Manusia Dalam Bentangan Pemikiran Psikologi Evolusi Sosial

Posted: November 19, 2008 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , , ,

Psikologi sosial sebagai ilmu yang memberi perhatian pada upaya menjelaskan interaksi manusia (Hogh & Vaughan, 2002) menunjukkan perkembangannya yang luas setelah meletusnya Perang dunia I dan II (Kenrick, Ackerman, & Ledlow, 2003). Perkembangan ini meliputi hal-hal seperti proses berpikir manusia terhadap lingkungan, diri, ide yang didapat dari belajar, stereotipe sampai pada ketakutan-ketekutan pada dunia sosial. Sebagian besar pengembang psikologi sosial meyakini gejala tersebut berasal dari latarbelakang individu berikut pengalaman hidupnya. Karakteristik manusia itu Nurture pada lingkungannya. Bagi penggagas teori psikologi evolusi, hipotesis mengenai tingkah laku dan berpikir manusia yang hanya dapat ditelusuri jejak kausalitasnya dari latar belakang individu dan pengalaman merupakan asumsi yang terlalu dangkal dan sempit. Konsep tersebut mengartikan manusia sebagai mahkluk yang selalu terlahir dari kekosongan (Kenrick, Ackerman, & Ledlow 2003), sementara budaya manusia adalah budaya yang selalu berkembang. Tulisan ini akan menerangkan argumen-argumen dari aliran pemikiran evolusi dengan bukti-bukti temuan ilmiah mereka.

Kata Kunci: Evolusi, Intsting, Adaptasi, Memori, Pikiran dan Budaya

Pendahuluan

Tokoh psikologi awal seperti William james dan William McDougal menganggap bahwa pikiran sebagai sebuah sistem biologis, seperti hati atau paru-paru yang dirancang untuk melakukan suatu cara yang partikular (dalam Burnstein & Branigan, 2000). Seberapa baik pikiran yang terbentuk adalah tergantung kesesuaiannya dengan lingkungan dan apa yang dibutuhkan lingkungannya. Oleh sebab itu menurut James dan McDougal pikiran juga berevolusi dan selalu berupaya menyesuaikan keadaannya pada lingkungan agar manusia dapat meneruskan keberlangsungan hidup mereka dan keturunannya.

Ridley (2005) sebagai seorang ahli genetis mengumakakan dengan tegas bahwa pikiran manusia ketika dia terlahir, pikiran yang ada di dalamnya tidaklah “tabula rasa” seperti apa yang dipahami oleh John Lock . DNA manusia yang berjumlah 23 kromosom, pada kromosom 7, kromosom tersebut diduga merupakan kromosom yang membawa ide-ide nenek moyang manusia. Tentu saja pendapat Ridley ini semakin memperkuat asumsi James dan McDougal bahwa pikiran itu pasti berevolusi dan memberikan naluriah bertahan hidup di lingkungannya. Ridley sangat meyakini bahwa dunia sosial sangat besar menentukan, membetuk perilaku, dan membentuk kepribadian seseorang tetapi menurutnya bukan berarti hal tersebut menegasikan sebab biologis yang juga memberikan peranan pada perilaku dan kepribadian seseorang. Banyak peristiwa dan kejadian yang butuh penjelasan terpirinci, tidak sekedar dari pengalaman atau keadaan lingkungan seperti kenapa laki-laki saat memilih pasangan lebih menilai dari penampilan fisik sementara perempuan dari status sosial? Kenapa cerita-cerita mengenai ”orang tua tiri yang kejam” ditemukan dibanyak budaya? Kenapa orang cenderung membantu seseorang yang lebih dikenal daripada yang tidak? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang dengan detail dapat dijawab melalui perpekstif psikologi evolusi. Setidaknya ada tiga konsep besar yang dapat dijelaskan melaui penjelasan psikologi evolusi yaitu pikiran manusia, tubuh, dan perilaku.

Pikiran Manusia

Kemampuan untuk menghitung diperkirakan sebagai keahlian kognitif yang mendasar pada manusia (Lindoln, 2001). Allan Holmberg, antropolog dari Amerika, menemukan seorang anak yang tidak bisa menghitung angka ketiga. Hari ini, besok, dan lusa dia menyebutnya dengan hari ini, besok, dan saudara dari besok (the brother of tomorrow). Ini aneh, karena anak yang di teliti oleh Halmburg, selain permasalahan hitungan angka 3 dia tetap terlihat seperti anak normal lainnya.

Kasus menarik lainnya ditemukan jauh menyebrangi samudra Pasifik yaitu pada suku Dani dari Papua New Guinea. Suku Dani memiliki persepesi yang berbeda tentang warna dari masyarakat lainnya. Cukup berbeda dengan penemuan Holmberg tentang kemampuan numerologi suatu suku di Amerika Tengah, di suku Dani, perihal warna, mereka hanya melihat dua sisi warna yaitu hitam dan putih.

Reyna (2002) dalam bukunya yang berjudul “Conection: brain, Mind, and Culture in a Social Anthropology”, menjelaskan bahwa pelaku evolusi sebenarnya bukan hanya yang ada terlihat pada tubuh secara fisik, melainkan otak kita juga ikut berevolusi. Perubahan keadaan tubuh kita seperti apa, sebenarnya juga ikut mempengaruhi kapasitas berpikir dari otak. Bagi Hamilton (dalam Ridley, 2005) manusia sebagai spesies yang telah menjalani evolusi jutaan tahun tidak lah mungkin sama sekali tidak menurunkan sesuatu pada ide. Daya pikir manusia yang dihasilkan dari interaksi dengan lingkungan adalah proses dari adaptasi manusia selama ribuan tahun terhadap tempat ia tinggal saat ini. Pola kehidupan berubah karena manusia berusaha menyesuaikan diri pada keadaan lingkungannya.

James dan McDougal (dalam Burnstein et al., 2000) mengemukakan bahwa perkembangan pikiran tergantung pada hubungan interpretasi suatu hal yang sekiranya dapat dilakukan secara baik dan dengan apa yang dibutuhkan lingkungan di mana manusia tinggal. Memperhatikan penemuan Holmberg dan merujuk dengan apa yang dipaparkan oleh James dan Mcdougal, sebenarnya apa yang ditemukan oleh Holmberg bukanlah sesuatu yang luar biasa; pada masyarakat yang di teliti, daerah Amerika Tengah, setelah diteliti lebih dalam ternyata masyarakat lokal pada wilayah itu memang memiliki kapasitas yang sedikit untuk memikirkan angka secara abstrak (Lindolm, 2001). Dari keterangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan kognitif yang terjadi pada anak yang tidak bisa menghitung angka kedua merupakan peristiwa yang biasa saja di dalam lingkungannya namun akan menjadi luar biasa apabila penilaiannya berdasarkan dari lingkungan atau budaya yang memiliki konsep angka yang berbeda. Menurut Lindolm, perkembangan pikiran tentu saja akan berbeda dari tiap-tiap lingkungan yang kondisi alam dang sosialnya berbeda. Pikiran berkembang pada upayanya untuk beradaptasi pada lingkungannya.

Temuan terkini mengenai pikiran pada manusia menampilkan pula perbedaan ukuran Neocortex, seperti otak yang berukuran besar berasosiasi dengan kehidupan manusia di dalam kelompok besar. Temuan tersebut mengasumsikan bahwa tingkat kompleksitas sosial merupakan dorongan yang amat penting dalam evolusi otak (Byrne & Corp, 2004; Ybarra, Keller, Chan, Baron, Hutsler, Garcia, Sanchez-Burks, Morrison, 2007). Tidak hanya ukuran otak, kompleksitas sosial juga berdampak pada evolusi di pikiran. Burnstein et al., (2000) memberikan penjelasan bahwa evolusi yang terjadi di dalam pikiran adalah juga berasal dari hasil perubahan di dalam genangan gen manusia, dari satu allele[1] mengganti allele yang lainnya, lalu allele yang selamat memberikan dan mengembangkan sistem psikologis, lalu membentuk pikiran dasar. Pikiran dasar ini biasa disebut juga sebagai insting.

Salah satu insting yang membedakan manusia dengan mahkluk lainnya adalah insting bahasa. Berbahasa pada manusia adalah kemampuan yang tingkat kompleksitasnya tidak dapat ditemui pada mahkluk lainnya (Choamsky, dalam Ridley, 2005). Choamsky menemukan keteraturan dalam cara bicara yang tidak pernah diajarkan oleh orang tua dan tidak dapat disimpulkan dari contoh percakapan sehari-hari tanpa kesulitan luar biasa. Keteraturan bahasa manusia menurut Pinker, seorang ahli psikolinguitik, adalah bawaan yang tidak dimiliki mahkluk lain. Bertutur kata selalu terikat keteraturan sehingga kata yang dituturkan memberikan makna. Sebagai contoh seorang anak secara sepontan berkata ”di depan rumah ada pohon mangga” bukan berkata ”mangga pohon rumah ada depan di” karena diartikan tidak memberikan makna apa-apa.

Kemampuan bawaan yang dimiliki manusia bukanlah mengartikan bahwa manusia tidak butuh belajar. Justru dari proses belajar lah manusia terus berkembang dan berevolusi menyesuaikan keadaan sekitarnya. Rangsangan berpikir, pola berpikir pada manusia, intelektualitas, selalu bergantung pada di mana mereka hidup. Tidak hanya evolusi pikiran tetapi juga tubuh dan metabolisme.

Tubuh dan Metabolisme

Tubuh manusia berkembang sesuai dengan apa di berikan olehnya. Struktur alam juga ikut mempengaruhinya. Manusia berbeda-beda karena mereka hidup pada kondisi alam yang berbeda-beda. Pola interaksi dengan alam tersebut membawa struktur tubuh untuk ikut berinteraksi. Bagaimana suatu organisme berhadapan dengan suhu yang kelewat menonjol, bagaimana mereka bergerak seputar lingkungan, makanan apa yang mereka makan, bagaimana mereka mendapatkannya, dan sebagainya.

Warna kulit menjadi ciri yang paling mudah dibedakan di mana kelompok manusia berbeda secara genetik. Hal itu disebabkan sejumlah gen. Pigmentasi gelap barangkali memiliki keuntungan selektif terhadap sinar matahari di daerah tropis.Yang lebih mendekati ketepatan ialah adanya perubahan-perubahan dalam arah warna terang di daerah-daerah dengan sinar matahari lemah (F. Vogel & Motulsky, 1979). Sifat lain yang dapat diamati adalah berat badan, bentuk hidung, warna rambut, dan kesuburan rambut (Storza & Bodmaer, 1971).

Masalah cakupan gizi terhadap kapasitas mengkonsumsi makanan, akan sehatnya orang ini atau tidak, juga terpaut dengat ruang manusia tinggal dan beradaptasi di sana. Laporan tentang gizi sehat dan gizi kurang sehat pada suatu daerah tertentu belum tentu pula cocok dengan pada cocok pada daerah yang lain. Tubuh baradaptasi dengan struktur kehidupan manusia pada tempatnya, demikian pola makan dan pasokan gizi.

Para ahli gizi barat memiliki cukup bukti yang menunjukan bahwa tubuh manusia perlu berbagai vitamin dan mineral setiap harinya agar tidak menjadi korban dari penyakit defisiensi. Salah satunya penyakit akibat defisisensi adalah penyakit kudis yang banyak menyerang para pelaut, karena mereka hanya makan biskuit keras dan minuman berakohol, dan jarang makan sayuran dan vitamin yang banyak mengandung vitamin C. Tetapi, di seluruh dunia, banyak suku bangsa yang selama berabad-abad hidup tanpa makan vitamin yang berkecukupan, tetapi tetap hidup sehat. Misalnya Suku Indian Trahumara di Sonora Utara, Meksiko, suku Indian ini bisa berlari sejauh 25-50 mil setiap harinya di daerah dataran tinggi tanpa merasa kelelahan.

Yang lebih mengagumkan adalah kenyataan bahwa satu keluarga suku Indian Trahumara umumnya hanya makan seratus kilogram jagung setiap tahunnya, di mana setengah dari jumlah itu dibuat menjadi minuman semacam bir. Sumber nutrisi yang lain, seperti akar-akaran, hanya tersedia dalam jumlah kecil, dan terbatas pada musim panen saja. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan nutrisi yang jauh di bawah standar tersebut menunjukan adanya fleksibelitas sistem pikiran-tubuh yang hampir tak terbatas. Ironisnya, adaptasi mereka begitu sempurna sehingga bila diet mereka diubah menjadi diet yang seimbang, yang ditunjang dengan vitamin dan mineral dalam jumlah cukup, sebagian dari mereka akan mulai terjangkit penyakit jantung, hipertensi, kelainan kulit, dan kerusakan gigi, yang belum pernah mereka alami, dan jumlah itu cukup banyak (Chopra, 2002).

Hidup normal dan tidak normal hanya sekedar zona di mana kita hidup. Ini bukan sebuah aturan tapi pilihan. Para pelari suku Indian Tarahumara, yang membawa pesan sepanjang Pegunungan Andes keseluruh kerajaan Inca, memiliki nilai normal yang berbeda dengan kita, nilai normal yang lebih cocok untuk cara hidup mereka. Yang ingin mereka lakukan, berlari lima puluh mil sehari, menurut mereka lebih penting dari sekedar norma-norma tubuh, meski pun diet mereka dianggap tidak memadai. Tanpa banyak bertanya, tubuh mereka beradaptasi dengan kecerdasan, dan bukan sebaliknya. Kebiasaan hidup barangkali bisa mempersulit adaptasi, meskipun pikiran menginginkan pikiran perubahan. Orang-orang yang kegemukan sebaiknya tidak melompat dari tempat duduknya untuk mengikuti lari maraton. Tetapi, kemampuan manusia untuk beradaptasi tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Meskipun tubuh kita seperti komputer yang dilengkapi dengan ribuan mekanisme homeostatis, kita bisa mengubah keterampilan-keterampilan kita, melupakannya, melatih keterampilan baru, dan sebagainya.

Tubuh juga ikut berpikir dan berusaha menjawab dengan beradaptasi. Semua rangasangan yang diterima oleh tubuh, kemudian di kirim ke otak, di dalam otak rangsangan tersebut di olah kemudian di sebarkan kembali. Jalur yang ditempuh dalam tugas pengiriman ini mulai dari sistem syaraf pusat turun ke arah tulang belakang, di ujung atas tulang belakang, jalan akan bercabang ke kiri dan kanan; yang kemudian terpecah lagi menjadi jutaan jalur kecil yang menghubungkan setiap bagian tubuh manusia.

Transmiter- transmiter syaraf adalah pelari-pelari yang bergerak dari dan menuju otak, membawa berita ke setiap organ di dalam tubuh manusia, baik berupa emosi, keinginan, intuisi ataupun mimpi-mimpi. Tetapi, tidak satupun aktivitas tersebut tergantung hanya dari otak saja; tak satupun aktivitas yang hanya bersifat mental, karena mereka bisa dikodekan menjadi pesan-pesan kimiawi. Transmitter-transmitter syaraf menghidupkan setiap sel. Setiap kali sebuah pikiran ingin pergi, sejumlah senyawa kimiawi harus ikut pergi, karena tanpa mereka, tidak ada pikiran yang dapat dilepaskan. Berpikir merupakan latihan kimiawi otak, yang memicu reaksi di seluruh tubuh.

Sistem organisme yang bekerja pada tubuh manusia tidak murni bekerja secara bebas. Pikiran juga bisa ikut mengatur dan berperan dalam menentukan jalur-jalur tersebut. Dalam acara-acara ritual kebudayaan, atraksi-atraksi yang sifatnya melukai tubuh sering sekali ditemui. Seperti berjalan di atas api, atau menghunus senjata tajam ke badan atau ke tangan. Uniknya, setelah melakukan hal tersebut tubuh mereka seharusnya terluka dan mengeluarkan darah, tapi ternyata kejadian tersebut tidak mereka alami, tubuh mereka tetap normal tidak ada cacat. Menurut Cannon (1982) ini terjadi karena Kepercayaan mereka yang kuat dalam pikiran memaksa sistem syaraf yang bekerja sebagai pembawa berita sakit tidak berfungsi. Bahkan cannon menambahkan, perubahan kesadaran pada manusia juga ikut mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Cannon memperlihatkan bahwa ketakutan, dan juga kemarahan, berasosiasi dengan suatu aktivitas intensif khusus dalam sistem syaraf simpatetik. Aktivitas ini biasanya berguna, karena meliputi perubahan-perubahan organis yang membuat seseorang sanggup menyesuaikan diri dengan suatu situasi baru (Strauss, 97).

Perilaku dan Keberlangsungan Hidup

Sudah sejak lama manusia memberikan perlakuan yang berbeda pada tiap-tiap kelompok. Di jaman awal manusia masih hidup dalam kelompok berburu, individu yang tidak dikenal biasanya dianggap sebagai musuh—hal tersebut terjadi karena orang yang tidak dikenal dianggap telah melanggar batas teritori perburuan (kenrick et al., 2003). Data megenai kehidupan manusia saat masih hidup sebagai kelompok pemburu menerangkan dengan tegas dan gamblang bahwa manusia cenderung untuk membagi kelompok ke dalam ingroup dan outgroup (Krebs & Denton, 1997; Wilson, 1978; Kenrick et al., 2003)

Pemisahan antara ingroup—outgroup tidak lah berarti menerangkan bahwa outgroup diartikan sebagai suatu ancaman karena terkadang mereka pun dianggap dapat memberikan keuntungan. Menurut Ybarra et al. (2007) pada kategorisasi ingroup-outgroup dapat pula terjalin interaksi yang bersifat kerjasama ataupun kompetisi. Kondisi kompetisi terjadi ketika Ingroup memandang outgroup sebagai lawan atau pesaing yang dapat membahayakan keberlangsungan hidup dari ingroup. Hanya pada saat ada sinyal atau kondisi bahaya lah ingroup akan menghubungkan outgroup sebagai suatu ancaman, misalnya terbatasnya sumber makanan sehingga mereka harus berkompetisi berebut makanan (Kenrick, 2003)..

Altruisme merupakan bentuk dari salah satu kerjasama. Altrusime biasanya diartikan sebagai perilaku menolong dengan tidak meminta balasan apapun. Dibanyak masayarakat berbagi kebaikan dan membantu tanpa meminta balasan yang setimpal cenderung terjadi hanya pada teman dan kalangan yang terbatas. Awal perilaku altruis seperti ini muncul dari insting untuk mempertahankan keberlangsungan hidup keturunan sedarah. Berkorban nyawa satu untuk menyelamatkan tiga sanak famili akan lebih menguntungkan karena dapat terus mengembangkan keberlangsungan hidup famili.

Secara ilmiah orang akan cenderung membantu orang lain yang memang ada pertalian darah dan orang-orang yang dekat dengan diri sendiri (Rushto et al., dalam Sarwono, 2002). Biasanya semakin dekat pertalian darah yang mengikatnya, maka semakin dekat pula kemungkinan mereka untuk membantu. Saudara kandung, orang tua, dan keturunan (anak atau cucu) akan lebih sering ditolong daripada tante, om, atau kemenakan (Kenrick et al., 2003). Dari pengamatan dalam berbagai bencana alam, musibah, dan peperangan diketahui bahwa orang cenderung memberi pertolongan dalam urutan prioritas tertentu yaitu anak-anak lebih didahulukan daripada orang tua, keluarga lebih didahulukan daripa teman dan tetangga, dan kenalan lebih didahulukan daripada orang asing. Hal ini membuktikan adanya naluri perlindungan kerabat dalam perilaku menolong (Burnstein, Crandal, & Kitayama, 1994; Sarwono, 2002)

Akan tetapi, di dalam kehidupan sosial yang riil, tidak jarang seorang individu menyaksikan perilaku altruis bukan hanya pada anggota keluarga tetapi pada orang asing yang tidak dikenal, seperti pemuda yang memberikan tempat duduknya pada seorang wanita hamil. Perilaku seperti ini sebenarnya didasari dari insting keinginan untuk menjaga atau merawat orang yang dipandang lemah, seperti orang tua atau perempuan.

Selain perilaku altruis yang biasa dikenal dengan menolong seseorang tampa meminta balas jasa, menurut Hawkes (1992, dalam Butnsterin et al., 2001) ada bentuk altruis yang hubungan keduanya saling menguntungkan. Altruisme ini disebut dengan altruisme resiprokal (timbal balik). Bentuk altruisme ini dikarakteristikan pada proses keinginan bertahan hidup yang lebih baik dilakukan secara bahu membahu seperti memburu, bercocok tanam, atau saling memberi keamanan.

Trivers (dalam Boeree, 1999), tokoh yang pertama kali menerangkan mengenai konsep altruis resiprokal menduga bahwa seseorang yang berkeinginan membantu orang lain dikarenakan adanya harapan bahwa orang yang ditolongnya akan memberikan perlakuan yang sama nantinya. Perlakuan baik seperti ini hanya akan terwujud pada manusia yang juga suka menolong. Para penghianat, pencoleng, orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak suka berkawan, biasanya tidak akan diberi pertolongan di kala mereka membutuhkannya (Sarwono, 2002).

Perilaku kerjasama seperti perilaku altruis karena melindungi kerabat atau karena keinginan saling menolong merupakan suatu hal yang sifatnya adaptif. Banyak kegiatan pada evolusi manusia maupun primata yang berkoodinasi untuk membangun dan menjaga demi keuntungan bersama melawan musuh yang menyalah gunakan kekuasaan di dalam kelompok (Ybarra et al, 2007).

Musuh dipandang sebagai orang atau kelompok yang kebaradaannya dianggap mengancam. Dalam konteks kehidupan saling memusuhi, hubungan yang terbangun diantara kedua kelompok tidak lagi disebut kerjasama tetapi kompetitif. Kondisi kompetitif terjadi karena terbatasnya sumber seperti air, makanan, atau pasangan (Bouree, 1999). Nilai yang diutamakan adalah menang melawan kompetitor. Menang berarti bahwa kesempatan untuk dapat bertahan hidup semakin tinggi.

Diskusi

Analisis psikologi evolusi menggambarkan manusia sebagai bagian dari sosial lewat cara yang berbeda dengan teori-teori psikologi lainnya. Menurut Kenrick et al. (2003) apa yang ditawarkan oleh penggagas teori evolusi sebagai salah satu pendekatan dalam psikologi sosial bukanlah merupakan suatu hal yang belum teruji, tidak bersifat reduksionistik, dan bukan teori yang secara tegas berkiblat pada determenisme genetis, tidak merupakan justifikasi dari status quo, atau sesuatu yang tidak cocok dengan sosio-kultural atau analisis kognitif.

Dalam memahami budaya manusia, pendekatan psikologi evolusi memberikan khasanah baru para peneliti dimana budaya tidak hanya dipandang sebagai nilai atau perkembangan masyarakat akan tetapi juga merupakan hasil dari faktor seleksi evolusi manusia. Jika keadaan alam sudah tidak mendukung pola hidup mereka seperti itu, dengan serta merta mereka pun akan berusaha untuk menyesuaikan diri kembali sesuai kebutuhan mereka. Karena tiap-tiap budaya memiliki solusi dan jawaban yang berbeda untuk menjawab tantangan alam. Kebiasaan yang dilakukan pada suatu budaya, belum tentu pula biasa dilakukan pada budaya lainnya. Teori Evolusi sebagai salah satu pendekatan yang ditawarkan pada perpekstif psikologi sosial memang memungkin para peneliti untuk mengmati kehidupan manusia lebih menyeluruh.

Perilaku manusia juga tidak hanya dipahami sebagai proses dari reflek, belajar, kognisi tetapi juga berasal dari insting untuk beradaptasi. Di mana manusia tinggal tidaklah muncul secara acak tetapi mereka memilih untuk tinggal, menetap, dan beradaptasi untuk mencocokan diri pada keadaan lingkungan.Hal yang paling mendasar dari penjelasan psikologi evolusi bahwa manusia tidak terlahir dari kekosongan tetapi terlahir dari budaya dan keadaan sosial yang telah memiliki nilai.



[1] salah satu dari sepasang gen ( plasma pembawa sifat keturunan) yang menetap di posisi yang berkesesuaian pada sepasang kromosom. Setiap pasang allele mengontrol atau mempengaruhi satu ciri pembawaan tersendiri, seperti warna mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s