Jalan Menuju Indegenous Psychology

Posted: May 15, 2009 in seputar ilmu sosial
Tags: , , ,

Mempelajari psikologi seperti tingkah laku, pola pikir, makna, dan nilai haruslah mempertimbangkan budaya (Cole, 1990; Ratner, 2002; Kim, 2006). Bahkan tokoh seperti J.G. Miller (1999; Markus & Hamedani, 2007) mengatakan bahwa psikologi merupakan masalah budaya. Budaya sebagai bentuk hasil karya manusia merupakan sesuatu yang mengontrol dan membentuk pola-pola bagaimana manusia itu berpikir dan bertingkahlaku.

Budaya sendiri merupakan suatu hal yang memiliki banyak arti. Kroeber dan Klucholm (1952) setidaknya mengelompokkan enam definisi budaya; 1) definisi deskriptif. Yaitu totalitas yang mencakup banyak bidang dan unsur seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moralitas, adat kebiasaan dan kemampuanserta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. 2) definisi historis. Aitu suatu warisan yang diteruskan sepanjang waktu dari satu generasi kegenarasi yang lain. 3) definisi normatif. Yaitu suatu aturan atau cara hidup yang membentuk pola perilaku dan tindakan, yang kerapkali dilihat sebagai suatu sistem nilai. 4) Definisi psikologis. Yaitu sebagai sarana memecahkan persoalan yg memungkinkan masyarakat berkomunikasi, mempelajari atau memenuhi kebutuhan materiil dan emosional. 5) Definisi struktural. Yaitu melihat kebidayaan sebagai antarrelasi aspek-aspek kebudayaan yg teroganisir. Kebudayaan dilihat sebagai abstraksi yang berbeda dari perilaku yang kongrit. 6) Definisi genetik. Merumuskan cara bagaimana kebudayaan timbul dan berlansung.

Dari keenam definisi kebudayaan menurut Kroeber dan Klucholm tersebut, oleh R. Williams, istilah kebudayaan kemudiam dipersempit menjadi tiga yaitu: 1) Mengacu pada makna seperti perkembangan inteletual, spiritual, dan estetik dari seorang individu, kelompok atau masyarakat. 2) Mengacu pada produk (artifacts) seperti pada serangkaian kegiatan intelektual, artistik dan produk kegiatan itu seperti film, seni, teater, atau bangunan. 3) mengacu pada praktek yaitu melukiskan keseluruhan cara hidup, aktivitas, kepercayaan dan adat kebiasaan (Williams, 2002; Markus & Hamedani, 2007). Serangkaian makna, praktek (aktivitas), dan produk ini bukanlah hasil dari individu (langsung) tetapi hasil dari individu-individu yang berinteraksi, berkumpul, dan saling berbagi mengenai suatu hal atau permasalahan. Mengacu pada pemahaman tersebut, pemaknaan, nilai, cara, dan bertingkahlaku nya manusia pada tiap-tiap budaya akan berbeda ataupun sama tergantung pada pola komunikasi, interaksi, cara, dan memahami suatu keadaan sosial.

Menurut Kim (2006), General Psychology memahami manusia dengan tidak mempertimbangkan konteks dan dinamika perubahan, serta meyakini prinsip yang universal suatu respon dari stimulus tertentu adalah kegagalan dari psikolog Barat yang tidak dapat memahami manusia secara Holistik, atau manusia yang sesungguhnya. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku dan pola pikir manusia mesti melibatkan makna, nilai, keyakinan, dan konteks (keluarga, sosial, budaya, dan lingkungan) sehingga arti dari suatu pemahama atau tindakan dari konteks tertentu. Jika seorang Psikolog Amerika membaca suatu fenomena di Asia, dan memahami fenomena tersebut berdasarkan kacamata teori Amerika, maka psikolog tersebut tidak memahami apa-apa mengenai pemahaman orang asia, demikian Kim (2006) menegaskan

Berangkat dari keyakinan yang telah banyak muncul bahwa budaya adalah hasil dari kreasi manusia dan hasil kreasi manusia itu terikat dengan konteks, saat ini banyak tokoh-tokoh psikologi yang mulai mempelajari kaitan budaya dengan tingkahlaku (Markus & Hamdani, 2007). Kajian nya dapat berupa etic, yaitu menganalisis tingkahlaku yang menitik beratkan pada hal-hal yang universal atau prinsipil seperti semua manusia makan, atau semua manusia memerlukan hubungan yang intim. Analisis etic ini biasa dilakukan oleh psikolog-psikolog yang bergelut dibidang psikologi lintas-budaya. Analisis berikutnya dapat berupa Emic. Analisis ini memahami suatu hal yang berbeda berdasarakan keadaan budaya yang memang khusus, misalnya cara makan orang padang berbeda dengan cara makan orang barat, orag padang menggunakan tangan sementara orang barat menggunakan sendok (Hogg & Vaughan, 2006). Ketika seorang psikolog mencoba lebih menyelami salah satu budaya, misalnya ingin mendapatkan penjelasan kenapa orang padang makan dengan tangan, maka orang tersebut masuk ke dalam kategori psikologi budaya.

Salah tokoh yang melakukan penelitian lintas budaya adalah Hoftede. Hoftede mengkategorikan model budaya ke dalam 1) power distance, yaitu tingkat power yang tidak setara di dalam institusi dan kerja yang diterima secara wajar. 2) Uncertainty Avoidance. Pembentukan stabilitas dalam menghadapi ketidakpastian. 3) Masculinity-femininity. Menilai suatu budaya bertipe maskulin (menitik beratkan pada kesuksesan) atau feminin (menitikberatkan pada merawat atau harmonisasi). 4) Individualism-collectivism. Melihat suatu buadaya apakah lebih individualistik atau kolektivistik. Keempat kategori budaya ini kemudian diuji oleh Hoftede keberbagai negara.

Kim (2006) berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Hoftede, dalam psikologi lintas budaya nya telah terperagkap pada tautologis: psikologis dan tingkahlaku data digunakan demi mendefinisiskan dan mengkategorikan budaya untuk menjelaskan perbedaan individu dan budaya. Psikologi lintas budaya menganggap bahwa budaya merupakan variabel quasi-bebas dan budaya sebagai variabel terikat. Psikologi lintas budaya lalu ingin mencermati bagaimana budaya mempengaruhi tingkahlaku individu yang sebenarnya samasekali tidak mengetahui apa-apa atau terlalu dangkal sehigga gagal mengetahui makna yang sesungguhnya.

Tidak hanya analisis psikologi lintas budaya, psikolog-psikolog yang bergelut di psikologi budaya pun gagal memahami budaya dan tingkahlaku di dalam konteks yang sesungguhnya. Menurut Hwang (2005) psikologi budaya berangkat dari perbedaan untuk memahami manusia dan kebudayaan. Mereka meyakini akan kesatuan pikiran mansia tetapi dengan banyak mentalitas. Hal ini mengindikasikan bahwa pikiran manusia adalah sama tetapi berevolusi ke dalam mentalitas yang bebeda di dalam perbedaan sosial dan lingkungan.

Kegagalan dari teori-teori psikologi atau general psikologi ini mengantar Kim (2006) untuk memperkenalkan konsep psikologi Indegeneous. Indigeneous Psychology merupakan studi sains mengenai tingkahlaku manusia atau pikiran yang berasal dari native, yang bukan dibuat dari budaya lain, tetapi dibuat untuk budaya nya. Indigenous psychology menyokong pengujian pengetahuan, keahlian, dan keyakinan orang mengenai dirinya, serta kegunaannya di dalam konteks budaya tertentu. Model penelitiannya adalah pendekatan bottom-up dengan tujuan awal adalah pemahaman secara menyeluruh mengenai fungsi manusia di dalam konteks budaya (Kim, 2006). Contoh nya seperti kebutuhan dasar manusia. Maslow mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar manusia yang paling dasar adalah pemenuhan kebutuhan biologis (sex dan makan). Menurut Maslow, kebutuhan paling dasar ini umum pada manusia dan tidak terikat konteks. Argumentasi tersebut tentu saja harus diverivikasikan ulang ketika ingin diuji di dalam masyarakat Jawa. Menurut pemahaman orang Jawa kebutuhan paling dasar mereka adalah berkumpul atau bersama-sama keluarga. Perkataan orang Jawa seperti “mangan ora mangan asal kumpul” menjelasakan betapa bersama itu lebih penting daripada kelaparan itu sendiri . Dalam hal ini, indegeneous psychology mengajarkan para peneliti untuk tidak gegabah dalam mengambil kesimpulan penelitian.

Hal yang paling utama dalam penelitian indegeneous psychology adalah descriptive understanding. Pengamatan dan pengujian secara regular dapat dilakukan setelah teori terbentuk dari kontekteks yang sesungguhnya. Analisis deskriptif merupakan langakah awal penelitian indigenous psychology tetapi bukanlah merupakan akhir suatu penelitian.. karena jika demikian, penelitian tersebut kembali terjatuh kepada kedangkalan dan tidak memberikan perkembangan yang bermakna di dalam sains.

Jelas bahwa tujuan dari Indegeneous Psychology adalah untuk menciptakan suatu teori yang lebih rigid, sistematis, universal science yang secara teoritikal dan empirik dapat diverivikasikan. Misalnya penelitian mengenai rasa sedih. Rasa sedih tidak dapat dikatakan memliki korelasi terhadap depresi pada tiap-tiap budaya. Rasa sedih dikalangan penganut Budha jarang menjadi depresi karena rasa sedih sesuatu yang mesti dibagi, dipahami, dan diterima. Hal ini berbeda dari rasa sedih orang-orang Amerika. Rasa sedih orang Amerika dipahami sebagai suatu yang menyimpang yang kontradiktif dengan kebahagiaan kesuksesan, optimisme, atau kesenangan. Yang pada akhirnya menganggap rasa sedih sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan dan dibagi oleh sedikit orang (Ratner, 2002).

Indegeneous psychology pun menjadi sebuah alternative konsep dan pendekatan yang memberikan pencerahan ketika kemunculan-kemunculan teori-teori psikologi bersifat tidak universal. Indegeneous psychology sendiri akan gagal sebagai sebuah alternative pendekatan ketika teori yang dikembangkan oleh general psychology bersifat universal. Oleh indigenous psychology, fenomena psikologis akan ditelaah secara dalam sehingga dapat menemukan konsep, teori, dan metode yang pantas perihal fenomena itu. Kim menjelaskan bahwa ada tiga tipe pengetahuan yang perlu dipahami: 1) objektif, pengetahuan orang ketiga. Model ini bersifat analitis, semantic, dan pengetahuan yang menerangkan (declarative). Hal in merepresentasikan informasi yang berdasarkan suatu yang objektif dan impartial (tidak memihak). 2) interaktif, pengetahuan orang kedua. Model ini lebih menitik beratkan pada analisis wacana, dan merepresentasikan pengetahuan yang diperoleh melalui dialog, wacana dan wawancara yang berfokus kelompok. 3) subjektif, pengetahuan orang pertama. Model ini lebih menitik beratkan pada pengetahuan yang fenomenologis, episodic dan procedural. Hal ini merepresentasikan pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan menerangkan mengenai dirinya (the inner psychological world of a person). Penelitian ini dapat diperoleh melelui diary, wawancara, dan self-report. Tiga tipe ini mesti dipertyimbangkan dan digunakan ketika seorang psikologi ingin mengengetahuai fenomena psikogis dipahami dalam konteks yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, inti dari indigenous psychology adalah mencoba memberikan alternative lain kepada peneliti-peneliti yang berupaya memahamai fenomena psikologis yang sesuai di dalam konteks nya. Di Asia, khususnya Indonesia, potensi mengembangkan indigenous psychology ini amat besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s