CATATAN PERIHAL MUTILASI (bag.1)

Posted: December 10, 2008 in negeriku, seputar ilmu sosial
Tags: , , , ,

[1]

M. Enoch Markum

Idhamsyah E.P.

Alfindra P.

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

PENGANTAR

Salah satu isu sosial yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan di masyarakat dan diberitakan secara intensif oleh media massa adalah gejala “mutilasi“(mutilation). Gejala mutilasi ini menarik banyak khalayak, sehingga menjadi sasaran empuk kalangan pers, dan oleh karenanya diangkat dan diberitakan oleh seluruh media massa baik media cetak maupun elektronik Maka mutilasi telah menambah perbendaharaan kata atau istilah baru di masyarakat Indonesia yang dipopulerkan oleh media massa. Bahkan tidak sekadar pengetahuan baru, tetapi masyarakat dan sejumlah pakar menganggap bahwa media massa berperan besar dalam menjamurnya gejala mutilasi di Indonesia akhir-akhir ini. Adanya peran media massa sudah ditenggarai sejak lama, pada tahun 1989 terjadi kasus mutilasi dimana pelaku mengakui bahwa perbuatannya terinspirasi oleh pemberitaan media. Pada saat itu tersangka pelaku mutilasi mengatakan : “Ketika mulai panik mau dikemanakan mayat itu, tiba-tiba kami ingat berita di koran tentang mayat terpotong 13 yang ditemukan di Jalan Sudirman. Lalu terlintas pikiran, kalau mayat itu saya potong-potong, tentu polisi sulit melacak.” (Kompas, 10 November 2008).

Perlu dikemukakan catatan bahwa dalam “Kamus Bahasa Indonesia” yang kami teliti tidak ditemukan entri “mutilasi”, sehingga mutilasi barangkali dapat dianggap sebagai kata serapan dalam bahasa Indonesia. Apakah ini berarti mutilasi dan kasus mutilasi merupakan gejala baru, mode, atau kecenderungan baru dalam masyarakat Indonesia? Jika jawabannya “ya”, pertanyaan berikutnya adalah apa latar belakang atau penyebab seseorang melakukan mutilasi, dan sesuai dengan tema “Dialog Psikologi Nusantara” (Discussion on Indigeneous Psychology : Mutilation case-Indonesia Perspective) apakah mutilasi di Indonesia merupakan tindak kekerasan yang dapat digolongkan sebagai indigeneous psychology?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tidaklah mudah karena (1). sumber data utama yang kami jadikan rujukan adalah media massa yang berbeda kepentingannya (kepentingan jurnalistik) dengan kepentingan akademik, (2). data tentang mutilasi yang diberitakan oleh media massa ternyata terbatas ; terkesan kasus mutilasi banyak bermunculan akhir-akhir ini karena diberitakan di semua media massa dan diberitakan berulang-ulang. Dengan demikian, terbuka lebar kemungkinan melakukan analisis spekulatif. Artinya, kami tidak melakukan verifikasi data yang disajikan oleh wartawan dalam medianya, demikian pula hasil wawancara staf pengajar Fakultas Psikologi UI terhadap pelaku mutilasi yang belum tuntas. Kondisi ini menyebabkan makalah ini tidak secara tegas menunjukkan keberpihakan berkenaan dengan kasus mutilasi di Indonesia. Seandainya kita mengikuti rumus K. Lewin (1890-1947) mengenai tingkahlaku – B = F (P,E) – sebagai pisau analisis perilaku pelaku mutilasi, maka data mengenai pelaku mutilasi (P = person) jauh lebih tersedia (walaupun untuk kepentingan jurnalistik) dibandingkan dengan data lingkungan pelaku mutilasi (E = environment), seperti kondisi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Maka makalah ini tidak secara tegas menunjukkan suatu keberpihakan tertentu (positioning), sehingga judul makalah yang kami pilih pun merupakan catatan perihal mutilasi di Indonesia dengan harapan dapat dijadikan inspirasi bagi kajian akademik mengenai gejala mutilasi di Indonesia.

FENOMENA MUTILASI

Dalam empat tahun terakhir ini kasus mutilasi bermunculan di Indonesia dan banyak diberitakan dalam media massa. Jika kita bertitik tolak dari tahun 2005, maka setiap tahun kita saksikan kasus mutilasi, beberapa di antaranya :

2005 : seorang pria yang diduga berusia 29 tahun, tubuhnya dipotong menjadi tiga bagian, ditemukan di Kebon Nanas, Jakarta Timur.

2006 : ditemukan sepasang kaki manusia yang terpotong hingga paha bagian atas, di Kota Baru, Bekasi Barat.

2006 : ditemukan jenazah perempuan yang diduga sedang hamil tanpa kepala di Kelurahan Teluk Pucung.

2007 : ditemukan dua karung berisi tubuh pria dewasa dalam keadaan terpotong-potong di dua tempat yang terpisah di terusan Sungai Cikeas, Kabupaten Bogor.

2007 : ditemukan empat potongan tubuh manusia di tempat pembuangan akhir sampah di Jatibarang, Kecamatan Mijen, Semarang.

2008 : ditemukan tubuh anak laki-laki dalam keadaan terpotong-potong dan tidak utuh di dekat pusat perbelanjaan Bekasi Trade Center, Bekasi.

Berbagai tindakan mutilasi di atas dengan sengaja diketengahkan sekadar menunjukkan salah satu dimensi mutilasi, yakni mutilasi individual (individual mutilation). Di samping ini terdapat mutilasi kolektif (collective mutilation), seperti pada saat kerusuhan suku Dayak dan Madura di Kalimantan Barat, pada tahun 2002, dan pemenggalan kepala tiga siswa SMU Kristen Poso, Sulawesi Tengah dalam kaitan dengan kerusuhan Poso, tahun 2005. Pada kasus mutilasi tiga siswi SMU ini tampak ada dimensi perencanaan karena para pelaku mutilasi selain melengkapi diri dengan parang, juga melakukan tiga kali pengamatan mengenai rute pergi dan pulang sekolah para siswi tersebut. Sementara pada kasus mutilasi di salah satu kamar apartemen di Margonda, Depok, tahun 2008, terkesan mutilasi dilakukan tidak terencana karena, antara lain, menurut pengakuan pelaku mutilasi, pisau yang digunakan untuk melakukan mutilasi dipinjamnya malam itu juga dari kantin apartemen yang bersangkutan. Dalam uraian lebih lanjut akan dikemukakan berbagai dimensi lain dari tindakan mutilasi.

Bila di bagian terdahulu dikemukakan secara sekilas kasus mutilasi di Indonesia sejak 2005 sampai 2008, maka sebenarnya fenomena mutilasi di Indonesia bukan merupakan fenomena baru. Menurut catatan surat kabar Kompas, sejak tahun 1967 sampai tahun 2008 tercatat 61 kasus mutilasi. Kasus mutilasi pertama terjadi di suatu apartemen di Hongkong, melibatkan tiga warganegara Indonesia (suami, istri, dan anak laki-laki mereka yang berusia lima tahun). Pelaku mutilasi adalah suami yang memotong-motong tubuh istri dan anaknya yang kemudian dicampur dengan semen ditanam atau dijadikan dinding dapur apartemennya.

Selain di Indonesia, kasus mutilasi juga terjadi di luar negeri. Bahkan konon, mutilasi telah berlangsung satu abad sebelum masehi (S.M.). Dikisahkan, pada waktu itu di wilayah Amazon kaum wanita menguasai kaum pria dengan pembagian tugas kaum wanita berperang dan kaum prianya dijadikan budak, mengerjakan tugas perempuan seperti menenun dan tugas-tugas rumah tangga lainnya. Selanjutnya salah satu perempuan yang sangat besar kekuasaannya dan menamakan dirinya sebagai Putri Ares (The Daughter of Ares). Sang Putri Ares kemudian mengeluarkan hukum mutilasi bagi anak laki-laki : memotong kaki dan tangan anak laki-laki, agar mereka tidak memiliki kemampuan untuk berperang ; sementara anak perempuan dibakar payudara kanannya dengan tujuan agar pada saat kelak mencapai kematangan, tubuhnya tidak menonjol.

Ilustrasi kasus mutilasi yang lebih mutakhir, antara lain, terjadi di Dublin, Irlandia, pada tahun 2006. Kasus mutilasi ini dikenal dengan Scissor Sisters karena melibatkan dua perempuan bersaudara yang didakwa membunuh pacar ibunya, seorang pria Somalia. Peristiwa pembunuhan itu berawal dari kepulangan mereka berempat menuju ke rumah ibunya (Kathleen) setelah mengkonsumsi alkohol. Setibanya di rumah, sang kakak (Linda, 31 tahun) ditarik oleh pacar ibunya (Mr. Noor), sehingga jarak antara Linda dan Mr. Noor sangat dekat. Dalam keadaan itu Mr. Noor membisikkan kata-kata jorok kepada Linda dan selanjutnya terjadi pertengkaran hebat di antara mereka. Dalam situasi ini, ibunya berulang-ulang mengatakan : “Bunuhlah dia demi saya” sambil memberikan palu dan pisau kepada kedua anak perempuannya. Selanjutnya Linda memukul kepala Mr. Noor dengan palu dan adiknya (Charlotte, 23 tahun) menusukan pisau beberapa kali ke tubuh Mr. Noor. Setelah Mr. Noor meninggal, ibunya (Kathleen) memutuskan untuk memotong-motong mayat pacarnya. Belakangan diketahui bahwa pacarnya ini suka melakukan tindak kekerasan terhadap ibunya. Demikianlah, diperlukan waktu lima jam untuk memutilasi Mr. Noor, dan secara khusus Linda memotong alat kelamin Mr. Noor, agar Mr. Noor tidak bisa memperkosa ibunya lagi. Potongan-potongan tubuh itu dimasukkan ke dalam tas dan bersama dengan badan dan lengan-kakinya dibuang ke sungai dan disebar ke seluruh kota ; sedangkan kepala korban tidak dapat ditemukan.

MUTILASI DALAM PERSPEKTIF LINTAS BUDAYA

Sejauh ini uraian tentang mutilasi menekankan pada perspektif individu pelaku mutilasi dengan motif ekonomi, balas dendam, dan menghilangkan identitas korban. Namun, dalam sejarah peradaban manusia, sebenarnya terdapat tindakan mutilasi yang secara budaya dapat diterima atau dibenarkan. Sebelum membahas mutilasi dan perspektif budaya, terlebih dahulu akan dikemukakan definisi mutilasi.

Mutilation or maiming is an act or physical injury that degrades the appearance or function of the (human) body, usually without causing death.(http://www.answers.com/topic/mutilation)

Atas dasar ini mutilasi tidak hanya terbatas pada tindakan memotong-motong tubuh manusia yang satu oleh manusia yang lain, tetapi juga mencakup tindakan yang menyebabkan luka tubuh, dan biasanya tidak menyebabkan kematian. Dengan demikian, khitan, membuat tato, menindik, dan menoreh wajah atau tubuh, serta membebani daun telinga dengan anting yang berat merupakan perbuatan memutilasi. Bahkan, dengan alasan menghilangkan atau mengurangi penderitaan psikis, terdapat orang yang memindahkan penderitaannya ke tubuhnya dengan cara memotong jari, membakar diri, atau menarik-narik rambut (self mutilation). Dengan demikian, berbeda dengan mutilasi yang melukai orang lain, mutilasi diri ditujukan kepada diri sendiri. Perlu dikemukakan bahwa mutilasi diri berbeda dengan bunuh diri. Orang yang melakukan mutilasi diri tidak berarti merupakan upaya bunuh diri. Di Amerika diperkirakan terdapat dua juta orang pelaku mutilasi diri kronis.

Mutilasi dalam perspektif budaya telah diketengahkan terdahulu, yakni berkenaan dengan memutilasi baik anak laki-laki (memotong kaki dan tangan) maupun anak perempuan (membakar payudara kanan) di kalangan suku Amazon. Selain ini terdapat praktik FGM (female genital mutilation) di Afrika Barat terhadap anak perempuan yang berusia 5-15 tahun. Praktik FGM ini lebih berbahaya daripada mutilasi payudara. Ada beberapa alasan praktik FGM, seperti inisiasi untuk menjadi istri di kemudian hari, demi kebahagiaan rumah tangga, terjaminnya keperawanan, dan tradisi. Praktik FGM ini sering berakibat buruk bagi anak perempuan yang bersangkutan karena di samping lingkungan yang tidak bersih, juga peralatan mutilasi yang digunakan biasanya potongan gelas, pisau tumpul, atau pisau cukur berkarat. Akibat praktik FGM ini, antra lain, infeksi, tetanus, terganggunya siklus menstruasi, dan rasa sakit saat bersenggama serta infertilitas. Selain ini wilayah yang mempraktikan FGM ternyata menunjukkan angka kematian ibu dan anak yang tinggi.

Pada suku Afrika lainnya, praktik mutilasi merupakan upacara keyakinan yang mereka anut. Anak perempuan harus melakukan 12 rangkaian goresan atau luka untuk diakui sebagai perempuan dewasa. Demikian juga halnya dengan anak laki-laki ; mereka harus menunjukkan torehan dan bekas luka untuk dianggap sebagai pria dewasa yang matang.

Di Indonesia sebenarnya terdapat juga praktik mutilasi, yakni memenggalkepala orang atau kepala musuh di kalangan suku Dayak dengan tujuan mengambil kekuatan dari korban (mengayau). Barangkali praktik mutilasi suku Dayak ini ada kesamaannya dengan praktik mutilasi suku Indian di Amerika, yakni menguliti kepala musuh yang dikalahkan. Perlu dikemukakan bahwa tidak seperti masa lalu, perbuatan mengayau saat ini tidak dibenarkan secara hukum.

MUTILASI KRIMINAL

Uraian terdahulu menggambarkan bahwa mutilasi memiliki beberapa dimensi, seperti dimensi perencanaan (direncanakan-tidak direncanakan), dimensi pelaku (individu-kolektif), dan dimensi ritual atau inisiasi, serta dimensi motif yang hanya disinggung secara sekilas (balas dendam, memiliki harta orang lain, dan memperoleh atau menambah kekuatan). Dengan demikian, perbuatan memutilasi tidak dapat dipukul rata sebagai tindakan kriminal yang dapat dikenakan sanksi pidana. Namun, untuk kepentingan forum akademik saat ini, kami membatasi pembahasan pada mutilasi kriminal.

Dari berbagai macam jenis mutilasi, secara umum setidaknya Karger, Rand, dan Brinkman (2000) membagi jenis mutilasi kepada mutilasi defensive dan offensive. Mutilasi defensif (Defensive Mutilation), atau disebut juga sebagai pemotongan/pemisahan anggota badan dengan tujuan untuk menghilangkan jejak setelah pembunuhan terjadi. Motif rasional dari pelaku adalah untuk menghilangkan tubuh korban sebagai barang bukti atau untuk menghalangi diidentifikasikannya potongan tubuh korban. Mutilasi ofensif (offensive mutilation), adalah suatu tindakan irasional yang dilakukan dalam keadaan mengamuk, “frenzied state of mind”. Mutilasi kadang dilakukan sebelum membunuh korban.

Sebelum membahas mutilasi kriminal lebih jauh, setidaknya ada dua pertanyaan pokok yang harus dijawab dalam menjelaskan mutilasi kriminal, yakni (1). mengapa orang berperilaku agresif sampai menghilangkan nyawa orang lain, dan (2). mengapa orang sampai hati atau tega melakukan mutilasi. Untuk menjawab pertanyaan ini akan diangkat kasus mutilasi individual dengan pelaku mutilasi bernama Ajo (bukan nama sebenarnya). Dipilih kasus Ajo karena beberapa alasan : (1). Ajo melakukan pembunuhan berantai (serial killer), (2). motif melakukan pembunuhan tergolong “lengkap” (dugaan sementara : kombinasi dari menguasai harta orang lain atau motif ekonomi, masalah percintaan atau cemburu, dan menghilangkan jejak).

Mengapa Ajo berperilaku agresif atau melakukan tindakan kekerasan (violence) sampai menghilangkan nyawa orang lain. Ada berbagai teori yang menjelaskan perilaku agresif, di antaranya teori naluri (instinct) dari Sigmund Freud dengan konsep thanatos atau naluri kematian, dan teori frustration-aggression dari Dollard, Miller, Doob, Mowerer dan Sears. Kedua teori ini sekarang sudah ditinggalkan karena menjelaskan perilaku agresif berdasarkan naluri di samping terlalu umum dan sangat sederhana, juga tidak menjelaskan perilaku agresif itu sendiri. Demikian juga halnya dengan teori frustration-aggression yang menyatakan bahwa perilaku agresif selalu didahului oleh kondisi frustrasi (terhalangnya tujuan yang ingin dicapai). Anggapan ini terbukti tidak tepat karena orang bisa berperilaku agresif tanpa mengalami frustrasi lebih dahulu, misalnya, seorang anak kecil yang berperilaku agresif semata-mata karena mengikuti atau meniru perilaku agresif kakaknya; demikian pula tentara di medan perang akan bertindak agresif karena perintah komandannya. Mesikupun teori frustration-aggression ini dianggap lemah, namun kondisi frustrasi sampai saat ini masih dipertimbangkan dalam mencegah atau mengurangi perilaku agresif. Pada kasus Ajo (penganggur dengan gaya hidup konsumptif, yang tidak dapat dipenuhinya) merupakan faktor awal (antecedent) dari perilaku agresifnya (dalam hal ini menghabisi nyawa korban)

Terlepas dari kelemahan teori naluri dan frsutration-aggression sebagaimana dikemukakan pada bagian tulisan terdahulu, yang paling tidak dapat diterima oleh para pakar psikologi sosial adalah pendekatan satu faktor (single factor) dalam menjelaskan perilaku agresif. Oleh karena itu penjelasan atau teori modern saat ini memandang perilaku agresif sebagai hasil interaksi berbagai faktor, baik yang dimiliki oleh individu (kognisi, afeksi, dan gugahan/arousal) dan kondisi lingkungan (media massa, penegakan hukum) (Feldman, 1993; Baron, Branscombe, dan Byrne, 2008). Dalam hubungan ini, teori yang dipilih untuk menjelaskan mengapa Ajo membunuh 10/11 korbannya adalah, The Integrated Cognitive Antisocial Potential (ICAP)(Farrington, 2001).

bersambung ke bag.2


[1] Disampaikan pada The 1st National Round-Table Discussion on Indigeneous Psychology : Mutilation Case-Indonesia Perspective di Auditorium Universitas Bina Nusantara tanggal 3 Desember 2008.

Comments
  1. Ressi says:

    terimakasih banyak ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s