Produksi & Reproduksi Pengetahuan di Masyarakat

Posted: October 21, 2008 in seputar ilmu sosial

”Manusia menciptakan sejarahnya sendiri. Tetapi mereka tidak melakukannya dengan sesuka hati. Mereka melakukannya atas pilihan mereka sendiri, tetapi di dalam keadaan yang secara langsung dijumpai, diberikan dan dialihkan dari masa lalu”. (Marx, 1851)

Tingkah laku manusia tidak dapat dipisahkan dari karakteristik masyarakatnya, bahkan masyarakatlah yang membentuk tigkahlaku individu. Demikian Durkheim beragumen perihal asal terjadinya tingkah laku individu . Tingkah laku individu menurut Durkheim sangat dipengaruhi atau tergantung dari representasi keberadaan masyarakatnya.

Konsep Durkheim tentang masyarakat ini senada dan diperkuat juga oleh struktralisme.[1] Strukturalisme melihat kalau dalam struktur masyarakat tidak hanya sekedar adanya individu dan masyarakat, tetapi juga ada sistem simbol yang terbentuk dan bertahan turun temurun sehingga simbol tersebut membentuk kepribadian suatu masyarakat. Sistem Simbol ini bisa berada dalam mitos, sistem kekerabatan sehari-hari, upacara, pernikahan, totem, di mana mereka sudah mereduksi makna-makna dari keterlibatan berbagi intraksi pada tiap-tiap individu sehingga menciptakan suatu hal bersama yang terduga lewat simbol-simbol dan ritual-ritual. Oleh sebab itu, seorang individu berpikir dan bertingkah laku pasti tidak keluar dari simbol, tetapi mereka hidup dan diciptakan oleh simbol.

Tidak hanya sampai di situ, dalam struktur masyarakat juga ada penguasa dan hamba. Penguasa adalah dia yang memiliki kuasa sebagai penafsir atas simbol ketimbang hamba. Penguasa di sini bisa berdasarkan jumlah mayoritas, bisa juga dari status/posisi sosialnya. Misalnya saja seperti yang diamati oleh Foucault pada kaum Homo dan lesbi, karena mereka adalah kaum yang terpinggirkan dan minoritas, serta dianggap tidak mempunyai keberhakan atas suatu penafsiran tentang seks, maka mereka, kaum homo dan lesbi, dikatakan mengidap kelainan seks berdasarkan kategori yang diciptakan mereka yang mayoritas(History of Sexuality, 1981). Atau misalnya term teroris yang diartikan sebagai bentuk kekerasan atau ancaman yang melawan negara, tetapi kalau negara melakukan hal yang seperti itu, kekerasan atau ancaman, dikatakan sebagai bentuk pengamanan bukan pembangkangan, seperti apa yang diamati oleh Chomsky (Pirates and Emperor, Old and New, 2002).

Lewat penjelasan sebelumnya, dapat dipahami di sini betapa memahami struktur masyarakat begitu penting. Dengan memahami struktur maka peran dari penguasa pun akan kentara terlihat (lih. Penguasa dan hamba). Tidak hanya peran, dengan memahami struktur masyarakat, peta dari aturan yang ada pun dapat dipahami. Menurut Giddens, hal ini dikarenakan struktur masyarakat adalah penyedia fungsi aturan dan peranan.

Giddens membagi fungsi Aturan dan peranan ke dalam dua macam; regulasi dan konstitusi. Regulasi adalah yang memberikan aturan main pada apa yang dibolehkan dan yang dilarang. konstitusi adalah ruang sejauh mana individu(pelaku) dapat bergerak. Harus dipahami di sini, bahwa walaupun struktur masyarakat adalah sebagai penyedia fungsi aturan dan peranan, namun struktur membutuhkan pelaku/agen sebagai prasyarat keberadaan struktur. Hal ini menerangkan pula kalau struktur masyarakat tidak bisa dilepaskan keberadaannya dari agen. Bahkan, suatu struktur masyarakat akan menjadi ada terlihat ketika struktur dijalankan oleh agen. Struktur memang memberikan syarat-yarat bagi dimungkinkannya tindakan dan arahan mengenai bagaimana berbagai tindakan harus dilakukan, tetapi para agenlah yang memproduksi dan mereproduksi struktur melalui kegiatan mereka..

Tindakan-tindakan hanya mungkin terjadi karena tindakan-tindakan itu dimungkinkan oleh struktur-struktur sosial tertentu dan dihambat oleh struktur-struktur sosial lainnya. Struktur memungkinkan adanya tindakan, dan tindakan memproduksi serta mereproduksi stuktur. Giddens menyebut saling pengaruh antara tindakan dan struktur ini dengan istilah ”strukturasi” (Giddens’theory of Strusturation, 1991). Aturan dan peran difungsikan di sini, untuk menghilangkan benturan yang lebih buruk serta memberikan kejelasan arah dan tujuan . Dalam hal ini, jelas suatu kesepakatan juga sangat dibutuhkan dalam menjaga stabilitas struktur masyarakat. seandainya tidak ada lampu merah yang mengatur jalan, maka keadaan jalan raya menjadi kacau. Sebaliknya, dengan adanya lampu merah, dan sang pengendara menyadari betapa pentingnya lampu merah, serta bersepakat untuk mengikuti peratutaran maka stabilitas struktur yang ada akan harmonis. Pada akhirnya, kehidupan bejalan raya pun menjadi lebih aman. Ini terjadi karena masing-masing orang bersepakat untuk mengikuti peraturan.

Sampai di sini, bisakah penjelasan di atas menjawab suatu perubahan yang terjadi dalam masyarakat ? Tentu saja tidak, ada sesuatu yang tertinggal, yaitu posisi para agen. Status dari agen tidaklah mungkin sama, pastilah ada agen yang superior dan ada agen inferior.[2] Agen superior tentu saja akan lebih bisa menentukan arah perubahan tidak hanya arah individu tetapi juga masyarakat. Harus dipahami juga, bahwa selain kesepakatan akan peran dan aturan, struktur terebetuk juga karena ada kepentingan di dalamnya. Kepentingan tidak bisa lepas dari faktor tujuan. Tujuan akan tercapai sangat dipengaruhi oleh faktor posisi. Dengan begitu, jelas yang akan memegang peranan dalam hal kepentingan adalah agen superior ketimbang agen inferior. Ini karena agen superior mempunyai kekuatan lebih untuk mereproduksi struktur (lih. Strukturasi pada konsep Giddens).

Figur Agen superior belum tentu menyadari akan posisinya yang superior. Tingkat superior atau tidaknya suatu agen akan terlihat bagaimana interpretasinya dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam suatu masyarakat. Ambil contoh tentang hilangnya pesawat Adam Air sejak tgl 1 januari sampai saat ini (22 Januari 06) masih belum ditemukan. Misalnya saja, beberapa konpsirasi berkembang; pesawat adam air meledak di udara, terjun bebas ke laut, serta tenggelam di dasar lumpur. Tetapi ternyata, konspirasi yang lebih sering diputar oleh media adalah konspirasi ”meledaknya Adam Air di udara”. Hal ini, konspirasi meledaknya adam air di udara, menurut media adalah konspirasi yang paling logis mengapa sinyal pesawat Adam Air tersebar di tiga titik.

Karena media hanya memutarkan satu konspirasi dari tiga konspirasi yang berkembang, sementara masyarakat butuh dasar pengetahuan sementara sampai pengetahuan yang sesungguhnya, maka masyarakat akan tetap menshare pengetahuan tersebut dalam intraksi. Perkembangan ini terjadi karena masyarakat (yaitu common people)juga membutuhkan perkembangan pengetahuan. Ketika pengetahuan pasti belum ada maka dia pun akan membentuk pengetahuan yang sifatnya praduga. Perkembangan pengetahuan praduga ini pun, tidak lepas pula dari tekanan pengetahuan yang dikeluarkan oleh agen superior (dalam kasus ini media) yang memainkan peranan penting pada perkembangan pengetahuan yang dibicarakan dikalangan masyarakat.  Hal tersebut terjadi, menurut Moscovici karena masyarakat pun berusaha untuk membentuk pengetauan dari suatu peristiwa, walaupun pengetahuan tersebut pun terbatas dan sifatnya konspiratif (Conspiration Mentality, 2002).[3]

Permasalahan akan berbeda lagi kalau misalnya tiap media tidak bersepakat tentang konspirasi apa yang paling logis terhadap hilangnya pesawat Adam Air. Beberapa media lebih memilih memberitakan konspirasi kalau ”adam air terbenam di dasar lumpur” ketimbang memberitakan ”adam air meledak di udara”. Di sini, pada tingkat agen superior (media) terjadi konflik antar mereka terhadap konspirasi yang seharusnya diberitakan. Pada tahap perkembangan konspirasi yang akan diterima masyarakat, maka kemungkinan yang terjadi adalah polemik konspirasi; di mana masyarakat pun tidak memiliki kesepakatan bersama tentang pemahaman hilangnya adam air. Atau malah, bisa jadi mereka membentuk pengetahuan baru yang berbeda karena media pun tidak ada yang bersepakat tentang jatuhnya adam air. Pada akhirnya kalau kejadiannya demikian, maka mediapun akan berusaha untuk menarik kembali konspirasinya dan kembali mencari konspirasi yang paling logis dan bisa diterima masyarakat. Hal ini dilakukan biar pengetahuan yang berkembang dikalangan media tidak terlalu jauh dari apa yang dikembangkan masyarakat.

Dari uraian penjelasan di atas, dapat diambil pemahaman bahwa sebenarnya perkembangan masyarakat tidak bisa lepas dari keberadaan agen (superior-inferior), struktur (regulasi-konstitusi) serta dialog antara keduanya baik dialog antar agen superior pada agen supreior, atau agen superior ke agen inferior serta dialog antar agen tersebut pada regulasi dan konstitusi. Dengan demikian, berarti perubahan masyarakat terjadi berdasarkan dialetika dialog yang tidak terpisahkan antar agen (superior-inferior) dan struktur (regulasi dan konstitusi). Idhamsyah


[1] Strukturalisme pada mulanya merupakan sebuah pendekatan bahasa yang menyatakan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda yang makna dan susunanya tidak berasal dari kehidupan sosial atau keinginan kreatif para penutur secara individu, tapi semata-mata berasal dari berbagai hubungan dengan unsur-unsur lain di dalam sistem tersebut.

[2] Sebenarnya agen superior dan inferior hampir sama artinya dengan penguasa dan hamba. Ini dibedakan karena: 1. untuk menyesuaikan konsep bahasa yang diberikan oleg Giddens tentang agen, 2. agar bisa dibedakan tidak hanya kemuliaan dari sifat agen tetapi juga kwalitas mutu yang diberikannya.

[3] Moscovici menggagaskan sebuah hipotesis bahwa suatu pengetahuan yang berkembang di dalam masyarakat tidaklah berada dalam satu silogisme, melainkan banyakak. Bisa saja silogisme yang diolah oleh para saintis dan diberikan arti ketika dilempar ke masyarakat malah arti tersebut ternyata berbeda dengan apa yang dipahami oleh masyarakat (di cini common people). Yan kemudian arti yang berkembang di masyarakat diolah kembali oleh saintis dan diberikan arti yang baru lagi, demikian peredaran pengetahuan yang sesungguhnya. Jadi, sifat pengetahuan itu sebenarnya tidak ada yang berjala lurus tetapi patah-patah. Lih. Serge Moscovici, Social Representation, ed. Gerard Duveen, Newyork: 2001. atau Uwe Flick (ed), The Psychology of Social, Cambridge Univerity Press, 1998.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s