Representasi Sosial tentang Pemimpin antara Dua Kelompok Usia dan Situasi Sosial yang berbeda di Jakarta dan Palembang

Posted: January 19, 2009 in negeriku, seputar ilmu sosial
Tags: , , , ,

Idhamsyah Eka Putra, Citra Wardhani, & Resky Muwardani

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

PENDAHULUAN

Selama beberapa dekade, pemikiran mengenai konsep pemimpin mengalami perubahan secara kontinyu berdasarkan masa. Terdapat periode-periode dalam sejarah yang mencirikan timbulnya tipe pemimpin tertentu berdasarkan latar belakang dinamika sosial dan politik pada masa itu. Telah banyak pemikir yang mendefinisikan pemimpin, tipe dan karakteristik pemimpin di dunia atau yang harus dipenuhi oleh pemimpin. Sejalan dengan perkembangan keilmuan ini, masyarakat umum mengembangkan pula pemahaman mereka mengenai makna pemimpin yang bisa jadi berbeda dengan pengetahuan yang dikembangkan di dunia keilmuan. Terdapat dua arti perihal kata pemimpin di dalam kamus psikologi yang ditulis oleh Chaplin (2004). Pertama, pemimpin diartikan sebagai seseorang yang membimbing, mengatur, menujukkan, memerintah atau mengontrol kegiatan yang lain. Kedua, pemimpin diartikan dengan seseorang yang memiliki sifat-sifat kepribadian dan kualifikasi lainnya bagi kepeminpinan. Senada dengan Chaplin (2004), di dalam kamus padanan kata bahasa Inggris (thesaurus), kata pemimpin disinonimkan dengan kepala, manajer, pimpinan, organizer, dan pembimbing. Umumnya, pemimpin memiliki peran aktif yang senantiasa turut campur dalam segala masalah yang berkaitan denga kebutuhan-kebutuhan anggota kelompok (Gerungan, 2004). Turut campurnya pemipin terhadap keadaan kelompok karena dianggap sebagai orang yang memiliki ide cemerlang yang setiap orang menyetujuinya dan mengikutinya, serta orang yang memiliki kekuasaan untuk menjadikan sesuatu itu terjadi atau dilakukan (Vaughan & Hogg, 2002).

Peminpin dan Kepemimpinan

Untuk memahami bagaimana pemimpin memimpin, faktor apa yang mempengaruhi siapa orang yang pantas menjadi pemimpin merupakan komponen yang mesti dicermati. Gaya kepemimpinan yang dipraktekkan oleh para pemimpin (perusahaan, negara, kelompok olah raga, agama, dan lain-lain) tidak muncul begitu saja atau bawaan tetapi merupakan hal yang dipelajari (Gerungan, 2004). Penelitian awal yang tercatat tentang kepemimpinan yang dilakukan oleh tokoh psikologi dilakukan oleh Lewin, Lippit, dan White pada tahun 1939. Mereka melakukan eksperimen mengenai gaya kepemimpinan otoriter, demokrasi, dan laissez faire. Hasil dari penelitian tersebut menerangkan akan adanya perbedaan suasana kerja dan cara berinteraksi di dalam kelompok. Kepemimpinan otoriter lebih menimbulkan ciri apatis dibandingkan kepemimpinan demokratis atau laissez faire, terdapat pula banyak mencari kambing hitam di antara anggota-anggota kelompok sendiri. Pada kepemimpinan demokratis, pemimpin cenderung bersikap seperti kawan yang bersedia untuk saling mengerti dan menimbulkan ketergantungan antara kawan-kawan, sehingga interaksi kelompok terlihat lebih wajar. Gaya kepemimpinan ini cenderung untuk menyerahkan kegiatannya pada orang lain, tidak terhadap pemimpin melainkan pada kawannya dalam bentuk timbal-balik dan dalam bentuk kerja sama. Sementara itu, gaya kepemimpinan dengan leisser faire yaitu pemimpin yang tidak memiliki inisiatif dan hanya seperti seorang penonton saja cenderung menimbulkan kelompok yang kacau dan tidak memiliki arah. Lewin et al. (1939) menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemipinan yang paling baik. Kesimpulan mereka tersebut pun diperkuat oleh hasil penyebaran angket mengenai gaya kepemimpinan dengan 95% partisipan menyukai kepemimpinan demokratis. Di samping gaya kepemimpinan seperti yang disebutkan oleh Lewin et al. (1939) tersebut, Kirkpatrick dan Locke (1991, dalam Hogg & Vaughan, 2002) menekankan pula adanya karakteristik pemimpin yang dipandang sukses. Setidaknya ada delapan komponen yang dimiliki oleh pemimpin yang sukses. Pertama, adanya dorongan (drive), yaitu keinginan untuk sukses, ambisius, gigih, tenaga yag kuat (high energy), dan inisiatif. Kedua, dimilikinya sifat jujur dan integritas, dapat dipercaya, handal (reliable), dan terbuka. Ketiga, adanya “leadership motivation; desire to exercise influence over others to reach shared goals”, yaitu keinginan untuk melakukan lebih dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Keempat, dimilikinya self-confidence atau keyakinan pada kemampuan diri sendiri. Kelima, adanya kemampuan kognitif; pintar, mampu untuk mengintegrasi dan menginterptasi informasi dalam jumlah besar. Keenam, dipunyainya keahlian, mengetahui kegiatan kelompok dan mengetahui masalah yang relevan. Ketujuh dimilikinya kreativitas dan originalitas. Terakhir, kedelapan, adalah adanya fleksibilitas, yaitu kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan pengikut dan merubah keperluan sesuai dengan situasi. Jika seorang individu telah memiliki delapan komponen karakteristik tersebut, maka satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah relavansi ide dan program yang sejalan dengan masyarakat (Suedfeld, Conway III, & Eicheron, 2001). Dengan memperhatikan hal tersebut, biasanya seseorang yang mencalonkan menjadi pemimpin yang terpilih. Akan tetapi, Suefeld et al. (2001) menerangkan bahwa kesuksesan seorang pemimpin juga dikondisikan pada suatu keadaannya. Kebanyakan, baik itu perdana menteri Kanada atau Presiden Amerika yang gagal menjalankan pemerintahannya karena terganjal permasalahan ekonomi. Contohnya dapat dilihat pada pemerintahan R.B. Bennet (Perdana Menteri Kanada) dan pada Herbert Hoover (Presiden Amerika). Ini terjadi karena permasalahan ekonomi adalah permasalahan di pemerintahan yang sulit untuk diatasi. Umumnya pemimpin yang terlempar dalam krisis dikarenakan menggantikan pemimpin sebelumnya akan sangat dihargai dan sangat dihormati oleh warganya jika mereka berhasil membawa negaranya keluar dari krisis. Ini menerangkan bahwa kepribadian/karakterisktik dan situasional merupakan prediktor yang amat penting mengenai keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin (Suedfeld et al., 2001). Semenjak telah disadarinya perihal permasalahan-permasalahan yang berbeda-beda pada setiap daerah, agama, dan negara pun merangsang cara-cara yang berbeda dalam penyelesaian permasalahan. Seperti di Cina, etika konfusius selalu mengikat dan mendikte perkembangan sistem kepemimpinan (Derr, Rousillon, & Bournois, 2002). Kepribadian atau karakteristik dan kondisi situasional mengenai pemimpin yang sukses pun akan berbeda modelnya pada tiap-tiap daerah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui representasi mental mengenai pemimpin berdasarkan kelompok sosial yang berbeda pada dua tempat dengan kondisi sosial salien yang berbeda pula. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkapkan representasi sosial tentang pemimpin di Indonesia dengan melihat secara lebih dalam arti pemimpin dan seperti apa pemimpin yang dicari oleh orang Indonesia.

Pemimpin dan Representasi Sosial

Seorang pemimpin tidak memimpin di dalam sebuah dunia kosong. Gaya memimpin, bagaimana pemimpin dipahami, baik atau buruk terkait erat dengan representasi yang berkembang di dalam pemahaman sehari-hari masyarakat. Konteks mengenai produksi perluasan pengetahuan mengenai pemimpin meliputi pula kelembaman histori (historical inertia) yang terakumulasi dalam sebuah reperesentasi; dan “nilai” ditempatkan pada konteks yang selalu diasosiasikan dengan muatan apa yang terkandung dalam representasi tersebut (Duveen & De Rosa, 1992). Maksudnya adalah, suatu makna seperti halnya kata pemimpin dapat diartikan berbeda sesuai dengan diskusi dan perdebatan yang berkembang di dalam konteks tertentu. Apakah analisis akademis mengenai pemimpin ini berjalan secara paralel dengan pengetahuan yang dikembangkan oleh kelompok ‘orang kebanyakan” (common knowledge)? Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan oleh para ilmuwan, masyarakat juga mengembangkan pengetahuan mereka sendiri mengenai fenomena atau obyek yang ada di dunia. Salah satu cara dalam menangkap representasi mental masyarakat mengenai suatu objek adalah dengan menggunakan teori representasi sosial yang pertama kali dikembangkan oleh Serge Moscovici pada tahun 1963. Salah satu poin penting dalam teori representasi sosial adalah dikajinya hubungan yang erat antara aspek subyektif dan obyektif (Wagner & Hayes, 2005). Pengalaman individu akan diterjemahkan secara internal berdasarkan latar belakang masing-masing, yang berarti memasukkan nilai subyektif didalamnya. Namun, selanjutnya, konsepsi internal ini akan dibandingkan dengan obyek eksternal yang sangat mudah diakses oleh individu melalui indera mereka dan individu akan mempersepsikannya, yang berarti proses yang obyektif. Istilah representasi sosial pada dasarnya mengacu kepada hasil dan proses yang menjelaskan mengenai pikiran umum (common sense) (Jodelet, 2005). Pikiran umum adalah cara berpikir ‘rasional’ yang praktis melalui hubungan sosial dengan menggunakan gaya dan logikanya sendiri, yang kemudian didistribusikan kepada anggota suatu kelompok yang sama melalui komunikasi sehari-hari. Studi mengenai pikiran umum ini mulai diterima di kalangan akademisi setelah tengah abad ke-20 melalui gabungan pemikiran antropologi, sejarah, psikologi (termasuk psikoanalisis dan ilmu-ilmu kognitif), sosiologi, linguistik dan filosofi. Sosial representasi dapat dipahami sebagai sebuah sistem sosial yang berfungsi ganda, seperti yang disampaikan oleh Moscovici (1973) sebagai berikut: a system of values, ideas, and practices with a twofold function; first to establish an order which will enable individuals to orient themselves in their material and social world and to master it; and secondly to enable communication to take place among the members of a community by providing them with a code for social exchange and a code for naming and classifying unambiguously the various aspects of their world and their individual and group history (Moscovici, 1973 dalam Flick, 1998: 6). Definisi yang lebih sederhana disampaikan oleh Jodelet (1984) yang menekankan pada pikiran umum (common knowledge) yang merupakan sebuah proses berpikir sosial yang berkembang melalui adanya interaksi dan komunikasi yang dijelaskan sebagai berikut: “… a specific form of knowledge –common knowledge- whose contents show the operation of generative processes and socially marked functions. More broadly, it refers to a form of social thinking. The social marking of contents or processes of representations refers to conditions and contexts in which those representation reveal themselves in communication and through which they circulated and the fuctions thoses representations serve in interactions with the world and with others (Jodelet, 1984 dalam Flick, 1998: 49).” Proses pikiran umum atau representasi sosial dalam menangkap fenomena sebuah obyek terjadi melalui dua proses yang dikenal dengan nama anchoring dan objectification (Moscovici, 1984 dalam Flick, 1998). Proses anchoring mengacu kepada proses pengenalan atau pengaitan (to anchor) suatu obyek tertentu dalam pikiran individu. Pada proses anchoring, informasi baru diintegrasikan kedalam sistem pemikiran dan sistem makna yang telah dimiliki individu. Obyek diterjemahkan dalam kategori dan gambar yang lebih sederhana dalam konteks yang familiar bagi individu. Proses kedua, objectifications, mengacu kepada penerjemahan ide yang abstrak dari suaatu obyek kedalam gambaran tertentu yang lebih konkrit atau dengan mengaitkan abstraksi tersebut dengan obyek-obyek yang konkrit. Proses ini dipengaruhi oleh kerangka sosial individu, misalnya norma, nilai, dan kode-kode yang merupakan bagian dari proses kognitif dan juga dipengaruhi oleh efek dari komunikasi dalam pemilihan dan penataan representasi mental atas obyek tersebut. Representasi sosial suatu obyek merupakan sesuatu yang dinamis dan memiliki efek yang membedakan. Moscovici (1988) membedakan tiga tipe representasi atas suatu obyek, yaitu representasi hegemonik, emansipatik, dan polemik. Representasi hegemonik menunjukkan adanya makna yang sama atas suatu obyek yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok. Representasi emansipatik dihasilkan dari pertukaran dan interaksi dalam menterjemahkan suatu obyek, namun akhirnya menghasilkan makna yang berbeda dari makna semua (misalnya yang didefinisikan oleh para ahli) dan menghasilkan pengetahuan yang mundane (dangkal, umum). Misalnya adalah dalam pemaknaan penyakit mental. Representasi yang ketiga, yaitu representasi polemik, adalah representasi yang timbul pada saat terjadinya konflik sosial dan politik dimana obyek dimaknai berbeda atau bahkan bertolak belakang. Berdasarkan penjelasan ini, tampak jelas tergambarkan bahwa sebuah obyek atau konsep di dunia ini akan dimaknai oleh kelompok-kelompok masyarakat yang dapat saja berbeda. Penelitian ini dilakukan untuk menggali lebih dalam representasi sosial tentang pemimpin di Indonesia dengan melihat berdasarkan kerangka usia dan konteks sosial yang salien pada dua kelompok sosial yang berbeda di Indonesia.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Februari-April 2008.

Partisipan
Seluruh partisipan penelitian adalah penduduk yang berdomisili di Jakarta dan di Palembang. Partisipan penelitian dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok muda dan tua. Kelompok muda adalah partisipan yang berusia antara 19-40 tahun, sedangkan yang termasuk kelompok tua adalah partisipan yang berusia antara 41 – 65 tahun. Sebanyak 400 partisipan memberikan jawabannya di Palembang dan 63 partisipan diwawancarai di Jakarta. Komposisi sebaran kelompok partisipan adalah 328 orang (81,8%) termasuk dalam kelompok muda dan 73 orang (18,2%) termasuk dalam kelompok tua. Sebanyak 40 orang (63,5%) partisipan di Jakarta tergolong dalam kelompok usia muda dan 23 orang (36,5%) tergolong dalam kelompok tua. Sebagian besar partisipan di Palembang adalah kelompok muda sebanyak 328 orang (81%) sedangkan sisanya sebanyak 73 orang (18,2%) tergolong dalam kelompok tua. Duapuluh orang (31,7%) dari partisipan di Jakarta adalah laki-laki dan sisanya sebanyak 43 orang (68,3%) adalah perempuan. Di Palembang, 209 orang (52,1%) adalah laki-laki dan sisanya sebanyak 192 orang (47,9%) adalah perempuan. Di Jakarta 2 orang (3,2%) berpendidikan SLTP, 43 (68,3%) berpendidikan SLTA (termasuk mahasiswa), 3 orang (4,8%) berpendidikan S1, 9 orang (14,3%) berpendidikan S2, dan 6 orang (9,5%) berpendidikan S3. Di Palembang, 8 orang (2%) tidak tamat SD, 79 orang (19,7%) berpendidikan SD, 81 orang (20,2%) berpendidikan SLTP, 179 orang (44,6%) berpendidikan SLTA, 19 orang (4,7%) berpendidikan D3, 34 orang (8,5%) berpendidikan S1 dan 1 orang (0,2%) berpendidikan S2.

Prosedur dan pengukuran
Penelitian ini menggunakan teknik asosiasi kata untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner. Instruksi disampaikan secara lisan dan dituliskan juga dalam kuesioner. Partisipan diminta untuk menuliskan lima kata yang terlintas di benak mereka ketika mereka membaca kata pemimpin. Kemudian, dari kelima kata yang telah dituliskan, partisipan diminta untuk mengurutkannya berdasarkan kata yang paling merepresentasikan arti pemimpin sampai kata yang dipandang paling tidak merepresentasikan arti pemimpin. Partisipan juga diminta untuk menjelaskan arti dan maksud asosiasi kata yang telah mereka tuliskan dalam kuesioner. Teknik pengukuran ini dapat menjelaskan representasi mental yang ada dalam sebuah masyarakat mengenai sebuah obyek tertentu, dalam hal ini adalah makna pemimpin.

Pengolahan data
Kata-kata yang dituliskan oleh partisipan dikode untuk pengolahan lebih lanjut. Pada tahap awal, dicari kata-kata apa saja yang muncul untuk memaknai kata pemimpin untuk keperluan pengkodean. Pada tahap ini dicari seberapa banyak kata yang digunakan partisipan pada masing-masing kelompok dan kota untuk menggambarkan kata pemimpin untuk melihat perbedaan antar kelompok. Selanjutnya, kata-kata yang serupa dan memiliki karakteristik yang sama dikelompok-kelompokkan sampai diperoleh beberapa kategori besar. Berdasarkan definisi yang diberikan partisipan, kata-kata tersebut kemudian dikode ulang kedalam kategori besar tersebut untuk memperoleh klasifikasi yang lebih general. Data diolah lebih lanjut untuk melihat frekuensi pada masing-masing kategori besar.

 

HASIL & PEMBAHASAN

Dari 463 partisipan, dihasilkan 136 kata yang menggambarkan pemimpin. Partisipan di Palembang menghasilkan 60 kata yang berasosiasi dengan makna pemimpin, sedangkan partisipan di Jakarta menghasilkan 136 kata yang berasosiasi dengan makna pemimpin. Temuan ini menunjukkan bahwa partisipan di Jakarta memiliki konsep mengenai pemimpin yang lebih beragam daripada partisipan di Palembang. Dengan jumlah partisipan 63 orang, dihasilkan 136 kata yang berasosiasi dengan kata pemimpin. Di Palembang, 400 partisipan menghasilkan asosiasi kata yang jauh lebih sedikit dibandingkan partisipan di Jakarta, yaitu sebanyak 60 kata. Ini artinya, banyak responden di Palembang yang menghasilkan asosiasi kata yang sama.

Terdapat beberapa penjelasan yang diduga melatarbelakangi terjadinya hal ini. Pertama, diduga bahwa kompleksitas kehidupan metropolitan di Jakarta mendorong timbulnya lebih banyak pemaknaan mengenai pemimpin dibandingkan dengan Palembang yang memiliki kompleksitas lebih rendah walaupun sama-sama merupakan daerah urban. Berbeda dengan di Palembang, kompleksitas ini mendorong partisipan di Jakarta untuk mengembangkan konsep mereka sendiri mengenai makna pemimpin.

Penjelasan kedua adalah dari latar belakang konteks sosial yang ada di masing-masing kota. Di Jakarta, ide mengenai pemimpin tidaklah salien karena pemilihan gubernur Jakarta telah lama berlalu. Kebalikannya, Palembang pada saat penelitian ini dilakukan akan melangsungkan pemilihan kepala daerah. Hal ini diduga mendorong orang-orang untuk selalu ‘diingakan’ akan konsep pemimpin dan terdorong untuk membicarakannya dan melakukan kesepakatan akan makna pemimpin, misalnya persetujuan atas karakter pemimpin yang ideal. Hal ini menyebabkan makna pemimpin di Palembang cenderung lebih hegemonik daripada makna pemimpin di Jakarta yang lebih luas.

Penjelasan ketiga adalah dari fungsi Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang mendorong informasi di Jakarta menjadi lebih banyak tersedia daripada di Palembang. Ketersediaan informasi ini menyebabkan tersedianya juga berbagai informasi mengenai konsep pemimpin sehingga partisipan di Jakarta menghasilkan makna yang lebih beragam daripada partisipan di Palembang.

Hasil asosiasi kata yang didapatkan dari temuan penelitian ini menerangkan beragamnya makna kata pemimpin. Pemimpin tidak sekedar diartikan sebagai seseorang yang membimbing, mengatur, menujukkan, memerintah atau mengontrol kegiatan yang lain seperti apa yang diartikan oleh Chaplin (2004). Pemimpin juga tidak sekedar dihubungkan dengan orang yang sehat, pintar, keadaan fisik yang menarik, orang yang memiliki keyakinan diri, sosiabilitas, aktif berbicara, dan orang yang memiliki domonansi (Mann, 1959; Mullen et al.; Hogg dan Vaughan, 2002) tetapi terdapat makna-makna lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pemimpin.

Keseluruhan asosiasi kata yang dihasilkan kemudian diklasifikasikan dalam kelompok yang lebih besar, dalam hal ini menjadi tujuh kelompok. Ketujuh kelompok besar tersebut adalah 1) kepribadian (personality traits), 2) keahlian memimpin, 3) Kemampuan interpersonal, 4) Tujuan atau kondisi ideal yang diharapkan dihasilkan melalui pemimpin yang baik, 5) Sistem dan struktur, 6) Penampilan, dan 7) lain-lain.

Asosiasi kata yang termasuk dalam kategori kepribadian adalah mengayomi, berkepribadian bagus, jujur, adil/pertimbangan, berwibawa, memperhatikan rakyat/peduli, tepati janji, bijaksana, bertanggung jawab, tegas, mantap, perhatian pada rakyat kecil, tidak menepati janji, baik hati/ ramah/santun, dermawan/suka membantu, setia/loyal, berkharisma, berani, toriter, dipercaya, pengaruh/persuasif, disiplin, amanah, dominan, membumi, toleran, fleksibel, inisiatif, berpendirian, peka, sederhana, arogan, dan ulet. Pada kategori keahlian memimpin terdapat kata bisa memimpin, mengatur, leadership, pintar/cerdas, pelopor, aspirasi (aspiratif), pemberi solusi, pembimbing, kinerja bagus, keputusan/pengambil, berwawasan, dan bersuara keras. Pada kategori kemampuan interpersonal dimasukkan kata visioner, komunikatif, komitmen, mengabdi, terdepan, berkorban, dan bertindak. Kelompok tujuan atau kondisi ideal mencakup pemerintah aman, pemerintah tentram, pemerintah bersungguh-sungguh, bersih KKN/transparan, damai, membawa makmur, membuka lowongan kerja, barang murah, berobat gratis, membangun jalan, dan senang/suka. Kelompok sistem dan struktur berisi kata kepala, hebat, tokoh, panutan/memberi contoh/teladan, tugas, orang besar, demokrasi, negara sempurna, syahrial, pembangunan, berpengawal, berkuasa, rakyat, presiden, komandan, gubernur, atas, power/kekuasaan, bawahan, SBY, ketua, rasulullah, penguasa, laki-laki, bos, pemerintah, petunjuk, kebijakan, organisasi, korupsi, demokratis, pengikut, kuat, dan pelindung. Kelompok penampilan meliputi kata gagah, sedangkan kata yang tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok yang sudah dibuat dimasukkan dalam kategori lain-lain.

Partisipan diminta untuk memilih dari kata-kata yang ditulis yang paling merepresentasikan pemimpin dalam tiga peringkat (Tabel 1-Tabel 3). Kata pertama yang dipandang sangat kuat merepresentasikan pemimpin disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kelompok usia muda dan tua di Jakarta memiliki perbedaan yang menonjol. Kelompok usia muda memilih kepribadian (45%) dan sistem dan struktur (32,5%) sebagai pemaknaan yang paling kuat terhadap pemimpin dan diikuti dengan kategori kemampuan interpersonal (15%). Sedangkan kelompok usia tua lebih banyak menekankan pada kepribadian (68,2%). Hal yang berbeda ditemukan di Palembang dimana pilihan kelompok usia muda dan tua cenderung sama, yaitu pada kategori kepribadian (69,8% dan 76,1%) sedangkan kategori yang lain dipilih hampir sama rata.

Pada pilihan kata kedua yang dipandang kuat merepresentasikan pemimpin (Tabel 2), terjadi perbedaan yang serupa dengan pada pilihan pertama. Kelompok muda memilih kepribadian (55%) dan sistem dan struktur (27,5%) sebagai pemaknaan yang paling kuat kedua terhadap makna pemimpin. Perbedan dengan pilihan pertama adalah bahwa kategorikemampuan interpersonal tidak lagi dipilih, digantikan dengan kategori keahlian memimpin (12,5%) sebagai kategori ketiga. Di Palembang, kembali lagi ditemukan kecenderungan pilihan yang cenderung sama antara kelompok usia muda dan tua.

Pada pilihan kata kedua yang dipandang kuat merepresentasikan pemimpin (Tabel 3), kelompok usia muda dan tua di Jakarta memiliki kecenderungan yang sama dimana kepribadian merupakan aktegori yang paling banyak dipilih, diikuti dengan kategori sistem dan struktur. Kelompok usia muda dan tua di Palembang kembali menunjukkan kecenderungan pilihan yang sama, seperti halnya pada pilihan pertama dan kedua.

Dari keseluruhan pilihan kata yang dipandang kuat merepresentasikan pemimpin (Tabel 1-Tabel 3), dapat diketahui bahwa kelompok muda dan tua di Jakarta memiliki representasi yang sama dan berbeda mngenai makna pemimpin. Persamaannya adalah pada pilihan kategori kepribadian walaupun pada kelompok tua proporsi yang memilih kategori ini lebih tinggi daripada pada kelompok usia muda. Perbedaannya adalah bahwa kelompok usia muda memiliki representasi sistem dan struktur (misalnya konsep mengenai struktur organisasi atau negara, kemenonjolan seseorang dibandingkan anggota kelompok yang lain, kekuasaan) dibandingkan kelompok tua. Pada kelompok usia muda dan tua di Palembang ditemukan kecenderungan pilihan yang konsisten pada pilihan pertama, kedua dan ketiga. Artinya, kelompok usia muda dan tua di Palembang memiliki representasi mengenai pemimpin yang hegemonik.

Perbedaan antara kelompok muda dan tua di Jakarta diduga dipengaruhi oleh berkembangnya konsep demokrasi di Indonesia dan makin terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas politik yang sering berhubungan dengan struktur negara dan kepemerintahan. Pada masa sebelum terjadinya reformasi pada tahun 1998, aspirasi politik masyarakat banyak dikekang sehingga konsep yang berkaitan dengan kekuasaan seperti struktur negara dan kepemerintahan tidak banyak dibicarakan. Kelompok yang banyak berpartisipasi dalam berkembangnya konsep dan proses demokrasi di Indonesia adalah kelompok muda di Jakarta. Hal yang sama tidak ditemukan di Palembang karena wacana mengenai demokrasi tidak dikomunikasikan dan dikembangkan sesering di Jakarta dimana hubungan (dalam bentuk demonstrasi dan public hearing) dengan lembaga legislatif dan pemerintahan pusat dapat dilakukan dengan mudah.

Perbedaan yang terjadi antara partisipan di Jakarta dan Palembang dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu konteks sosial yang salien dan kerekatan hubungan sosial yang ada di masing-masing tempat tersebut. Jakarta, pada saat dilakukan penelitian ini, memiliki konteks sosial tidak dalam kondisi pemilihan kepala daerah, yang berarti memiliki salien yang rendah atas konsep pemimpin. Palembang di satu sisi akan segera melaksanakan pemilihan kepala daerah dalam waktu dekat pada saat penelitian ini dilaksanakan. Kondisi yang salien di Palembang mendorong orang untuk selalu membicarakan dan berbagi pikiran mengenai konsep pemimpin sehingga representasinya menjadi lebih homogen daripada di Jakarta. Faktor kedua diduga adalah hubungan sosial yang berbeda antara Jakarta dan Palembang. Penduduk Jakarta mulai banyak mengadopsi ide privasi dan individualitas dalam kehidupan sehari-hari sebagai efek kehidupan metropolitan sedangkan di Palembang budaya kolektifnya masih cukup kuat melekat atau setidaknya lebih lekat daripada Jakarta. Akibatnya, gagasan mengenai obyek lebih banyak dibagi (shared) di Palembang daripada di Jakarta. Hal ini sesuai dengan pendapat Moscovici (1973 dalam Flick, 1998) dan Jodelet (1984 dalam Flick, 1998) bahwa komunikasi dan interaksi berperan penting dalam proses pengikatan makna mengenai suatu obyek yang abstrak dalam masyarakat.

Tabel 4 menyajikan secara keseluruhan perbadingan representasi pemimpin di kedua tempat. Kesemua kelompok, baik berdasarkan usia ataupun berdasarkan lokasi menunjukkan bahwa representasi utama pemimpin adalah kepribadian (misalnya mengayomi, berkepribadian bagus, jujur, adil/pertimbangan, berwibawa, memperhatikan rakyat/peduli, tepati janji, bijaksana, bertanggung jawab, tegas). Seperti yang sebelumnya telah dibicarakan, terdapat perbedaan antara partisipan di Jakarta dan di Palembang. Secara keseluruhan, sistem dan struktur merupakan representasi mengenai pemimpin yang penting di Jakarta, namun tidak di Palembang. Ini berarti bahwa konteks lingkungan berperan dalam membentuk representasi sosial mengenai suatu obyek. Hal ini menerangkan bahwa kepribadian dan konteks situasional merupakan hal yang berperan penting dalam pembentukan representasi sosial di masyarakat mengenai konsep pemimpin yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin seperti yang sebutkan oleh Suedfeld et al. (2001).

Kata kepribadian adalah kata yang paling banyak diasosikan oleh partisipan baik sebagai kata pertama, kedua, atau ketiga yang paling merepresentasikan kata pemimpin. Dari 33 kata mengenai kepribadian yang tersebar di Palembang dan Jakarta, terdapat 3 kata yang mencerminkan kata dengan konotasi negatif, yaitu kata ”tidak menepati janji, otoriter, dan arogan.” Selebihnya adalah kata-kata yang berkonotasi positif. Hal ini menunjukkan bahwa selama 32 tahun Indonesia dipimpin oleh Soeharto, dan selama 10 tahun Indonesia telah dipimpin oleh 4 pemimpin berikutnya (B.J. Habibie, Abdurraman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono) tidak membuat representasi tentang pemimpin di Indonesia menjadi negatif. Walaupun selama ini muncul demikian banyak kritik terhadap kepemimpinan nasional dan lokal di Indonesia, kritik tersebut tidak masuk kedalam representasi masyarakat tentang pemimpin. Penjelasan lain adalah bahwa masyarakat masih memegang dan mempertahankan konsep ideal dan harapan mengenai pemimpin. Artinya, pemimpin masih dianggap perlu dan amat dibutuhkan. Kata seperti mengayomi, berkepribadian bagus, adil, dan perhatian pada rakyat kecil sebagai kata yang seringkeluar di dalam kategori kepribadian mencerminkan bahwa representasi masyarakat saat ini menghubungkannya dengan sang penyelamat (savior).

Senada dengan itu, di dalam tipologi Blondel mengenai kepemimpinan (Fukai, 2001), tipologi penyelamat sangat diinginkan oleh rakyat ketika keadaan suatu bangsa terancam dan tidak memiliki arahan yang jelas. Penyelamat di sini bukan penyelamat yang bersifat otoriter dan arogan, tetapi mereka yang dapat mendidik, menjaga, dan merawat rakyat dan negara dengan baik. Model pemimpin seperti ini dekat dengan dimensi feminin yang dikembangkan oleh Hofstede dan Hofstede (2005) di mana hubungan dan kualitas lebih penting daripada pemimpin yang asertif, kompetitif, dan ambisius yang mencerminkan dimensi maskulin..

Hasil temuan penelitian ini menunjukkan adanya makna yang berbeda mengenai pemahaman pemimpin oleh orang-orang Amerika Latin (Bentley, 2001). Bagi orang-orang Amerika Latin, otoritas dianggap sesuatu yang sangat penting sebagai pembeda antara pemimpin dan rakyat. Otoritas ini memberikan kewenangan pemimpin memberikan kebijakan tanpa peru takut ditentang oleh rakyat. Pemimpin yang agresif, tegas, dan ambisius adalah model pemimpin yang dipahami paling cocok dengan keadaan masyarakat Amerika Latin.

Terdapat peprbedaan antara Jakarta dan Palembang dalam persebaran kata-kata yang mengasosiasikan pemimpin. Partisipan Jakarta menghasilkan makna yang tidak dimiliki oleh partisipan Palembang. Kata seperti visioner, komunikatif, komitmen, mengabdi, terdepan, berkorban, dan bertindak cukup banyak dihasilkan oleh partisipan di Jakarta namun tidak dihasilkan oleh partisipan di Palembang sebagai kata yang memaknai kata pemimpin.

Sebaliknya, terdapat makna pemimpin yang dihasilkan oleh partisipan Palembang yang tidak dihasilkan oleh partisipan Jakarta. Partisipan Palembang banyak mengasosiasikan pemimpin dengan konsep tujuan atau kondisi ideal, misalnya pemerintah aman, pemerintah tentram, damai, membawa makmur, membuka lowongan kerja, barangmurah, berobat gratis, dan membangun jalan, yang tidak dihasilkan oleh partisipan di Jakarta. Pemimpin tidak dihubungkan dengan keadaan yang damai oleh penduduk Jakarta, yang justru direpresentasikan oleh 44 partisipan Palembang sebagai makna yang paling merepresentasikan kata pemimpin. Berdasarkan hasil penelitian ini, hal yang dianggap penting bagi penduduk Jakarta, selain kepribadian adalah visi dan misi seorang pemimpin. Selain itu, terdapat persebaran kepentingan yang berbeda mengenai kemampuan interpersonal terhadap tujuan atau kondisi ideal dari partisipan asal Palembang dengan partisipan asal Jakartapada kondisi di Palembang dimana konsep pemimpin sangat salien, dibandingkan dengan di Jakarta dimana konsep pemimpin tidak salien. Konteks sosial di Palembang memberikan dorongan serta keinginan sosial mengenai masa depan yang terkait dengan kebutuhan daerah yang dipersepsikan oleh masyarakat, sementara di Jakarta hal ini tidak terjadi.

Hal yang menarik lainnya adalah bahwa konsep pemimpin (kecuali pada kelompok usia muda Jakarta) tidak diasosiasikan dengan kuat dengan ketegori sistem atau struktur. Konsep pemimpin tidak mempuat partisipan berpikir mengenai negara, kekuasaan, pemimpin formal atau struktur pemerintahan. Hal ini mengimplikasikan bahwa peran pemimpin sektor informal masih sangat kuat, walaupun kesimpulan ini perlu dipelajari lagi lebih lanjut.

SIMPULAN & SARAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemimpin memiliki makna yang luas di Indonesia. Pemimpin tidak sekedar diartikan sebagai seseorang yang membimbing, mengatur, menujukkan, memerintah atau mengontrol kegiatan yang lain seperti apa yang diartikan oleh Chaplin (2004) atau pemimpin yang sehat, pintar, keadaan fisik yang menarik, orang yang memiliki keyakinan diri, sosiabilitas, aktif berbicara, dan orang yang memiliki domonansi (Mann, 1959; Mullen et al; Hogg dan Vaughan, 2002), tetapi terdapat makna-makna lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pemimpin. Penelitian ini mengkategorikan makna pemimpin menjadi tujuh kategori utama, yaitu 1) kepribadian (personality traits), 2) keahlian memimpin, 3) Kemampuan interpersonal, 4) Tujuan atau kondisi ideal yang diharapkan dihasilkan melalui pemimpin yang baik, 5) Sistem dan struktur, 6) Penampilan, dan 7) lain-lain.

Konsep abstrak mengenai pemimpin dimaknai berbeda oleh kelompok usia muda dan tua di Jakarta dan antara partisipan di Jakarta dan di Palembang yang memiliki konteks sosial yang berbeda pada saat penelitian ini dilaksanakan. Secara umum, sebagian besar partisipan mengasosiasikan pemimpin dengan konsep kepribadian. Diimplementasikannya proses demokrasi di Indonesia menyebabkan kelompok usia muda di Jakarta memiliki representasi yang tidak dimiliki oleh kelompok tua, yaitu tentang sistem dan struktur. Konteks sosial pada masing-masing tempat menyebabkan terjadinya beberapa perbedaan representasi mengenai pemimpin, yang menonjol pada penelitian ini adalah pada kemampuan interpersonal dan pada tujuan atau kondisi ideal.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat representasi sosial mengenai pemimpin pada latar belakang budaya yang berbeda dan pada kelompok sosial yang dibedakan berdasarkan pekerjaan. Hubungan antara peran pemimpin formal dan informal perlu digali lebih dalam dimana pada saat ini di Indonesia sebetulnya telah terjadi transisi peran pemimpin dari pemimpin informal ke pemimpin formal dimana pemimpin informal mengalami delegitimasi dan pemimpin formal mengalami legitimasi melalui pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif sebagai bagian dari proses demokasi.

Comments
  1. ani says:

    selamat siang.
    maaf,,bapak.
    mau bertanya, apakah boleh tulisan tentang representasi soial ini saya gunakan sebagai bahan tugas kuliah?

    terima kasih.

  2. winalesmana says:

    wew.. saya berencana untuk melakukan penelitian ttg representasi sosial.. mohon doanya ya.. semoga lancar🙂

  3. suryo aji says:

    referensi bukunya apa saja ya yang tentang representasi sosial? mohon di respon..

    • idhamputra says:

      Halo mas Suryo Aji,
      mohon maaf baru memberikan jawaban. mengenai representasi sosial, sebenarnya banyak mas. Akan tetapi sebagai pengantar, buku:
      Flick, U. (ed) (1998). The psychology of social. Cambridge: Cambridge University Press
      atau
      Deaux, K., & Philogene, G. (2001). Representations of the social. Massachusetts: Blackwell

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s