Perilaku Belajar Sosial Manusia Gerobak

Posted: April 14, 2009 in seputar ilmu sosial
Tags: , , ,

Thomas Satriyanto & Idhamsyah Eka Putra

Abstrak

Penelitian ini mengetengahkan analisis teori belajar sosial terhadap perilaku manusia gerobak yang terjadi selama 1 – 2minggu menjelang lebaran dan memaparkan beberapa fakta yang diambil dari media masa dan data observasi yang penulis kumpulkan dalam bentuk wawancara. Data-data tersebut diformulasikan dan dibahas berdasarkan kajian teori belajar sosial. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa adanya proses belajar yang diambil oleh peminta-minta pengguna gerobak sehingga menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan tatkala bulan puasa tiba.

Kata kunci: Belajar sosial, observasi, belajar, imitasi, gerobak, kemiskinan

PENDAHULUAN

“Poverty consist not in decrease of one’s possessions, but in the increase of one’s greed” (Plato)

Manusia memiliki drive (dorongan) yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologisnya. Dorongan inilah yang menggerakkan perilaku dan dinamakan force (daya) (Sarwono, 2002). Kebanyakan perilaku sosial dikembangkan melalui proses pembentukan dorongan tingkat kedua ini. Dengan kata lain, tingkah laku setiap hari muncul karena dipelajari. Pada kasus, atau lebih tepatnya fakta, kelompok manusia gerobak (istilah ini sengaja disebutkan untuk menyebutkan identitas individu atau kelompok individu dan gerobaknya) memperlihatkan peningkatan jumlah gerobak dan manusia menjelang lebaran. Tentunya ada suatu dorongan yang membuat mereka berperilaku seperti itu. Penelitian ini berupaya menjawab masalah kemunculan Manusia Gerobak yang meningkat saat bula puasa tiba.

Menelusuri Ikhwal Manusia Gerobak

Dalam suatu masyarakat yang sedang berkembang, terdapat proses interaksi antar struktur kelompok dan juga pribadi. Proses ini berjalan terus dalam tata laku sosial yang memungkinkan setiap individu merespon sesuai dengan tingkat kebutuhannya masing-masing. Urbanisasi adalah bentuk global yang berupa pergerakan manusia menuju tempat-tempat yang diyakini mampu memenuhi kebutuhannya tersebut.

Di sisi tertentu, kemiskinan yang bersifat struktural memunculkan kelas-kelas masyarakat yang baru. Tidak semua orang miskin benar-benar miskin. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 60 juta jiwa yang hidup dengan pendapatan kurang dari US $2 per hari. Mungkin data ini terlihat naif karena pada kenyataannya cukup banyak yang bahkan hidup tanpa jumlah uang yang jelas setiap harinya. Artinya bahwa pemenuhan kebutuhan fisiologis tergantung usaha yang dilakukan dari pagi hingga malam hari.Harus kerja jika ingin makan, demikian prinsip yang dipegang oleh orang-orang yang hendak ke kota. Namun pengertian kerja di sini berbeda dengan pengertian umum. Ketiadaan ketrampilan dan akses untuk bekerja membuat kelompok ini mengerjakan apa saja yang diyakini dapat mendatangkan rejeki. Bersamaan dengan itu, mereka membentuk kumpulan Kelompok orang miskin terbagi dalam tiga kelompok. kelompok pertama memiliki rumah dengan mengontrak, tinggal di rumah-rumah petak, pekerjaan sektor informal, berkeluarga atau jika membujang, tinggal dalam kelompok-kelompok yang jenis pekerjaannya sama. Fasilitas kamar mandi dan ruang cuci biasanya digunakan secara kolektif. kelompok kedua membangun rumah semi permanen di atas tanah-tanah kosong, dekat pasar, di bawah jembatan atau di pinggir kali atau rel kereta api/stasiun. Jenis pekerjaan didominasi pekerjaan pemulung, tukang sampah bekas dan tak jarang preman-preman (istilah untuk “penjaga keamanan). kelompok ketiga tidak mampu memiliki rumah, tinggal dimana saja mereka bisa untuk sementara waktu dan berpindah-pindah, alat bantu mereka gerobak, mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan (misalnya mengemis), mereka pungut (misalnya di pasar untuk mendapat sisa-sisa barang jualan) atau mereka mencari barang-barang yang mereka pakai atau jual/bisa didaur ulang (Suparlan, 2004).

Yang terakhir ini merupakan kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses apapun. Pertama, mereka tidak memiliki tempat tinggal. Kedua, karena tuna wisma, kebutuhan air bersih, penerangan dan akses pada pelayanan sosial pun lebih sulit didapat. Bisa dikatakan, mereka melarat. Kondisi ini makin dirumitkan oleh ketiadaan data identitas diri karena asal daerah mereka yang kadang tidak jelas. Yang akhirnya dapat mereka lakukan adalah mencoba bertahan di tempat yang mereka dapat tinggali dan membentuk kelompok-kelompok pemukiman.

Merujuk perihal istilah manusia gerobak, gerobak sendri diartikan sebagaisebuah alat angkut atau alat transportasi tradisional menggunakan tenaga manusia. Pada mulanya gerobak berupa sebuah tempat terbuat dari kayu dengan dua roda dan dua pegangan/kemudi, bentuknya mirip dengan becak tradisional cina namun ukurannya lebih besa (wikipedia, 2007).Dengan alat bantu ini, kelompok ketiga dalam paparan di atas menempati ruang-ruang publik yang tidak digunakan. Mereka menggunakan sumber daya yang ada di kota dan “bersaing” dengan kelompok yang telah datang lebih dulu dan “mapan” dalam urusan pekerjaan dengan alat bantu tersebut seperti pekerja kebersihan.

Belajar Sosial

Dalam perubahan hidup manusia, ada dua jenis learning / belajar yaitu belajar secara fisik dan belajar psikis.Belajar fisik misalnya adalah belajar menari, belajar naik sepeda dan lain-lain. Sedangkan belajar psikis lebih merupakan proses belajar seseorang terhadap perannya sendiri dan peran orang lain dalam kontak sosial. Dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya yang memperlajari perilaku belajar sosial dari perspektif masalah di lapangan, psikologi telah lama mempelajari belajar sebagai bahan kajian utama yang lebih melihat apa yang menyebabkan perilaku tersebut terbentuk dan dalam kondisi seperti bagaimana perilaku tersebut berkembang. Yang berkaitan dengan teori belajar sosial adalah teori yang ditemukan oleh J.C. Dollard dan N.E. Miller.

Dollard dan Miller memfokuskan teorinya pada perilaku sosial yang dianut dari teori belajar Hul (dalam Hergenhahn dan Olson, 1997). Miller dan Dollard mengembangkan teori mereka sendiri ke arah pembahasan yang menyangkut personality, social behavior dan psychotherapy. Pandangan dasar yang diajukan oleh mereka adalah bahwa perilaku manusia itu diperoleh dengan belajar, misalnya dengan cara memperhatikan contoh dari perilaku orang lain. Modelling is learning by observation, individual learn new responses, not by directly experiencing positive or negative outcomes but by observing the outcomes of others’ responses. Untuk itu perlu dipahami psikologi belajar. Dalam menjelaskan teorinya, Miller dan Dollard menguraikan empat hal prinsip belajar. yaitu dorongan (drive); rangsang kuat yang mendorong organisme untuk bertingkah laku, isyarat (cue); rangsang yang menentukan bila dan di mana suatu tingkah laku balas akan timbul dan tingkah laku balas apa yang akan terjadi, tingkah laku balas (response); tingkah laku yang muncul setelah diberikannya beberapa kali ganjaran dan hukuman. Ini merupakan bawaan (innate) dan tersusun secara hierarkis,dan ganjaran (reward); rangsang yang menetapkan apakah suatu tingkah laku balas akan diulang atau tidak dalam kesempatan lain.

Dalam mengembangkan teori tentang belajar sosialnya, Miller dan Dolard menyatakan adanya tiga mekanisme perilaku imitasi (Mille dan Dollard, 1941), 1) Same behavior (tinkah laku sama): tingkah laku sama terjadi apabila dua orang bertingkah laku balas dalam situasi dan cara yang sama. Dengan kesamaan tingkah laku, semua individu yang terlibat belajar secara independen untuk merespon dalam cara tertentu terhadap stimuli tertentu. Perilaku ini dipicu secara spontan ketika stimuli tersebut muncul di lingkungannya. 2) Matched-dependent Behavior (Tingkah laku tergantung): Tingkah laku ini timbul dalam hubungan antara dua pihak dimana salah satu pihak lebih pintar, tua, atau lebih mampu daripada pihak yang lain. Pihak yang lebih lemah/kurang akan menyesuaikan tingkah lakunya (match) dengan pihak yang pertama dan akan bergantung pada pihak tersebut (dependent). Tingkah laku ini seperti mengulang secara buta setiap tindakan dari pihak lain. 3) Copying Behavior (Tingkah laku salinan): Tingkah laku salinan melibatkan isyarat yang berasal dari perilaku yang ditiru (berupa tingkap laku juga). Pengaruh ganjaran dan juga hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tiruan. Peniru akan mengevaluasi perilaku yang ditiru di masa lalu dan memperkirakan perilaku yang akan dilakukannya kemudian, dimana perilaku yang dilakukan relatif lebih lama akan dijadikan patokan oleh peniru.

Bagi Miller dan Dollard, tidak ada proses belajar jika respon tidak diperkuat, karena belajar imitasiadalah hasil observasi, respon yang kelihatan dan nampak merupakan reinforcement itu sendiri. Namun berbeda dengan hasil studi Miller dan Dollard, Bandura menemukan bahwa proses belajar yang terutama bukan dari belajar imitasi tetapi belajar observatori. Menurut Bandura, belajar observatori tidak selalu melibatkan proses imitasi (Shaw dan Costanzo, 1982). Meniru juga memerlukan keahlian. Ketika melakukan peniruan, sebelumnya orang melakukan beberapa proses tahapan yaitu: perhatiannya pada salah satu gejala sosial, mengingat gejala sosial yang diperhatikannya, selanjutnya meniru gejala yang terjadi(mampu atau tidak),kemudian yang tidak kalah penting adalah motivasi dibalik keinginan meniru gejala tersebut seperti insentif yang dibayangkan atau menganggap gejala tersebut adalah hal yang dianggap patut ditiru (Bandura, 1986).

Dalam konsepnya, Bandura menekankan adanya efek-efek, yaitu efek modelling, efek menghambat dan efek kemudahan. Dalam pembahasan nanti, efek modelling-lah yang akan dibahas karena lebih menitikberatkan munculnya asosiasi-asosiasi yang disesuaikan oleh model yang ditiru.

Teori Belajar Sosial menurut Rotter

Ide utama belajar sosial dari Rotter adalah bahwa personality menggambarkan sebuah interaksi individu dengan lingkungannya (Mearns, 2005). Tidak ada personality yang lepas dari lingkungannya atau berlangsung otomatis. Untuk memahami perilaku, haruslah kedua bagian ini disertakan, yaitu individu itu sendiri (beserta sejarah dan pengalaman hidupnya) dan lingkungan (stimuli yang membuatnya sadar dan melakukan tingkah laku balas). Dengan demikian, Rotter memahami bahwa personality dan behavior dapat berubah. Jika kita mengubah cara berpikirnya, atau lingkungannya, maka tingkah laku akan berubah. Rotter tidak mempercayai adanya periode kritis dimana personality sudah siap jadi. Hanya dengan pengalamanlah keyakinan dibangun, sehingga usaha untuk maju dapat terus dimaksimalkan. Sebagai contoh, individu akan terus mencapai goal-nya, mencari reinforcement maksimal lebih dari pada sekedar menghindari punishment.

Potensi terjadinya tindakan adalah fungsi dari harapan dan nilai penguat yang muncul. Dengan kata lain, kemungkinan individu menampilkan perilaku tertentu merupakan proses dari kemungkinan suatu tindakan yang akan memberikan outcome dan besarnya hasrat / keinginan terhadap hasil tersebut. Jika E dan RV keduanya tinggi, maka potensi tindakan akan tinggi. Demikian juga sebaliknya jika kedua komponen ini rendah.

Rumusan teori belajar sosial ini sangat menarik oleh karena Rotter sangat yakin bahwa teori-teori psikologi seharusnya menerapkan prinsip motivasi psikologis, dalam hal ini empirical law of effect, yang akan menentukan tingkat tindakan individu untuk selalu mencar positive stimulation or reinforcement dan menghindari negatifnya. Dengan demikian Rotter menggabungkan behaviorism (adanya drive) dan studi tentang personality (adanya instinct). Konsep belajar sosial ini akan menjabarkan perilaku manusia berobak dalam konsep locus of control.

Metode

Partisipan

Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, berprofesi sebagai peminta-minta yang bertempat tinggal sementara di dalam gerobak. Wilayah kerja partispan yang diambil sebagai subjek wawancara meliputi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

Pengukuran

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Prosedur pemilihan partisipan dilakukan secara purposIive dengan karakteristik peminta-minta yang menggunakan gerobak sebagai tempat tinggal sementara.Pengambilan data melalui observasi dan wawancara. Metode observasi menggunakan bentuk pelaporan narrative, yaitu mencatat secara menyeluruh keadaan dan kejadian pada hal yang diobservasi. Wawancara direkam ke dalam alat perekam yang selanjutnya dipindahkan ke dalam bahasa tertulis yang kemudian didata dalam bentuk matriks.

Hasil observasi dan wawancara subjek penelitian akan dijadikan sebagai data empiris perilaku yang dianalisis melalui belajar sosial Miller dan Dollard serta belajar sosial Bandura.

Hasil

Jumlah Gerobak

Jumlah gerobak yang muncul jauh lebih banyak dari yang setiap hari bisa kita lihat. Dari penyusuran yang dilakukan di dua tempat, yakni jalan-jalan utama di Bintaro Jaya dan di sekitar Melawai – Blok M, jumlah gerobak hampir mencapai 200-an. Di sekitar blok M, sebuah kawasan bisnis dan hiburan serta fasilitas umum, terutama sepanjang jalan Melawai dan Panglima Polim, jarak terdekat antar gerobak mencapai 5 – 10 meter dan berada pada kedua sisi jalan. Ini berarti sepanjang jarak jalan 3 km seperti Panglima Polim, terdapat minimal 100 gerobak. Penulis mendapat konfirmasi kondisi yang sama di sekitar Rawamangun, Tanjung Duren dan di beberapa jalan utama kota. Gerobak menjadi identitas mereka dalam melakoni aktifitas ini.

Kemunculan kelompok manusia gerobak

Kelompok manusia gerobak terdiri dari beberapa komunitas. Dominasi terbesar adalah komunitas pemulung yang jumlahnya mencapai ratusan di kota besar Jakarta. Komunitas ini tinggal dalam suatu areal yang sama atau berada dekat lokasi pengumpulan. Sifat pekerjaan pemulung memungkinkan kelompok ini berasal dari daerah yang sama. Ada juga beberapa kelompok yang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Namun penempatan gerobak menggambarkan suatu pola, misalnya kelompok manusia gerobak di sekitar wilayah Jakarta Selatan berasal dari wilayah luar Jakarta sebelah selatan seperti Tangerang, Serang, Bogor dan lain-lain. Sedangkan wilayah Jakarta Timur didominasi oleh pendatang dari wilayah Tambun, Bekasi, hingga Cirebon.

Hanya selama bulan Ramadhan atau menjelang hari raya Idul fitri, kelompok ini muncul dan bertebaran di sepanjang jalan-jalan utama. Mereka menempati “pos” masing-masing mulai sore hingga pagi hari menjelang subuh. Pada siang hari kebanyakan kelompok manusia gerobak menggunakan gerobak sesuai pekerjaan sehari-harinya, kecuali beberapa kelompok manusia gerobak yang menjadikan gerobak sebagai “rumah mereka”.

Dalam data manusia gerobak, ditemukan suatu fakta bahwa pekerjaan sebagai pemulung menghasilkan uang lebih sedikit dibandingkan duduk-duduk menunggu orang lain memberikan santunan. Menilik ragam motif kelompok ini, terlihat bahwa semuanya mengacu pada bertambahnya pendapatan harian. Dengan pendapatan yang bertambah, harapan mereka untuk membeli barang menjadi lebih tinggi.

Alasan

Berdasarkan dari hasil wawancara dengan beberapa kelompok manusia gerobak, didapat gambaran sederhana tentang apa yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan duduk di pinggir jalan sepanjang malam. Alasan yang dikemukakan adalah seperti mencari tambahan nafkah (siang hari memulung dan malam hari dapat kesempatan bulan puasa), buat beli baju baru pas lebaran, mencari dana untuk pulang kampung, diajak saudara, tergiur cerita teman, tidak ada pekerjaan lain waktu malam hari, tidak percaya pada pemerintah karena tidak mengurusi mereka, lebih baik percaya pada masyarakat yang lebih murah hati. Asumsi yang bisa diketengahkan disini adalah bahwa perilaku yang terlihat dari fakta-fakta tersebut adalah adanya rangsang dari luar dan diproses sehingga muncul rangkaian tindakan.

Pada saat menjelang hari raya, munculnya perilaku sosial dengan menampilkan gerobak menjelang hari raya menghadirkan motif yang bukan lagi hanya mencari makan. Motif ini didasari lagi oleh kebutuhan lain seperti misalnya motif untuk mendapatan tambahan untuk biaya pulang kampung dan membeli sesuatu merujuk pada tingkat motif yang lebih tinggi, yaitu motif untuk dihargai oleh saudara dan juga rasa sayang pada keluarga di kampung halaman. Alasan karena tergiur oleh cerita kawan-kawan justru didorong oleh kebutuhan untuk memuaskan diri (self-gratification) yang ditunjukkan banyak juga kelompok manusia gerobakyang aslinya bukan pemulung.

Pada kelompok manusia gerobak, pendapatan keseharian telah habis oleh kebutuhan harian pula, bahkan dalam memanfaatkan fasilitas / akses publik. Pada situasi menjelang hari raya, setiap tahun kebutuhan untuk konsumsi kebutuhan pokok meninggi. Situasi ini memperpanjang jarak kekurangan dengan ditayangkannya informasi produk barang dan makanan di media massa. Pendapatan yang kurang dan harapan untuk dapat membeli sesuatu di hari raya menjadi tingkah laku balas yang memunculkan perilaku sosial kelompok manusia gerobak.

Proses Tiga Mekanisme Tiruan dari Manusia Gerobak

Mekanisme perilaku Same Behavior atau tingkah laku yang sama ditunjukkan oleh penempatan gerobak oleh kelompok ini di jalur yang potensial, seperti di jalan-jalan utama atau banyak dilalui kendaraan. Mereka datang dan mulai menempati “pos” masing-masing pada jarak dan waktu yang bersamaan. Aktifitas sepanjang malam pun berderak dalam irama yang mirip,seperti ngobrol, merokok dengan sesama gender, anak-anak mereka bermain di sekeliling gerobak milik keluarga mereka, atau sekedar tidur-tiduran. Menjelang malam, karena lelah mereka tidur di sekitar gerobak.

Pada perilaku yang bergantung (matched dependent behavior), manusia gerobak menampakkan imitasinya dalam beberapa cara. 1) mereka yakin goalnya sama, sehingga tingkah laku balas akan mengikuti contoh yang ditiru. Berjejernya gerobak di jalan-jalan utama memperlihatkan bahwa mereka akan cenderung mendapat lebih banyak ganjaran daripada jika mereka berada sendirian. 2) Kelompok manusia gerobak yang baru/ikut-ikutan mendapat ganjaran sekunder dengan melihat tiruan. Beberapa kelompok manusia gerobak membawa serta keluarga (anak dan istrinya) dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih banyak jika tanpa keluarga. Ada juga kelompok yang bukan manusia gerobak yaitu petugas pekerja kebersihan jalan raya, perilaku mereka ditiru dengan memakai pakaian yang mirip untuk mendapatkan ganjaran setelah mereka melihat model juga mendapatkan ganjaran. 3) Jika yang ditiru melakukan tingkah laku balas lebih dulu, barulah diikuti tingkah laku balas lainnya. Pada kelompok manusia gerobak yang berasa dari daerah yang sama membooking satu areal dengan menempatkan satu atau dua gerobak lebih dulu selama beberapa hari. Setelah berhasil, mulailah didatangkan kelompok gerobak yang lain. 4) Jika ganjaran/reward yang ada terbatas, akan terjadi persaingan. Dalam satu sisi jalan terdapat kelompok gerobak yang sama, sedangkan di sisi jalan yang lain berbeda kelompok.

Hal ini mengingatkan konsep Hull mengenai Reaction Potential. Kelompok manusia gerobak memiliki respon yang diperkuat oleh drive (yang berkaitan dengan stimuli) seperti persiapan hari raya lebaran, kebutuhan untuk pulang kampung danbahkan ikut-ikutan. Potensi untuk melakukan tingkah laku tiruan ini melahirkan respon baru sebagai hasil belajar mereka.

Pada perilaku salinan (copying behavior), tingkah laku yang muncul pada kelompok manusia gerobak seringkali memperlihatkan kesamaan yang mekanis yaitu respon mereka ketika muncul kendaraan yang melintas di sekeliling mereka. Respon terhadap stimuli ini muncul sendiri-sendiri / tidak terkoordinasi seperti: 1) Lambaian tangan kelompok manusia gerobak mengisyaratkan kehadiran mereka. Ini dilakukan untuk menyatakan keberadaan mereka dan ditiru oleh kelompok lainnya, 2) Pada saat sebuah mobil melintas atau memperlambat dan akhirnya memberhentikan kendaraannya, secara spontan beberapa kelompok akan berdiri dan memandangi mobil tersebut. Ini terjadi walaupun arah dan juga letak agak berjauhan. Jika kemudian dari mobil tersebut dibagikan sesuatu, kelompok tersebut akan bergerak secara bersamaan, 3) Perilaku belajar yang disebut sebagai tingkah laku yang sama ini hampir mirip dengan konsep konformitas dimana kelompok manusia gerobak bahkan tidak merasa perlu memiliki norma tertentu dalam kelompok yang perlu ditaati. Demikian juga status mereka yang sama pada saat tersebut. Menurut Deutsch dan Gerrard (dalam Sarlito, 2005), hal ini disebabkan pengaruh informasi. Hampir semua kelompok manusia gerobak memiliki informasi yang sama atas realitas mobil yang datang adalah akan memberikan sedekah.

Namun kelompok manusia gerobak yang telah melakoni pekerjaan ini selama beberapa lama ternyata merubah perilaku tersebut dengan cara mengkoordinasi pembagian sedekah. Ini memperlihatkan bahwa terjadi proses kognisi dalam mengolah informasi atas ganjaran (reward) berupa sedekah.

Diskusi

Perilaku manusia gerobak yang ternyata telah diproses sehingga muncul koordinasi antar perilaku menimbulkan dugaan bahwa jika dalam kelompok yang besar, manusia gerobak terdorong untuk memperkuat drive-nya untuk mendapatkan ganjaran yang lebih besar. Implikasi menguatnya driva ini menjadi perilaku yang menular (contagius behavior) yaitu perilaku meniru (imitasi) dan menyangkut transformasi informasi. Dalam konteks ini, kelompok manusia gerobak berperilaku sama agar muncul rasa kasihan atau memancing tindakan orang lain.

Perilaku menempati jalan-jalan utama yang didukung oleh pengalaman dan proses kognisi atas harapan akan ganjaran yang memperjelas proses belajar sosial kelompok manusia gerobak akhirnya menjadi model bagi kelompok-kelompok manusia gerobak lainnya dan juga kelompok non gerobak.

Menurut Bandura, belajar modelling dan observasi dapat mempengaruhi penguasaan tingkah laku social tertentu. Tidak hanya dalam tingkah laku agresif, efek belajar modelling berdampak juga pada self-reinforcement, kemampuan linguistic, pemahaman moral dan lain-lainnya. Tipe-tipe tersebut oleh Bandura dijabarkan sebagai berikut live model (seseorang yang terlihat mempraktekkan tingkah laku tertentu), symbolic model (seseorang atau karakter yang tergambar dalam media cetak / eletronik) dan verbal instructions (adanya tuntunan untuk melakukan tindakan tertentu)

Perilaku manusia gerobak menunjukkan, jika ditinjau dalam observational learning – nya Bandura, menampilkan dua tipe belajar sosial yaitu melalui live model dimana banyak kelompok manusia gerobak yang telah melakukan pekerjaan / aktifitas ini bertahun-tahun dan model verbal instructions yang diwakili oleh kelompok manusia gerobak yang baru (diajak oleh teman atau menyewa gerobak dan dikoordinir oleh “bos”). Kedua belajar sosial melalui modelling ini diperkuat oleh motif yang berdasarkan reinforcement (keyakinan akan mendapatkan ganjaran). Lihat gambar di atas. Lebih lengkapnya kita akan mengurai motif-motif yang memunculkan sikap ketergantungan tersebut.

Berbeda dengan Miller dan Dollard serta Bandura, JB. Rotter mengetengahkan konsep locus of control sebagai bentuk belajar sosial. Locus of Control adalah variabel kepribadian yang dapat mengontrol reinforcement (Myers, 1996). Ini muncul sebagai keyakinan dalam diri yang merupakan pusat kendali dan pengarahan dari semua perilaku yang muncul dan bergerak dari dalam diri (internal) individu ke arah keluar dirinya (eksternal). Dikatakan Rotter bahwa konsep ini mempengaruhi proses belajar, tingkah laku dan sikap serta perasaan. Ini terbagi dalam dua kelompok. Kelompok manusia gerobak yang locus of control-nya eksternal percaya apa yang mereka dapatkan adalah keberuntungan, nasib, kesempatan atau pengaruh orang lain (atau juga kekuatan alam). Sedangkan kelompok internal yakin bahwa keberhasilan dan kegagalan dari usaha mereka dipengaruhi oleh tindakan dan kemampuan mereka. Dalam subyek bahasan, ditemukan bahwa pada siang hari saat kelompok manusia gerobak melakukan aktifitas sebagai pemulung, mereka yakin bahwa besar kecilnya pendapatan/reinforcement mereka ditentukan oleh kerja keras mereka. Di sini keyakinan internal-nya besar. Sedangkan ketika malam hari, keyakinan eksternal-lah yang besar karena mereka menanti sedekah di pinggir jalan dan tergantung pada belas kasihan orang lain.

Dengan menggunakan rumus BP = f(E & RV), maka potensi munculnya perilaku sudah dapat diprediksikan. Saat siang hari sebagai pemulung, expetancy mereka terhadap banyaknya barang bekas yang mereka dapatkan tidak besar karena mereka menjalani aktifitas itu setiap hari, dan nilai penguat (reinforcement value) nya juga relatif rendah. Sebaliknya ketika malam hari, kedua elemen ini melonjak tinggi sehingga tindakan mereka lebih menunjukkan antusiasme tinggi. Ini dapat dilihat dari minat terhadap besarnya “pendapatan” ketika malam hari yang bisa mencapai 2 atau 3 kali lipat daripada siang hari. Adanya locus of control yang kuat dalam hal eksternal juga lah yang mendorong munculnya motif perilaku menunggu sedekah di malam hari.

Perilaku Manusia Gerobak – Produk Kebudayaan Kemiskinan di Perkotaan

Pada prinsipnya, manusia secara umum, tak terkecuali manusia gerobak, memiliki kecenderungan untuk menetap yang menimbulkan kepadatan penduduk dan meningkatnya hunian liar. Ketidakberdayaan ini menjadi situasi yang dianggap lumrah dan terus terjadi sepanjang tahun. Akibat makronya adalah munculnya kemiskinan yang menimbulkan problema tersendiri. Masalah-masalah yang muncul dalam kemiskinan adalah: kurang efektifnya partisipasi dan integrasi dalam lembaga-lembaga utama masyarakat, rendahnya tingkat organisasi dalam kelompok, kurangnya pengasuhan orang tua, masa kanak-kanak yang singkat, kuatnya perasaan tidak berharga, tidak berdaya, ketergantungan dan rendah diri

Ilmu-ilmu sosial memandang persoalan ini dalam disiplin dan pendekatan yang berbeda. Ilmu ekonomi, politik dan sosiologi misalnya melihat masalah kemiskinan dalam tinjauan yang luas. Ahli ilmu sosial ini misalnya cenderung akan menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan tersebut, urbanisasi yang cepat dan industrialisasi. Sebagai buktinya, mereka akan memperlihatkan data bahwa tingkat kejahatan tertinggi terjadi di daerah kumuh daripada di pemukiman elit, atau kriminalitas meningkat pada saat tingkat resesi tinggi seperti kenaikan BBM.

Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan individual yang dilakukan oleh ilmu psikologi yang cenderung menjelaskan penyebab kriminalitas berdasarkan karateristik dan pengalaman individu yang unik. Misalnya bagaimana individu tersebut tumbuh di keluarga yang menderapkan hukuman atau disiplin, atau keluarga tersebut cenderung kasar dan membenci kehidupan. Gambar yang sama di atas memperlihatkan bahwa analisis ilmu psikologi lebih memusatkan diri pada hal dimana terhadap situasi yang sama, orang dapat melakukan perilaku yang berbeda karena pengalaman masa lalu yang unik. Karena ada sesuatu yang dipelajari.

Masalah-masalah ini juga menghinggapi sebagian besar kelompok manusia gerobak. Kepadatan yang tinggi di pemukiman manusia gerobak / pemulung seringkali menimbulkan beberapa perubahan perilaku pada sebagian besar kelompok masyarakatnya. Beberapa diantaranya yang teramati adalah :1) Kurangnya kontrol dalam berperilaku. Dalam hal berpakaian atau saat melakukan pekerjaan, seringkali tingkah laku mereka dicurigai mirip dengan maling atau pencuri. 2) Toleransi terhadap nilai-nilai sosial. Banyaknya pendatang dengan membawa kebudayaan masing-masing membuat tiap orang melakukan asimilasi dan konformitas sehingga terjadilah percampuran kebudayaan yang pada akhirnya menumbuhkan rasa toleransi yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Contohnya pulang larut malam dianggap biasa, perempuan yang dikunjungi oleh laki-laki juga dianggap biasa. 3) Terjadi salah tingkah dalam pergaulan sosial. Contohnya dahulu mungkin sebagian besar masyarakat akan mengucapkan salam jika bertemu namun sekarang karena terlalu banyak orang, terjadi kebingungan untuk memberikan salam. Dengan kata lain orang merasa capek untuk memberi atau membalas salam karena banyaknya orang. 4) Individualistis dan penarikan diri dari masyarakat. Kepadatan membuat orang mencari space yang kosong dan akhirnya tumbuhlah sifat individualis dan juga orang cenderung menarik diri dari kegiatan – kegiatan dalam masyarakat seperti rapat RT dimana mereka tidak ikut terlibat. Berkurangnya komitmen terhadap kelompok masyarakat yang lebih luas, membuat pemukiman mereka seperti daerah isolasi. 5) Munculnya prasangka terhadap orang lain Oleh karena sifat individualistis dan penarikan diri tersebut sehingga komunikasi tidak terjadi dengan baik yang mengakibatkan orang cenderung memberikan persepsi yang buruk dalam rupa prasangka-prasangka (prejudice). Mereka lebih percaya pada kelompok dalam asal daerah yang sama.

Dengan demikian jelas bahwa perubahan sosial dapat mendorong perubahan tingkah laku manusia di lingkungannya. Salah satu yang menjadi “senjata” survive dan ampuh manusia adalah kemampuannya untuk merespon sessuatu melalui mekanisme belajar social. Penelitian yang dilakukan Kameda dan Nakanishi memperlihatkan bahwa kemampuan belajar sosial melalui trial dan error (imitasi atas perilaku individu lainnya) akan meningkatkan kemampuan adaptasi individu. Akan tetapi semakin banyaknya angka kemiskinan dan terus menerus sepanjang tahun muncul kelompok-kelompok orang miskin yang ditandai oleh makin banyaknya jumlah manusia gerobak (pemulung) menandakan bahwa ada hal yang terus dipelajari. Hal ini oleh Selligman disebut sebagai learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Kondisi ini adalah ketimampuan mengontrol atas peristiwa yang aversif. Maka tepatlah dikatakan bahwa perilaku manusia gerobak di atas menjadi produk kebudayaan kemiskinan di perkotaan.

Kesimpulan

Kesimpulan dari penulisan ini sederhana saja. Perilaku manusia gerobak adalah salah satu bentuk hasil belajar sosial. Drive / dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi motif yang mudah terlihat dalam perilaku yang diobservasi melalui mekanisme belajar tiruan. Namun dibalik itu, motif dari perilaku yang mendorong kelompok manusia gerobak melakukan tindakan menunggu sedekah di pinggir jalan memilliki jawaban atau alasan yang berbeda-beda. Hierarki motif yang telah kita ulas menyajikan pandangan bahwa pemenuhan kebutuhan biologis bukan hal yang dicari. Kebutuhan untuk memiliki sejumlah uang atau menambah pendapatan ternyata muncul dari kebutuhan yang lebih tinggi lagi, misalnya rasa bangga jika membawa sesuatu saat pulang kampung. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa kekurangan diri. Dalam penjelasan konsep deprivasi, ditemukan bahwa tayangan media mengakibatkan perasaan individu atas jarak antara ukuran ideal/harapan dan kenyataan cukup tinggi.

Sejauh ini kelompok manusia gerobak tidak pernah menimbulkan gejolak dan tindakan agresifitas dalam skala besar. Keberadaan mereka sebagai salah satu bentuk kemiskinan kota masih akan terus mewarnai kehidupan masyarakat. Kompleksnya menyoal kemiskinan juga tampak pada dimensi substansi kemiskinan itu sendiri. Salah satu penyebab utama kegagalan Indonesia dalam upaya menangani kemiskinan selama ini, adalah karena kegagalan kita sendiri dalam memahami kemiskinan itu sendiri. Itulah salah satu yang bisa diangkat dari pemikiran filosofis Amartya Sen, sang Profesor asal India yang sekaligus peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. Melalui karyanya yang berjudul Beyond The Crisis: Development Strategies in Asia, pemikiran Sen ini setidaknya akan memberikan kepada kita perspektif yang lebih luas tentang arti kemiskinan ini.

Kekurangan secara ekonomis bukanlah satu-satunya jenis kemiskinan yang merapuhkan kehidupan manusia, karena kehidupan manusia dimiskinkan dalam berbagai cara yang berbeda. Kemiskinan berlangsung secara total; miskin pendidikan, kesehatan, bahkan miskin secara politik, termasuk jiwa raganya. Perilaku manusia gerobak tidak mencerminkan kemiskinan secara langsung. Justru karena kondisi deprivasi relatif yang mereka ciptakan mendorong perilaku belajar sosial seperti yang telah diuraikan di atas.

Tulisan ini sungguh jauh dari sempurna karena aktiftas penulisan di belakang meja yang hanya mampu menjangkau logika penulis dan rujukan yang sedapatnya diperoleh. Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s