran Jesus dari Ibu Maria yang suci (Perawan)
  3. Penebusan dosa umat manusia oleh Jesus
  4. Kebangkitan Jesus kembali secara jasmaniah yang turun ke bumi
  5. Ketuhanan Jesus Kristus (Rahardjo, 1999)

Selanjutnya, lewat 5 butir doktrin fundamentalis tersebut, mereka pun mencoba untuk melawan arus pemikiran liberal yang mengacu kepada pemikiran ilmiah yang mendasarkan diri pada penalaran arus sekulerisme.

2. Arti Universal dari Fundamentalisme

Pola pandang yang diambil oleh Nasr (1994) dan Segady (1994) tentang Fundamentalisme tentu saja akan berbeda karena mereka melihat keberadaan Fundamentalisme dari agama yang berbeda. Nasr memandang lewat Islam sedangkan Segady memandang lewat Kristen. Dari uraian Segady dan Nasr, serta penjelasan tentang Fundamentalisme sebelumnya, setidaknya ada keserupaan ciri pada masing-masing mereka yang disebut sebagai fundamentalis. Kelompok fundamentalis menafsirkan seluruh doktrin yang dianut agamanya adalah universal dan berlaku tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Para Fundamentalis biasanya lebih mementingkan ketaatan mutlak kepada Tuhan dan keyakinan bahwa Tuhan telah mewahyukan kehendak-kehendak-Nya secara universal kepada manusia daripada keyakinan yang lainnya. Buat mereka, yang terpenting adalah iman dan bukan diskusi. Iman justru lebih membuat orang mengerti, dan bukan mengerti yang membuat mereka beriman. Mereka juga bersikap militan dalam menegakan agama, dan bukan memelihara semangat intelektualisme yang cenderung membuat orang tidak berbuat apa-apa (Rahardjo, 1999).

Bagi kalangan sosiolog agama (Rahardjo, 1999), ketika mencoba mengartikan Fundamentalisme secara umum, mereka pun mengartikan Fundamentalisme sebagai konservatisme yang agresif. Gejala ini, menurut mereka tidak hanya dapat dijumpai pada kalangan Kristen, melainkan juga Islam serta agama-agama lain. Namun menurut Rahardjo (1999), penggunaan istilah Fundamentalisme dalam analisisnya tetap perlu disesuaikan dengan ajaran masing-masing agama dan latar belakang sosialnya.

Carpenter (1997, dalam Hood dkk., 2005) mengartikan kata  Fundamentalisme sinonim dari sifat yang keras terhadap suatu pendirian, fanatisme, dan anti dengan intelektualitas. Menurut Hood dkk., (2005) Fundamentalisme biasa distereotipekan dengan pikiran yang sempit, tidak berpendidikan, memiliki status sosio-ekonomi yang rendah, dan sangat menyanjungkan dirinya. Fundamentalisme juga dikarakteristikkan dengan suatu perasaan memerangi sifat keterasingan dari kepungan kebudayaan yang bisa muncul di tengah-tengah kebudayaan yang dipengaruhi oleh paham keagamaan.  Bentuk dari Fundamentalisme ini pun biasanya didasari oleh suatu keyakinan bahwa teks yang dibawa oleh mereka adalah suatu yang dipastikan benar dan akurat sifat kebenarannya, yang sifatnya tidak bisa ditawar-tawar lagi terhadap pengartian teks tersebut.

3. Sistem dalam Fundamentalisme Agama

Rahardjo menyebutkan kalau sikap dari fundamentalisme agama adalah militan dan tidak memilihara sikap positif terhadap perkembangan intelektualitas. Dengan demikian, apakah fundamentalisme agama dapat terwakili hanya mereka yang anti Modernisme? Mereka yang disebut ekstremis? Mereka yang dicap teroris? Lalu, sikap individu seperti apa sebenarnya yang mendasari agar seseorang dapat dikatakan sebagai fundamentalis atau tidak?

Pada tahun 1992, Altmeyer dan Husberger membuat alat ukur Fundamentalisme. Ukuran yang diambil oleh Altemeyer dan Husberger dalam mengukur Fundamentalisme adalah lewat keyakinan agamanya, dengan mengukur tingkat sistem keyakinan (belief sistem). Bagi Altemeyer dan Husberger, fundamentalisme agama itu memiliki sistem keyakinan yang berbeda dengan sistem keyakinan penganut agama lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Altemeyer dan Husberger sebagai berikut:

“Fundamentalism scale is to measure the Belief that there is one set of religious teaching that clearly contains the fundamental. Basic intrinsic, essential, inerrant truth about humanity and deity; that this essential truth is fundamentally opposed by forces of evil which must be vigorously practice of the past; and that those who believe and follow these fundamental teachings have a special relationship with the deity. (Altemeyer & Husberger, 1992)

Mengacu pada alat ukur Fundamentalisme yang dibuat oleh Altemeyer dan Huseberger, Altemeyer pun melihat bahwa fundamentalisme agama merupakan sebuah manifestasi sifat otoritarian (RWA) keberagamaan (Altemeyer, 1996). Akan tetapi, menurut Altemeyer, fundamentalisme agama lebih cenderung memunculkan sifat pengikut yang otoritarian daripada menjadikannya pemimpin yang otoritarian.

Pada tahun 2001, skala Fundamentalisme yang dibuat oleh Altemeyer dan Husberger direvisi ulang oleh mereka. Hal ini dilakukan karena ternyata skala Fundamentalisme banyak terkandung skala kebenaran satu agama. Sebagaimana yang yang ditulis oleh altemeyer tentang revisi skala Fundamentalismenya:

“at least half of its items involve the “one true Religion” theme as, of all the people on this earth, one group has a special relationship with God because it believes the most in his revealed truths and tries hardest to follow ahis laws, “and” No ane religion is specially clos to God, Nor does God favor any particular group of believers” (Altemeyer, 2001)

Sejalan dengan revisi yang dibangun oleh Altemeyer (2001), pada tahun 2005, Hood, Hill, dan Williamson menyatakan kalau sistem keyakinan yang dapat mengenali mereka sebagai fundamentalisme agama tidak hanya sistem keyakinan tentang diri sendiri melainkan juga sistem keyakinan tentang yang lain (memandang yang lain) (Hood dkk., 2005). Kumpulan dari sistem keyakinan ini mereka sebut dengan sistem makna (meaning system).

Sistem makna, menurut Hood dkk., (2005) terbangun dari pemahaman para Fundamentalis terhadap kitab sucinya secara intratekstual. Pemahaman kitab suci dengan intratekstual adalah mereka yang menganggap kitab sucinya adalah sesuatu yang sakral dan tidak dapat diperdebatkan serta dinegosiasikan lagi dengan kebenaran lainnya. Menurut fundamentalisme agama, jika ada sesuatu yang bertentangan antara kitab suci dengan suatu penemuan-penemuan empiris, maka yang salah adalah penemuan baru tersebut bukanlah kitab sucinya. Oleh sebab itu, yang harus dibenarkan adalah penemuan baru tersebut, bukan kitab suci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s