Pemilu Demokratis; antara rasionalitas dan irasionalitas

Posted: November 14, 2008 in negeriku
Tags: , ,

Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim yang disebut-sebut sebagai negara yang paling demokratis diantara Negara-negara muslim lainnya. Pemilihan presiden pada tahun 2004 adalah momen yang dianggap penting perihal keberhasilan dalam mewujudkan negara yang demokratis di Indonesia. Apalagi saat ini disetiap daerah, dalam pemilihan kepala daerah, telah pula dipilih secara lansung oleh rakyat. Dalam waktu dekat ini, pemilihan Gubernur Jawa barat yang bebas dipilih langsung oleh rakyat pun akan dilaksanakan. Jika melirik hal-hal yang dikatakan Fukuyama (1992) tentang akhir sejarah, yang maksudnya adalah sejarah ideologi maka Indonesia sepertinya sedang berjalan ke arah apa yang Fukuyama maksud sebagai demokrasi liberal.

Ini menarik dan sekaligus membantah asumsi Huttington (1997) yang menurutnya setiap orang Islam yang mencoba untuk memperkenalkan demokrasi ke dalam masyarakatnya cenderung akan gagal karena demokrasi sangat bertentanngan dengan nilai-nilai dalam Islam. Hal yang diungkapkan Huttington ternyata tidak terbukti terjadi di Indonesia, bahkan Indonesia sebagai negara menurut Saiful Mujani (2007) adalah negara yang begitu demokratis.

Fukuyama mengatakan bahwa hak-hak manusia sebagai individu dalam demokrasi diakui hak-haknya sebagai individu bebas yang memiliki wewenang untuk bersuara dan diakui harga dirinya sebagai warga negara. Bahkan dalam demokrasi liberal keinginan yang irasional digantikan keinginan rasional untuk diakui sebagai sama.

Namun demikian, apakah sebenarnya masyarakat yang telah melakukan pemilihan secara pribadi menentukan pilhannya benar-benar telah bebas memilih tanpa ada dorongan dari pihak manapun atau telah bersifat rasional dalam memilih?

Pengaruh Sosial dan Manipulasi Pilihan

Manusia sebagai individu yang merupakan bagian dari sosial tidak bisa lepas pengaruhnya dari hal-hal apa saja yang terjadi di luar dirinya. Memilih wakil yang dipilih apakah telah murni itu adalah pilihannya sendiri atau merupakan pengaruh dari teman, atasan, tokoh masyarakat, atau media adalah hal yang patut diperhatikan.Di tahap ini, tim sukses dari tiap-tiap perwakilan calon adalah instrument yang juga cukup penting dalam membentuk opini masyarakat untuk memilih salah satu calon pemimpin tertentu. Mereka akan berusaha kuat demi kemenangan jago mereka.

Masyarakat bisa saja secara tidak sadar di dorong untuk memilih pilihan salah satu kandidat. Setiap orang setiap harinya sering mengalami “beban informasi berlebih” sehingga untuk mengurangi keterlebihan informasi dengan memberikan penilaian cara cepat lewat sesuatu hal-hal yang menonjol saja atau cukup diperlukan. Sehingga, dengan memberikan suatu hal-hal yang menarik, menonjol dan berbeda dengan yang lain saja para kandidat akan cepat sekali diingat.

Bahkan, jika kita dapat memahami motif pikiran yang ada di masyarakt maka dengan mudah kita dapat mengkontrol dan mengatur pikiran masyarakat dimanipulasikan sesuai dengan kehendak kita tanpa mereka ketahui (Bernay, 1948). Bernay berpendapat bahwa model manipulasi tersebut, bagian yang terpentingnya adalah demokrasi itu sendiri.

Demokrasi dan kebebasan memilih

Mengapa demokrasi menjadi bagian terpenting dari memobilisasi masa? Hal ini karena demokrasi adalah pemerintahan yang didaulat dan dipilih oleh rakyat, oleh individu. Jelas, jika kita memahami pikiran dan motif masyarakat yang paling mendasar, maka kitapun akan mudah mengontrol pikiran masyarakat. Jika masyarakat mengagap dalam bawah sadarnya bahwa pemimpin yang terpenting adalah parasnya, maka tim sukses tinggal memperkenalkan bahwa calonnya adalah orang yang berparas tampan.

Masyarakat yang telah dapat di dorong dan dikontrol sesuai dengan apa yang diinginkan pihak-pihak tertentu, masikah hal tersebut dapat dikatakan sebagai demokrasi atau suatu hal yang demokratis? Bagi Bernay demokrasi yang dikatakan sebagai wujud kemajuan manusia dalam negara yang rasional adalah hal yang omong kosong karena manusia sesungguhnya adalah mahkluk amat irasional, mahkluk yang berisi keinginan-keinginan terpendam, emosi, dan kebahagiaan di dalamnya. Ketika keinginan-keinginan terpendam serta tipogi kebahagiaan yang paling mendasar dapat diketahui, individu yang dianggap bebas untuk memilih dan bersuara hanya merupakan omong kosong belaka. Individu telah menjadi irasionalitas di dalam rasionalitas itu sendiri. Mereka menganggap dirinya bebas dalam ikut memilih dan bersuara, sesungguhnya mereka telah diarahkan dengan tidak sadar.

Pemegang keuntungan dalam demokrasi

Jelas dalam hal ini,kondisi dari negara demokrasi akan menguntungkan pihak-pihak yang memiliki modal, penguasaan terhadap informasi yang diolah masyarakat, serta memahami kondisi yang paling mendasar pada masyarakat itu sendiri. Ketika mereka berhasil dipandang sebagai tokoh yang terpandag dan mereka yang berhasil memberikan perhatian pada masyarakat maka salah satu nilai tambah dalam memenangi suatu pemilihan telah ada di tangan.

Mereka yang telah mengantongi hal-hal paling mendasar dalam diri manusia lah yang dapat menguasai pikiran dan motif mereka. Mereka yang dipandang sebagai pemegang tafsir kehidupan. Serta mereka yang telah mengikat segala informasi yang menghubungkan pengaruh ke masyarakat pulalah yang akan dapat memenangi kompetisi kepemimpinan dan berhasil menjadi pemimpin sesuai kehendak rakyat. Rakyat memilih karena dia layak untuk jadi pemimpin. Padahal sesungguhnya rakyat memilih pemimpin tersebut karena rakyat di dorong untuk memilih pemimpin tersebut secara tidak sadar.

Jika demikian, lantas di manakah letak posisi masyarakat (awam) dalam negara demokrasi ? Posisi rakyat tidak ubahnya seperti apa yang ada pada masyarakat komunis dan Islam yang digambarkan Hutington. Bedanya dalam negara komunis dan Islam rakyat dalam kondisi sadar tidak bebas memilih karena begitu kuatnya negara, sementara dalam negara demokrasi rakyat bebas memilih yang sebenarnya secara tidak sadar mereka tidak bebas memilih.

Selagi individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sosial, semasih individu memiliki kebahagiaan yang terpendam, semasih individu memiliki gambaran tentang pemimpin mereka maka selagi itu pula kebebasan individu dapat diarahkan dan dikontrol. Lantas dimanakah letak kebebasan yang ditawarkan demokrasi jika kehendak bebas individu masih dapat dikontrol oleh motif dari luar. Adakah demokrasi liberal yang sesungguhnya? Mari kita sama-sama berpikir kembali. Idhamsyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s