Fundamentalisme dalam kacamata psikologi sosial

Posted: November 13, 2008 in seputar ilmu sosial
Tags: , , ,

Fundamentalisme Agama

Isme dalam istilah fundamentalisme adalah isme yang beberapa dekade belakangan ini begitu gencar dibicarakan pasca runtuhnya gedung kembar WTC yang diduga berasal dari kelompok fundamentalis Islam. Setelah runtuhnya gedung kembar WTC tersebut, arti kata Fundamentalisme pun mengalami penyempitan arti yang dikhususkan kepada kalangan umat Islam (Volkan, 2005). Sebelum masuk lebih dalam membahas tentang Fundamentalisme, akan dikemukakan lebih dahulu sejarah dan perdebatan tentang Fundamentalisme itu sendiri.

Sejarah dan Perdebatan tentang Fundamentalisme

Istilah Fundamentalisme biasanya dipahami sebagai suatu paham yang berasal dari pemahaman agama. Istilah ini bermula dari sebuahh buku berjudul “the Fundamentals” pada tahun 1915 (dalam Summers, 2006). Fundamentalisme merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap pengaruh Modernisme dengan mengembalikan Protestantisme kapada keyakinan yang sesungguhnya. Hal ini tidak berarti Fundamentalisme diartikan sama dengan keberadaan gereja Protestan, Fundamentalisme di sini adalah suatu bentuk manifestasi umat Protestan yang menyikapi Modernisme sebagai bentuk ancaman bagi ajaran Protestan.

Dalam penjelasan “The Fundamentals” tentang fundamentalis, Summers (2006) mengartikan arti awal Fundamentalisme sebagai tujuan untuk mengembalikan agama kepada bentuk dan prinsip asal muasalnya. Implikasi ini juga menyentuh wilayah keimanan yang juga dianggap telah menyimpang dari konsep dasarnya sehingga kehilangan hubungan dengan makna yang sesungguhnya dari alkitab. Dalam menjalankan segala kehidupan yang ada, manusia menurut mereka tidak boleh keluar dari apa yang ada dalam kitab suci. Para fundamentalis biasanya mengarahkan perlawanannya kepada Modernisme yang bersifat sekuler.

Istilah Fundamentalisme awalnya memang ditujukan pada umat Protestan yang mengadakan perlawanan terhadap Modernisme. Namun, setelah peristiwa runtuhnya gedung WTC pada 11-September-2001, media-media di Amerika telah mempersempit arti kata Fundamentalisme, yakni merujuk kepada kelompok militan dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Asia Tengah. Terlebih lagi, banyak orang Amerika yang menganalogikan arti Fundamentalisme dengan kata Muslim yang kemudian diasosiasikan dengan terorisme (Volkan, 2005).

Jadi, dalam terminologi apa sebenarnya istliah Fundamentalisme itu layak disebutkan? Apakah kelompok fundamentalis Kristen itu sama dengan fundamentalis Islam? Lalu apakah kelompok tradisionalis agama itu dapat juga disamakan dengan kelompok fundamentalis agama? Dalam hal ini banyak pemikir kajian agama (baik Kristen maupun Islam) berdebat tentang istilah Fundamentalisme.

Dalam perpekstif Islam, Nasr (1994) membedakan dua karkater Islam, yakni antara karakter tradisional dengan pseudo-tradisional. Pseudo-tradisional diidentifikasikan oleh Nasr sebagai Fundamentalisme. Menurut pendapatnya, Islam tradisional itu adalah anggapan yang mewajibkan dipertahankannya Syari’ah sebagai hukum Illahi sebagaimana ia dipahami dan diartikan selama berabad-abad yang terkristalkan dalam madzhab-madzhab hukum klasik. Namun demikian, Islam tradisional menerima kemungkinan memberikan pandangan-pandangan baru yang berdasarkan prinsip-prinsip dari suatu ketentuan, seperti halnya Ijtihad, dan juga memanfaatkan alat-alat penerapan hukum lain ke dalam situasi-situasi yang baru muncul. Bahkan Tradisionalisme juga tidak mengabaikan oposisi yang ada di antara representasi pemikiran-pemikiran Islam yang keluar.

Dalam sejarah, sebenarnya tradisi Islam tidaklah berkembang secara tunggal tetapi memiliki berbagai macam corak tradisi. Keanekaragaman corak tradisi ini timbul di segala bidang dari segi fiqih sampai kepada pola pemerintahan, dari bentuk pemikiran sampai bentuk doktrin. Meskipun demikian, mereka tetap bertitik tolak dari suatu akar yang sama, yaitu al-Qur’an dan Hadis (Nasr, 1994). Karenanya, buat Nasr tradisi Islam itu mirip sebuah pohon yang akar-akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat Illahi dan darinya tumbuh batang dan cabang sepanjang jaman. Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus, langgeng dan tetap, kebijaksanaan yang abadi, dan penerapan yang berkesinambungan dengan prinsip-prinsipnya terhadap berbagai situasi ruang dan waktu. Menurut Nasr (1994), tradisionalisme dalam Islam itu merujuk pada corak keberagamaan yang juga menerima pluralisme mengenai perbedaan penafsiran. Inilah yang oleh Nasr sebut sebagai tradisi dalam Islam.

Hal ini berbeda dengan para fundamentalis yang mengagungkan satu-kesatuan penafsiran yang menganggap bahwa penafsiran kelompoknyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Fundamentalis mengklaim dirinya berupaya mengembalikan Islam kepada kemurniannya yang asli. Faktanya, mereka para fundamentalis justru menimbulkan sesuatu yang sangat berbeda dari Islam tradisional yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan telah bertahan hidup serta tumbuh seperti pohon abadi selama empat belas abad sejak Hijrah Nabi ke Madinah. Islam tradisional menerima perbedaan corak pemikiran sebagai suatu rahmat, namun fundamentalis sama sekali tidak menerima perbedaan pemikiran dalam Islam.

Kuzzman (2001) mensinonimkan Islam fundamentalis dengan bentuk Islam revivalis, yaitu gerakan pemurnian Islam. Bagi para revivalis, Islam saat ini sudah banyak dikotori oleh bid’ah-bid’ah dan penafsiran-penafsiran yang sama sekali keluar dari al-Qur’an. Menurut mereka tiada hukum selain hukum Tuhan. Gerakan revivalis pun menolak adat dan mereka hanya ingin menerima Islam secara murni.

Berbeda dengan Nasr yang membedakan tradisonal dengan pesudo-tradisional sebagai sebutan untuk fundamentalisme Islam, dalam tradisi Kristen, Segady (2006) justru melihat Fundamentalisme merupakan bagian dari tradisionalis itu sendiri. Serupa dengan tradisionalis, fundamentalis adalah mereka yang juga berpedoman pada kitab suci Injil dalam menjalankan kehidupannya, serta mereka yang percaya kalau kasih Tuhan akan selalu hadir dalam diri mereka yang mengabdi padanya. Perbedaannya, penganut fundamentalis adalah mereka, para tradisioanalis, yang bereaksi terhadap modernisme. Jadi dapat dipahami di sini, bahwa Segady memisahkan antara tradisionalis yang berperilaku pasif dengan Modernisme dan ada yang berperilaku aktif dalam menyikapi Modernisme.

Reaksi para fundamentalis Kristen terhadap modernisme melahirkan lima doktrin fundamentalisme, yaitu: (1) kebenaran mutlak dan tiadanya kesalahan pada kitab suci Injil (Holy Bible), (2) kelahiran Jesus dari Ibu Maria yang suci (Perawan), (3) penebusan dosa umat manusia oleh Jesus, (4) kebangkitan Jesus kembali secara jasmaniah yang turun ke bumi, dan (5) Ketuhanan Jesus Kristus (Rahardjo, 1999)

Melalui kelima butir doktrin fundamentalis tersebut, para fundamentalis Kristen mencoba untuk melawan arus pemikiran liberal yang selama ini mengacu kepada pemikiran ilmiah dan mendasarkan diri pada penalaran arus sekulerisme.

Arti Universal dari Fundamentalisme

Pola pandang yang diambil oleh Nasr (1994) dan Segady (1994) tentang Fundamentalisme tentu saja akan berbeda karena mereka melihat keberadaan Fundamentalisme dari agama yang berbeda. Nasr memandang lewat Islam sedangkan Segady memandang lewat Kristen. Dari uraian Segady dan Nasr, serta penjelasan tentang Fundamentalisme sebelumnya, setidaknya ada keserupaan ciri pada masing-masing mereka yang disebut sebagai fundamentalis. Kelompok fundamentalis menafsirkan seluruh doktrin yang dianut agamanya adalah universal dan berlaku tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Para Fundamentalis biasanya lebih mementingkan ketaatan mutlak kepada Tuhan dan keyakinan bahwa Tuhan telah mewahyukan kehendak-kehendak-Nya secara universal kepada manusia daripada keyakinan yang lainnya. Buat mereka, yang terpenting adalah iman dan bukan diskusi. Iman justru lebih membuat orang mengerti, dan bukan mengerti yang membuat mereka beriman. Mereka juga bersikap militan dalam menegakan agama, dan bukan memelihara semangat intelektualisme yang cenderung membuat orang tidak berbuat apa-apa (Rahardjo, 1999).

Bagi kalangan sosiolog agama (Rahardjo, 1999), ketika mencoba mengartikan Fundamentalisme secara umum, mereka pun mengartikan Fundamentalisme sebagai konservatisme yang agresif. Gejala ini, menurut mereka tidak hanya dapat dijumpai pada kalangan Kristen, melainkan juga Islam serta agama-agama lain. Namun menurut Rahardjo (1999), penggunaan istilah Fundamentalisme dalam analisisnya tetap perlu disesuaikan dengan ajaran masing-masing agama dan latar belakang sosialnya.

Carpenter (1997, dalam Hood dkk., 2005) mengartikan kata Fundamentalisme sinonim dari sifat yang keras terhadap suatu pendirian, fanatisme, dan anti dengan intelektualitas. Menurut Hood dkk., (2005) Fundamentalisme biasa distereotipekan dengan pikiran yang sempit, tidak berpendidikan, memiliki status sosio-ekonomi yang rendah, dan sangat menyanjungkan dirinya. Fundamentalisme juga dikarakteristikkan dengan suatu perasaan memerangi sifat keterasingan dari kepungan kebudayaan yang bisa muncul di tengah-tengah kebudayaan yang dipengaruhi oleh paham keagamaan. Bentuk dari Fundamentalisme ini pun biasanya didasari oleh suatu keyakinan bahwa teks yang dibawa oleh mereka adalah suatu yang dipastikan benar dan akurat sifat kebenarannya, yang sifatnya tidak bisa ditawar-tawar lagi terhadap pengartian teks tersebut.

Sistem dalam Fundamentalisme Agama

Rahardjo menyebutkan kalau sikap dari fundamentalisme agama adalah militan dan tidak memilihara sikap positif terhadap perkembangan intelektualitas. Dengan demikian, apakah fundamentalisme agama dapat terwakili hanya mereka yang anti Modernisme? Mereka yang disebut ekstremis? Mereka yang dicap teroris? Lalu, sikap individu seperti apa sebenarnya yang mendasari agar seseorang dapat dikatakan sebagai fundamentalis atau tidak?

Pada tahun 1992, Altmeyer dan Husberger membuat alat ukur Fundamentalisme. Ukuran yang diambil oleh Altemeyer dan Husberger dalam mengukur Fundamentalisme adalah lewat keyakinan agamanya, dengan mengukur tingkat sistem keyakinan (belief sistem). Bagi Altemeyer dan Husberger, fundamentalisme agama itu memiliki sistem keyakinan yang berbeda dengan sistem keyakinan penganut agama lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Altemeyer dan Husberger sebagai berikut:

Fundamentalism scale is to measure the Belief that there is one set of religious teaching that clearly contains the fundamental. Basic intrinsic, essential, inerrant truth about humanity and deity; that this essential truth is fundamentally opposed by forces of evil which must be vigorously practice of the past; and that those who believe and follow these fundamental teachings have a special relationship with the deity. (Altemeyer & Husberger, 1992)

Mengacu pada alat ukur Fundamentalisme yang dibuat oleh Altemeyer dan Huseberger, Altemeyer pun melihat bahwa fundamentalisme agama merupakan sebuah manifestasi sifat otoritarian (RWA) keberagamaan (Altemeyer, 1996). Akan tetapi, menurut Altemeyer, fundamentalisme agama lebih cenderung memunculkan sifat pengikut yang otoritarian daripada menjadikannya pemimpin yang otoritarian.

Pada tahun 2001, skala Fundamentalisme yang dibuat oleh Altemeyer dan Husberger direvisi ulang oleh mereka. Hal ini dilakukan karena ternyata skala Fundamentalisme banyak terkandung skala kebenaran satu agama. Sebagaimana yang yang ditulis oleh altemeyer tentang revisi skala Fundamentalismenya:

At least half of its items involve the “one true Religion” theme as, of all the people on this earth, one group has a special relationship with God because it believes the most in his revealed truths and tries hardest to follow ahis laws, “and” No ane religion is specially clos to God, Nor does God favor any particular group of believers (Altemeyer, 2001)

Sejalan dengan revisi yang dibangun oleh Altemeyer (2001), pada tahun 2005, Hood, Hill, dan Williamson menyatakan kalau sistem keyakinan yang dapat mengenali mereka sebagai fundamentalisme agama tidak hanya sistem keyakinan tentang diri sendiri melainkan juga sistem keyakinan tentang yang lain (memandang yang lain) (Hood dkk., 2005). Kumpulan dari sistem keyakinan ini mereka sebut dengan sistem makna (meaning system).

Sistem makna, menurut Hood dkk., (2005) terbangun dari pemahaman para Fundamentalis terhadap kitab sucinya secara intratekstual. Pemahaman kitab suci dengan intratekstual adalah mereka yang menganggap kitab sucinya adalah sesuatu yang sakral dan tidak dapat diperdebatkan serta dinegosiasikan lagi dengan kebenaran lainnya. Menurut fundamentalisme agama, jika ada sesuatu yang bertentangan antara kitab suci dengan suatu penemuan-penemuan empiris, maka yang salah adalah penemuan baru tersebut bukanlah kitab sucinya. Oleh sebab itu, yang harus dibenarkan adalah penemuan baru tersebut, bukan kitab suci.

Sistem Makna Fundamentalisme Agama

Bagi Hood dkk. (2005), mereka yang berciri fundamentalisme agama atau tidak, dapat dilihat kejelasannya dilihat sistem maknanya. Walaupun mereka berasal dari agama yang sama, menggunakan kitab yang sama, tapi dalam kalangan umat beragama, mereka bisa saja memiliki sistem makna yang berbeda.

Sistem makna adalah suatu sistem yang berasal dari kumpulan sistem keyakinan (belief) berupa (1) keyakinan yang lain dan situasi, dan (2) keyakinan tentang diri. Dimana sebenarnya kedua sistem keyakinan tersebut sangat diperlukan ada dalam bidangnya masing-masing, seperti yang dijelaskan oleh Hood dkk. (2005):

A meaning system can be thought of as a group of beliefs or theories about reality that includes both a world theory (beliefs about others and situations) and self theory (beliefs about the self), with connecting propositions between the two sets of beliefs that are important in terms of overall functioning. (Hood dkk., 2005)

Hood dkk. (2005) berpendapat kalau sistem makna dapat membantu individu dalam membentuk tujuan, mengatur tingkahlaku dan pengalaman, merencanakan aktivitas, memahami langsung tujuan hidup, dan membentuk evaluasi diri terhadap pengalaman yang diperolehnya.

Makna diri hadir tidak dan bisa lepas dari hubungan individu dengan keberadaan lingkungan sekitarnya. Sebenarnya sistem makna itu bisa dikatakan sebagai suatu struktur sentral yang membentuk komponen kognitif, motivasi, serta afeksi dalam melihat realitas keberadaan diri dengan yang lainnya, sebagaimana Wong memberikan argumen:

…The personal meaning system comprises the categories (conceptual schemes) used for self and life interpretation. It is a cognitive-affective network containing person directed and environment-directed motivational cognitions and understandings, like goal concept and behaviour plans, concetions of character and compentencies, of internal process and mecahanisms, various kinds of standards and self-appraisals (Wong, 1998, dalam. ( Hood dkk., 2005)

Pada tiap agama ada ajaran yang menerangkan tentang pedoman menjalankan kehidupan, serta tujuan yang harus dicapai dalam kehidupan. Hakikatnya manusia selalu mencari makna dari keberadaannya di dunia (Jung, 1958,) dan terus memberikan makna sepanjang hidupnya (Frankl, 1963, dalam Hood dkk., 2005). Dari agama manusia mendapatkan jawaban tentang kehidupan yang harus dijalaninya.

Karena agama dapat memberikan jawaban tentang kehidupan yang harus dijalani, agama pun sering dijadikan sebagai sistem makna primer bagi banyak kalangan. Namun demikian, selain agama memberikan jawaban aturan tentang kehidupan, agama pun memberkan aturan tentang larangan kehidupan yang harus dijalani. Bagi mereka yang melanggar aturan yang telah ditetapkan agama, maka ada hukuman bagi mereka yang melanggar (dalam Hood dkk., 2005).

Sebenarnya, sistem makna bisa berasal dari mana saja, seperti agama, kelompok, budaya, adat istiadat, nasional, wilayah, ras, dan sebagainya. Sistem makna menyediakan suatu pedoman kehidupan yang bisa berupa cara, peraturan, nilai, etika, dll.. Namun buat Clark (dalam Hood dkk., 2005), mereka lebih memilih sistem maknanya lewat agama karena menurut mereka agama memberikan pedoman yang lebih jelas tentang makna hidup manusia daripada yang lainnya (Hood dkk, 2005). Bahkan buat fundamentalis agama hanya ada satu jalan kebenaran dalam menemukan makna. Bagaimana seseorang mencari makna dalam hidupnya, seperti bekerja kreatif, hubungan personal, mendapatkan anak, pertumbahan personal, karir yang cemerlang, dll, hanya bisa dimaknai jika diinterpretasikan dan dilegitimasikan melalui kitab suci. Jadi bagi fundamentalis agama, kitab suci adalah satu-satunya sumber makna yang otoritatif yang bisa menjawab pertanyaan tentang kehidupan (Hood dkk., 2005).

Untuk melihat kitab suci yang dijadikan sebagai satu-satunya sumber oleh fundamentalis agama, kita dapat melihat dari bagaimana cara para fundamentalis agama mempersepsikan dunia dan menjalankan suatu kehidupannya. Dalam pedoman mereka, makna hidup tidak sekadar memberikan gambaran serta cara menjalankannya saja, tetapi di dalamnya juga ada bentuk pelarangan. Di balik semua itu, dalam agama pun ada suatu perintah ketaatan bagi setiap individu untuk menjalani perintah agama dengan benar. Jika tidak menjalaninya, maka ada bentuk-bentuk hukuman yang diberikan sesuai dengan kesalahannya. Konsep makna hidup berikut ketaatan dan larangannya ini harus diterima mentah-mentah dan ikhlas karena hal tersebut diberikan dari Tuhan Yang Maha Mengetahui (Hood dkk., 2005).

Bagi fundamentalis agama, agama adalah jalan hidup yang harus dijalankan dengan total. Seorang Fundamentalis pun tidak bisa dikatakan sebagai orang yang berpikiran tertutup, melainkan mereka lebih bisa dikatakan mempertimbangkan segala pengetahuan melalui kitab suci, pengetahuan ini bisa diterima atau tidak, lewat hal tersebutlah mereka memaknakan kehidupan mereka serta menggunakan kitab suci sebagai tuntunan (Baumester, 1991, dalam Hood dkk., 2005).

Dalam perpekstif pencarian makna dan ke-imanan, bagi fundamentalis agama yang terpenting adalah iman dahulu, setelah itu manusia dapat menemukan makna hidupnya. Menurut mereka, keimanan adalah makna yang paling utama akan keberadaan manusia sehingga seluruh peristiwa harus diartikan kembali kejadiannya lewat iman. Dalam struktur keimanan inilah, fundamentalis agama mencoba melihat dunia yang berpedoman pada kitab suci yang lalu disesuaikan antara keadaan dunianya dengan gambaran kitab suci tentang dunia yang seharusnya. Jika tidak ada koherensi di antara keduanya, maka keadaan dunialah yang harus disesuaikan dengan apa yang diceritakan dalam kitab mereka (Hood dkk., 2005). Dalam sumber kitab suci itu pulalah, sebenarnya kebutuhan akan makna hidup yang dicari fundamentalis agama bisa terjawab.

Setidaknya dalam Hood dkk., (2005) ada empat penjelasan mengapa agama dijadikan sebagai sumber sistem makna: (1) agama merupakan sistem komprehensif yang menjelaskan tentang hubungan makna lainnya seperti kreatifitas, hubungan personal, keberhasilan, kerja, nilai, hidup ideal, dll, dibandingkan dengan sistem makna lainnya, (2) agama bisa dijadikan sebagai dasar melihat dan memandang dunia, (3) agama juga tidak hanya memberikan keterangan tentang kehidupan saat ini, tetapi juga kehidupan setelah ini dan kehidupan yang bersifat transenden, (4) agama secara langsung menyampaikan kepada utusannya bahwa agama tersebut adalah jalan yang harus diikuti karena kebenarannya, “I am the way, the truth, and the life: no man cometh unto Fater, but by me” (dalam Hood dkk., 2005).

Sistem makna pun, menurut Hood dkk., (2005) bisa diukur lewat tiga pengamatan yaitu dilihat dari (1) kesatuan filosofi hidupnya, dilihat dari worldview-nya (pandangan dunia), (2) koherensinya dengan worldview, (3) lalu kebutuhan akan maknanya (personal need for meaning). Tidak sampai di situ saja, menurut Baumesiter (1991, dalam Hood dkk., 2005), setidaknya ada empat faktor yang saling melengkapi ketika hendak mengetahui kebutuhan akan makna personal, yaitu: Tujuan (purpose), Nilai (value), manfaat (efficacy), dan harga diri (self-worth). Mengapa keempat faktor tersebut saling terkait erat, karena manusia pun membutuhkan jaminan kebenaran dan keuntungan dari sumber yang akan mereka jadikan pedoman.

Faktor Dalam Fundamentalisme Agama

Seperti yang Baumeister (1991, dalam Hood dkk., 2005) ungkapkan bahwa ada empat faktor yang saling melengkapi kebutuhan akan makna hidup seseorang. Empak faktor tersebut juga tampak di kalangan fundamentalisme agama. Penjelasan empat faktor yang saling terkait, tujuan (purpose), nilai (value), manfaat (efficacy), dan harga diri (self-worth) adalah sebagai berikut:

1. Tujuan (Purpose)

Sifat manusia adalah pencari dari tujuan keberadaan dia, dan dengan demikian dia bisa mengerti apa yang akan dia lakukan kedepanya. Kondisi kejadian yang terjadi (seperti kecelakaan) pun bisa saja selalu dia pertanyakan maksud dari kejadian tersebut.

Menurut fundamentalis agama, Tuhan adalah sumber yang paling dapat dipercaya untuk menjelaskan maksud dan tujuan manusia diciptakan. Tuhan adalah Sang Pencipta dan Dia pula yang menciptakan manusia sehingga Dia pasti tahu mengapa manusia diciptakan. Karena Tuhan adalah sang pencipta, maka ketika memandang dunia pun, manusia memahami hanya bisa lewat kitab suci. Menurut fundamentalis agama tidak ada yang paling mengetahui semua kejadian ini selain Tuhan. Seperti ungkapan yang sering mereka sebut I know what the future holds, but I don’t know who hold the future”.

Adalah suatu kesia-siaan buat manusia ketika dia berupaya untuk mencari jawaban atas tujuan keberadaanya lewat pikirannya sendiri atau lewat pengalamannya, karena bagi Fundamentalis sang penciptalah yang lebih mengetahui tujuan dari semua penciptaan ini. Oleh sebab itu kitab suci diturunkan oleh Tuhan untuk manusia agar bisa memandang dunia dan dirinya. Jadi tidak ada gunanya manusia berupaya memandang dunia dan membangun pandangannnya sendiri, sementara Tuhan yang Maha Mengetahui telah memberikan pedoman baginya dalam memandang dunia dan dirinya.

Tidak hanya penjelasan tentang kehidupan yang nyata, kitab suci sebagai sumber tujuan manusia diciptakan juga memberikan informasi bahwa tujuan kehidupan manusia di dunia bukanlah akhir dari kehidupannya. Setelah kehidupan di dunia, fundamentalis agama memahami adanya kehidupan lainnya di akhirat. Dalam kitab suci, bahkan diterangkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia bukanlah di dunia melainkan hidup abadi di akhirat. Kehidupan di dunia juga dipahami sebagai tangga pencapaian dalam menapaki kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Dengan demikian bagi fundamentalis agama, kitab suci memberikan penjelasan yang pasti tentang tujuan sejati kehidupan manusia, yaitu untuk hidup abadi di akhirat.

2. Nilai

Setelah mengetahui sumber yang dapat dijadikan pedoman dalam mengetahui makna dari kehidupannya. Nilai dari keberadaan sumber yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan juga mesti diperhitungkan keakuratan kebenarannya ketika dibandingkan dengan tiap-tiap pedoman yang ada.

Karena sumber tentang tujuan hidup yang dipakai oleh fundamentalis agama adalah sumber dari Tuhan, maka sifat dari sumber nilai tersebut adalah benar dan absolut. Bahkan menurut mereka, hal tersebut tidak perlu diperbandingkan lagi dengan yang lain. Bagi fundamentalis agama, sudah bisa dipastikan pula bahwa kitab suci bisa menjawab seluruh permasalahan kehidupan seperti masalah alkohol, narkoba, aborsi, tingkah laku sosial dan lain-lain.

Sebagai contoh, dikemukakan dalam kitab suci bahwa homoseksual dilarang. Maka sampai kapan pun perilaku homoseksual tidaklah dibenarkan, karena perilaku tersebut telah menyimpang dari kitab suci. Sifat dari kitab suci pun menjadi sifat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bagi fundamentalis agama, keputusan Tuhan adalah keputusan yang terbaik untuk manusia yang juga tidak bisa ditawar lagi. Perilaku yang benar adalah perlaku yang sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam kitab suci.

3. Manfaat (efficacy)

Kalau segala sumber kehidupan dan nilai telah dapat diketahui lalu apa manfaat yang ditawarkan dari masing-masing mereka? Apa manfaat yang diberikan kalau manusia berupaya mengikuti jalan Tuhan dan tidak keluar dari jalurnya? Lalu bagaimana dengan manfaat jalan yang selain jalan Tuhan, manakah yang lebih bermanfaat?

Fundamentalis agama menganggap kalau jalan Tuhan yang diikuti, jika mereka berperang di jalan Tuhan, maka jaminannya adalah kemenangan. Bila di jaman ini belum didapati juga kemenangan itu, fundamentalis agama tidak mengkhawatirkannya karena Tuhan pasti akan memberikan kemenangan setelah mereka mati. Jaminan dari mereka yang berperang adalah bahwa “mereka tidak perlu khawatir untuk itu, karena mereka akan bersanding bersama Tuhan tinggal di surga”. Pandangan inilah yang biasa disandang oleh fundamentalis agama.

Menurut fundamentalis agama, jika hidup ini dipandang sudah bergelimang dosa dan dikelilingi kejahatan, maka sebagai hamba Tuhan sudah menjadi tugasnyalah untuk meluruskan kembali ke jalan Tuhan agar hidup menjadi tentram. Kalau keadaan dunia modern dipandang sudah keluar dari apa yang diterangkan Tuhan dalam kitabnya, maka kewajiban manusialah untuk memeranginya supaya dunia ini terselamatkan. Dalam peperangan, apa pun yang terjadi, jika mereka meyakini kitab sucinya dan merasa telah menjalaninya dengan baik, yang terjadi merupakan hal yang terbaik buat mereka karena Tuhan lebih mengetahui mana yang baik buatnya dan mana yang tidak baik.

Bahkan ada dari kalangan kelompok Fundamentalis yang menyerahkan segala penyakit hanya lewat penyembuhan melalui wahyu tanpa pengobatan medis. Mereka percaya kepada keajaiban Tuhan karena mereka telah mengagungkan ayat-ayat-Nya. Kelak jika kesembuhan tidak kunjung datang juga, bagi mereka apa yang didapatinya saat itu adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan karena Tuhan tahu mana yang baik buat mereka (Hood dkk., 2005).

Hukum Tuhan adalah yang terbaik dan tidak mungkin salah. Makanya kebaikan akan didapati kalau semua orang mengikuti jalan Tuhan. Sebab itu, fundamentalis agama selalu berusaha untuk membentuk pemerintahan yang theokratis karena buatnya itulah yang terbaik dan tak pernah salah. Hanya dengan mengikuti hukum Tuhanlah kebaikan akan datang.

4. Harga Diri (Self-Worth)

Sumber makna, menurut Baumesiter (1991. dalam Hood dkk., 2005 pun juga akan ikut memberikan peningkatan harga diri. Ini disebabkan oleh bobot atau seberapa kuat sumber makna tersebut bisa memberikan keuntungan dalam dirinya dalam memandang kehidupan.

Dalam banyak kitab suci banyak dijelaskan “karena manusia dapat mengenal perbedaan dan dapat memahami keberadaannya, maka dibandingkan dengan mahluk lainnya manusia dianggap mahluk yang lebih unggul dan menguasai mereka”. Di dalam agama, khususnya agama semit (Islam, Kristen, Yahudi) juga diterangkan hal tersebut, tidak hanya dengan manusia dengan makhluk lainnya, sesama manusia pun ada pembagian status orang yang diberikan petunjuk dengan yang tidak, orang baik dengan orang yang jahat.

Menurut fundamentalis agama, mereka yang paling berharga di antara manusia lainnya adalah mereka yang telah menjalankan sesuatu ini berdasarkan pedoman Tuhan. Dan mereka yang menjalankan suatu kehidupan tanpa berpedoman pada kitab suci tidak memiliki harga lagi dan tidak memiliki pengharapan lagi. Untuk itulah, fundamentalis agama berusaha menyadarkan manusia untuk kembali ke jalan Tuhan, supaya mereka menjadi sesuatu yang berharga (dalam Hood dkk., 2005).

Bagi fundamentalis agama, memang sudah sepantasnya mereka yang menjalani sesuatu berdasarkan pada pedoman Tuhan yang berdiri paling tinggi daripada pedoman lainnya. Hal ini dikarenakan tidak ada yang lebih agung selain Tuhan itu sendiri dan dia itu adalah yang Maha Agung, jadi bisakah pedoman Tuhan diperbandingkan dengan pedoman lainnya?

Jika dilihat dari pemahaman fundamentalis agama ini, maka sulit untuk dipungkiri atas apa yang mereka lakukan dengan keraguan. Bagaimana tidak, sesuatu yang mereka lakukan (fundamentalis agama) adalah untuk mengajak manusia kepada posisinya yang mulia di antara makhluk lainnya dengan pedoman yang telah diturunkan Tuhan untuk dijalani. Apakah mengajak manusia kepada sesuatu kemuliaan adalah suatu hal yang tidak mulia? Justru mereka yang mengajak yang demikian itu adalah orang-orang yang termulia di antara manusia lainnya, itulah argumen dari fundamentalis agama atas sesuatu hal yang telah mereka lakukan saat ini. Apalagi dengan ada jaminan surga bagi mereka yang berperang di jalan Tuhan, maka kematian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu hal yang mesti ditakuti, kalaupun mereka mati jaminannya surga. “Jadi tidak perlu takut, mereka yang mati di jalan Tuhan, mereka itu tetap hidup disisi Tuhan sebagai mahkluk yang memiliki kemulian tinggi”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s