CATATAN PERIHAL MUTILASI (bag.2)

Posted: December 10, 2008 in negeriku, seputar ilmu sosial
Tags: , , , , ,

(bag.2)

 

M. Enoch Markum

Idhamsyah E.P.

Alfindra P.

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

 

 

The Integrated Cognitive Antisocial Potential (ICAP)

Teori Integrated Cognitive Antisocial Potential (ICAP) diciptakan untuk menjelaskan perilaku kriminal yang dilakukan oleh pria dengan status ekonomi dan sosial rendah. Namun, dalam perkembangnya kemudian dimodifikasi untuk menjelaskan tindakan kekerasan (violence). Kata integrated dalam teori ini mengacu pada penggabungan beberapa ide dari teori-teori lain, termasuk teori strain, control, labeling, dan rational choice approaches. Konstruk utama teori ini adalah Antisocial Potential (AP), yang mengasumsikan bahwa perubahan dari antisocial potential menjadi tindakan antisosial dan kekerasan bergantung para proses kognitif (berpikir dan pengambilan keputusan) yang juga memperhitungkan kesempatan (criminal opportunity)dan adanya korban (victim). Yang dimaksud dengan AP adalah potensi untuk melakukan tindakan antisosial, termasuk tindakan kekerasan. AP terbagi dua, jangka panjang (long term) dan jangka pendek (short term). Masing-masing individu memiliki perbedaan dalam AP jangka panjang dan AP jangka pendek. Pada AP jangka panjang, faktor-faktor yang berpengaruh adalah impulsiveness, tekanan (strain), tokoh panutan (modeling) dan proses sosialisasi, dan pengalaman hidup. Sementara pada AP jangka pendek bergantung pada motivasi dan faktor situasional. Teori ICAP mengemukakan bahwa faktor keluarga, teman sebaya, sekolah, dan lingkungan, akan berpengaruh terhadap potensi individu untuk melakukan tindak kekerasan.

Motif utama yang dapat memberikan kekuatan (energizer) timbulnya AP jangka panjang yang tinggi adalah keinginan memiliki materi, status sosial dalam penjara, kegembiraan, dan kepuasan seksual. Akan tetapi, motivasi ini hanya akan mengakibatkan AP yang tinggi apabila metode antisosial digunakan secara rutin untuk memenuhi keinginan individu yang bersangkutan. Metode antisosial cenderung digunakan oleh individu yang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka secara sah, seperti pada orang yang berpenghasilan rendah, tidak bekerja, dan mereka yang gagal di sekolah. Namun, metode yang digunakan akan bergantung pada kemampuan fisik dan keahlian yang dimiliki oleh individu.

 

Gambar 1. Model ICAP

Untuk membantu pemahaman mengenai ICAP berikut dikemukakan gambar 1.

Dikutip dari Farrington D.F. (2003) Origins of violent behavior over the life span. In J.F. Flannery., A.T. Vazsonyi., & I. D. Waldman (Ed.), The Cambridge handbook of violent behavior and aggression (pp. 19-48).

 

Bedasarkan teori ICAP, tindakan kriminal dan perilaku antisosial bergantung pada interaksi antara individu (dengan tingkat AP pada saat itu) dengan lingkungan sosialnya (khususnya kesempatan untuk melakukan tindakan kriminal dan adanya korban). Potensi jangka panjang dan jangka pendek terhadap tindak kekerasan terakumulasi pada individu. Potensi jangka pendek berbeda-beda pada individu tergantung pada faktor-faktor energizing , seperti merasa bosan, marah, mabuk, atau frustrasi karena diolok-olok oleh teman. Kesempatan melakukan tindakan kriminal dan keberadaan calon korban bergantung pada aktivitas rutin individu. Berada dalam kondisi/situasi yang memungkinkan untuk dilakukannya tindakan kriminal, atau adanya calon korban, dapat meningkatan potensi antisosial jangka pendek. Sebaliknya, meningkatnya potensi antisosial jangka pendek dapat memotivasi individu untuk melakukan tindak kriminal dan mencari korban.

Selanjutnya tatkala individu dihadapkan dalam situasi yang memungkinkan dilakukannya tindak kekerasan, diwujudkan atau tidaknya tindak kekerasan bergantung pada proses kognitif. seperti mempertimbangkan keuntungan subjektif, risiko, dan probabilitas hasil yang akan diperoleh dari masing-masing tindakan bedasarkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Persepsi keuntungan dan risiko subjektif mengacu pada faktor situasional langsung, seperti persepsi mengenai manfaat (utility) menyakiti korban, dan seberapa besar kemungkinan akan ditangkap polisi. Faktor sosial juga turut berperan, seperti ketidaksetujuan orangtua dan pasangan perempuan, dorongan serta reinforcement dari teman sebaya. Secara umum, individu cenderung membuat keputusan yang sepertinya rasional untuk mereka, namun orang dengan AP yang rendah tidak akan melakukan tindak kriminal walaupun hal tersebut sepertinya rasional. Sebaliknya, tingkat AP jangka pendek yang tinggi (misal: disebabkan oleh mabuk atau amarah) dapat memicu individu untuk melakukan tindak kekerasan walaupun hal tersebut tidak rasional. Namun, dengan dilakukannya tindak kekerasan hal ini dapat mempengaruhi dan mengubah AP jangka panjang, karena telah terjadi suatu proses pembelajaran, sehingga proses kognitif dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang pun akan berubah. Pengaruh ini akan lebih mungkin terjadi apabila individu mendapatkan konsekuensi yang memberikan reinforcement (misal: mendapatkan kenikmatan) atau punishment (misal: mendapatkan sanksi hukum). Selain itu apabila perilaku/tindak kekerasan mengakibatkan individu mendapatkan label/stigma, maka akan semakin sulit untuk dirinya mendapatkan apa yang ia inginkan secara legal, sehingga dapat meningkatkan AP individu tersebut.

Pendekatan ini secara eksplisit mencoba untuk mengintegrasikan teori perkembangan dan situasional. Interkasi antara individu dengan lingkungan terlihat dari keputusan yang diambil oleh individu dalam siatuasi yang memungkinkan dilakukan tindak kriminal, yang pada dasarnya bergantung pada potensi untuk perilaku antisosial dan pada faktor-faktor situasional (risiko, keuntungan, dan probabilitas). Selain itu, panah dua arah menunjukkan adanya kemungkinan bahwa dengan adanya kesempatan untuk melakukan tindakan kriminal dapat meningkatkan AP jangka pendek, dan sebaliknya. Teori ini juga memiliki elemen kognitif (persepsi, memori, dan pengambilan keputusan), dan juga pendekatan social learning dan causal risk factor.

 

Aplikasi ICAP pada kasus “Ajo”

Saat ini ada dua faktor pada kasus Ajo yang memiliki peran besar dalam pembentukan anitsocial potential jangka panjang pada dirinya. Pertama adalah latar belakang keluarga Ajo. Menurut pengakuan Ajo, dalam interview psikologi, kedua orangtuanya selingkuh, bahkan ia menyaksikan orangtuanya bersanggama dengan selingkuhannya. Pada saat itu Ajo berusia 4-5 tahun. Hingga sekarang ia masih ingat persis tempat dan waktunya. Selain Ajo tidak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, saat Ajo melakukan kesalahan ia akan mendapatkan hukuman yang sangat keras oleh ibunya. Hal itu menyebabkan ia menjadi sangat takut dan benci terhadap ibunya, sehingga berdampak ketidaksukaannya pada perempuan.

Penelitian oleh Farrington, Gallagher, Morley, St. Ledger, dan West, (1990), mengidentifikasi empat faktor yang merupakan prediktor tindak kekerasan (behavioral, individual, family, socioeconomic). Mengacu pada hasil penelitian ini, pengakuan Ajo menunjukkan beberapa masalah dalam keluarganya; keluarga tidak harmonis (broken family), konflik antara orangtua (parental conflict), pengawasan yang buruk (poor supervision) dan disiplin keras (harsh discipline). Pada model ICAP, pola asuh yang buruk (poor child rearing) dan keluarga yang tidak harmonis (disrupted family) akan mengakibatkan gangguan hubungan kelekatan (attachment) dan sosialisasi (socialization) pada individu. Faktor kedua adalah kondisi Ajo yang tidak memiliki pekerjaan tetap (unemployment), sehingga ia tidak memiliki penghasilan yang tetap (low income). Pada model ICAP, hal ini akan mempengaruhi Long Term Energizing, directing, dan capabilities.

Kedua faktor, keluarga dan status pekerjaan, merupakan sumber dari Long Term Antisocial Potential. Sebenarnya ada faktor lain, yaitu jejak kriminal (criminal parents, delinquent peers, delinquent schools, high crime neighbourhood), yang berperan sebagai panutan antisosial ( Antisocial Models) bagi individu yang juga berpengaruh terhadap Long Term Antisocial Potential. Namun data mengenai hal ini tidak tersedia dalam kasus Ajo. Long Term Antisocial Potential juga dipengaruhi oleh peristiwa hidup (life events) dan sifat impulsif (impulsiveness). Dari hasil wawancara, pengalaman hidup Ajo diliputi oleh kekecewaan, antara lain, habisnya harta keluarga, menyaksikan perselingkuhan orangtuanya, kebingunan akan identitas diri sebagai gay, dan penolakan oleh orang-orang yang dicintainya (orangtua, guru, dan teman sekolah).

Uraian di atas menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi Long Term Antisocial Potential pada Ajo sehingga ia memiliki predisposisi tinggi bagi pembentukan perilaku antisosial. Seseorang dengan Long Term Antisocial Potential yang tinggi lebih kondusif terhadap Short Term Antisocial Potential (faktor motif dan situasi). Short Term Antisocial Potential juga dipengaruhi oleh Short Term Energizing Factors, yang pada kasus Ajo adalah kondisi frustrasi, yang didorong oleh keinginan akan kemapanan materil (untuk dirinya dan pasangannya), sementara ia tidak memiliki pemasukan yang tetap. Selain itu ada rasa marah terhadap orang-orang yang mengecewakan dan membuatnya merasa terancam (mis: ancaman terhadap hubungan romantis yang dimilikinya). Selanjutnya, hasil penyidikan polisi menunjukkan bahwa korban-korban pembunuhan oleh Ajo adalah orang-orang yang dekat dengannya (Tempo, Juli 2008). Mengacu pada model ICAP, maka hal ini menunjukkan bahwa korban (victim) adalah orang-orang yang berada dalam kegiatan “sehari-hari” Ajo (routine activities). Dengan berada dalam lingkup tersebut, maka Ajo memiliki banyak kesempatan untuk melakukan tindak kekerasan (opportunities).

Pada tahap berikutnya terjadi proses kognitif (cognitive processes) pada diri individu untuk menentukan tindakan selanjutnya. Menurut Rational Choice Theory (Cornish dan Clarke, 1987; Feldman, 1993; Samenow, 2004) pada dasarnya manusia adalah makhluk yang rasional. Dalam pengambilan keputusan untuk bertindak, termasuk dalam melakukan tindak kriminal pun, manusia akan mengambil keputusan melalui proses yang rasional.

Proses kognitif, mencakup pengambilan keputusan (decision making), risiko (cost), keuntungan (benefits), kebolehjadian (probabilities) dan skrip (script).Pada kasus Ajo, yang sudah membunuh 11 kali, maka proses pengambilan keputusan untuk melakukan tindak kekerasan dan pembunuhan tidaklah sulit. Karena, ia sudah memahami risiko dan keuntungan dari tindakannya. Selain itu, ia pun memahami kebolehjadian dari perilakunya untuk ditangkap polisi adalah nol, karena ia tidak pernah tertangkap. Maka, skrip (script) yang dimilikinya, yaitu prosedur dari tindak kriminal yang dilakukannya, pembunuhan, pengambilan harta, dan penyembunyian mayat serta barang bukti, menurut Ajo adalah sudah sangat sempurna. Semua faktor di atas membuat keputusan untuk melakukan tindak kekerasan (violence, antisocial behavior), membunuh, mudah bagi diri Ajo. Setelah berulang kali membunuh, ia memahami betul konsekuensi dari perilakunya (consequencess), ia mendapatkan reinforcement, berupa harta korban, dan kenyataan bahwa ia sebelumnya tidak pernah tertangkap juga menjadi reinforcement bagi perilaku tersebut. Hal ini menerangkan telah terjadi proses pembelajaran pada diri Ajo dalam melakukan pembunuhan yang “sukses”.

Perihal Mutilasi yang dilakukan Ajo, berdasarkan fakta yang ada, dari 11 korban yang ditemukan hanya korban terakhir yang dimutilasi. Mayat 10 korban awal yang dibunuhnya dikubur di lingkungan rumahnya. Sementara pembunuhan korban yang terakhir berlangsung di sebuah apartemen yang jauh dari lingkungan rumahnya ( kampung). Mengacu pada Rational Choices Theory, pilihan memutilasi korban karena secara rasional merupakan cara yang praktis dan efisien untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang dilakukan Ajo. Jadi dapat dikatakan, model mutilasi yang dilakukan oleh Ajo adalah mutilasi yang sifatnya defensif, yaitu pemotongan/pemisahan anggota badan dengan tujuan untuk menghilangkan jejak setelah pembunuhan terjadi. Ini berarti bahwa tindakan Ajo memutilasi korban merupakan tindakan terencana, sehingga wajar bila ia dianggap psikopat. Namun, anggapan ini perlu dipertanyakan mengingat pisau yang digunakan untuk melakukan mutilasi dipinjam secara mendadak dari kantin apartemen. Hal ini menunjukkan tidak adanya persiapan untuk melakukan mutilasi. Mengapa Ajo tidak memutilasi 10 korban awal karena ia beranggapan tidak perlu melakukan mutilasi untuk menghilangkan jejak, tetapi cukup dengan cara mengubur di lingkungan rumahnya saja.

Penutup

Hasil analisis mengenai apa yang menyebabkan orang bertindak agresif sampai menghilangkan nyawa orang lain, dan sampai hati atau tega melakukan mutilasi, pada kasus mutilasi di Indonesia dapat dikatakan masih lemah. Seperti yang telah dijelaskan pada pengantar penulisan, bahwa sumber data utama yang dijadikan rujukan untuk menganalisis predisposisi pelaku mutilasi hingga menyimpulkan melakukan pembunuh, lalu mengahiri dengan memutilasi korban berasal dari media massa yang berbeda kepentingannya (kepentingan jurnalistik) dengan kepentingan akademik. Data tentang mutilasi yang diberitakan oleh media massa amatlah terbatas, kering, dan bombastis.

Di luar Indonesia sendiri, sebenarnya telah banyak yang menjelaskan mengenai karakteristik dan kebolehjadian pelaku kejahatan, namun sifatnya sangat konstekstual dan tidak menggambarkan secara khusus karakteristik pelaku kejahatan di Indonesia. Ini berarti bahwa urgensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut melalui pengambilan data yang mendalam dan menyeluruh, serta spesifik Indonesia sangat mendesak. Diharapkan dari data yang terkumpul kelak akan diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik pelaku mutilasi, sehingga dapat mempersempit tersangka pelaku pembunuhan.

Pengakuan dari petugas penegak hukum yang melakukan penyelidikan pembunuhan mutilasi, korban biasanya sulit untuk diidentifikasi. Dampak dari kesulitan mengidentifikasi korban merupakan kendala untuk melakukan identifikasi pelaku pembunuhan. Berbagai teori yang mencoba menjelaskan tindak kekerasan, seperti peran faktor genetis, kepribadian, sosioekonomi, tekanan, insting, dan rasionalisasi, menurut Farrington, belum dapat menjelaskan secara keseluruhan. Hal ini karena teori-teori tersebut berdiri sendiri-sendiri, dan tidak mempertimbangkan teori lainnya. Bagi teoritisi yang menilai kasus pembunhan berdasarkan gejala rasionalitas, teoritisi tersebut terlalu cepat menyimpulkan karena pelaku pembunuhan, seperti manusia yang lainnya juga memiliki masa lalu. Sementara bagi teoritisi yang hanya menilai berdasarkan peyelidikan mengenai masa lalu pelaku pembunuhan, teoritis itu juga terlalu cepat menyimpulkan karena pelaku pembunuhan memiliki logika berpikir.

Ada tiga faktor penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan predisposisi pelaku kejahatan, yaitu dorongan atau rangsangan melakukan kejahatan, antisosial model, dan kelekatan pada tindak kejahatan. Dorongan melakukan tindakan kejahatan ini dapat dipicu karena pekerjaan dan penghasilan yang tidak stabil. Model antisosial dapat terjadi dari orangtua yang kriminal, teman-teman yang delinquent, dan lingkungan yang buruk, sehingga memberikan model tentang antisosial. Selanjutnya, sosialisi antisosial dapat terjadi dari kehidupan masa lalu yang buruk, keluarga yang berantakan, dan adanya kecemasan yang rendah. Jika seseorang telah memiliki model antisosial, dorongan atau pemicu, dan kelekatan pada dunia kejahatan, menurut Farrington (2007) orang tersebut hanya perlu menunggu motivasi dan situasi yang memicunya.

Akhirnya, mengingat saat ini telah tercatat ada 61 kasus mutilasi yang terjadi sejak 1967, memetakan karakteritik dan akar predisposisi pelaku kejahatan merupakan hal yang amat penting untuk cepat diselidiki. Apalagi ditengah kehidupan sosial yang cepat berubah dan tingkat hidup yang semakin sulit memperbesar kemungkinan meningkatnya data tindak kekerasan.

Comments
  1. Thomas Septi says:

    terima kasih atas tulisan perihal mutilasi.
    membantu saya dalam membuat paper yaang sedang saya kerjakan.

    • idhamputra says:

      alhamdulilah tulisan kami dapat berguna

      • romi says:

        mas idham….saya terkesan dengan tulisan anda. sy bisa share dan diskusi dg anda melalui emal atau phone langsung atau jumpa langsung?
        saat ini sy studi di kriminologi univ indo…
        trima kasih, mas idham

      • idhamputra says:

        alhamdulilah jika tulisan saya (kami) bisa memberi kesan.
        jika ingin bertemu, silahkan romi mampir saja ke fak.psikologi UI Gd. B. lt.1 ruang LPPsi
        kemungkinan saya ada terus dari 9-16 snn-jmt.

  2. romitam75 says:

    mas idham, email saya romi_tam@yahoo.com
    trima ksh mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s