Pengantar Teori Representasi Sosial

Posted: October 21, 2008 in seputar ilmu sosial

Sebenarnya Representasi sosial adalah bagian dari pengembangan pengetahuan sosial. Dalam perkembangannya ada dua teori yang berkembang dalam teori pengetahuan sosial. Pengetahuan 1, apa yang disebut dengan koginisi sosial. Teori ini berkembang di Amerika. Yang kedua, dikenal dengan pendekatan representasi sosial yang sangat popular di eropa dan dikembangkan oleh Moscovici.

Tujuan dalam menerapkan pengetahuan sosial adalah untukmemahami bagaimana interpersonal understanding, moral judgment, persahabatn, bisa tercipta dan muncul.Akan tetapi, pengetahuan sosial bukan untuk menginvestigasikan keadaan tersebut.[i]

Salah satu teori dalam bidang pengetahuan sosial adalah teori koginisi sosial. Kognisi sosial merupakan aplikasi progressive yang sudah mengalami kematangan secara struktur psikologikal pada fenomena sosial. Dalam teori kognisi sosial, produksi dari pengetahuan sosial sifatnya adalah de-kontekstual. Fokus dari pertanyaan mereka adalah “kenapa” dan “bagaimana” pengetahuan.

Fokus dari teori kognisi sosial cukup berbeda dengan apa yang dikembangkan oleh teori repsos. Dalam repsos, mereka menyadari kalau seorang anak mengembangkan pengetahuan sosialnya berada dan terikat pada konteks dari representasi sosial pada komunitas di mana dia tumbuh. Dalam perkembangannya nanti, repsos bukan hanya bagian dari pengembangan teori pengetahuan sosial tetapi juga mengkritik teori kognisi sosial. Bagi repsos, kognisi sosial hanya menyadari kalau seorang dalam metaporanya sebagai “naïve scientist” dan sebagai “economist of cognitive resource” yang hanya digambarkan sebagai subjek yang statis. Kalau dalam repsos, anak tersebut dimetaforakan ke pada subjeksebagai “actor sosial” dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai subjek yang statis.

Dalam repsos, konteks akan produksi perluasan pengetahuan meliputi pula kelembaman histori (historicalinertia)yang terakumulasi dalam sebuah reperesentasi;dan nilai ditempatkan padakonteks yang selalu diasosiasikan denganmuatan apa yang terkandung dalam representasi tersebut. Fokus pertanyaan dari repsos dalah “with whom” dan“who by”, tidak hanya sekedar “why” dan “how” seperti yang ditekankan dalam kognisi sosial. Moscovici mendefinisikan repsos yaitu:

“systems of values, ideas and practices with a two-fold function; first, to establish an order which will enable individuals to orientate themselves in their material and social world and to master it; secondly, to enable communication to take place amongst members of a community by providing them with a code for social exchange and a code for naming and classifying unambiguously the various aspects of their world and their individual and group history” (Moscovici, 1973)

Setidaknya ada 3 tipe trasformasi genesis yang kita dapatkan dari teori repsos. Pertama, kita dapat menyadari proses bagaimana repsos berkembag dan berubah, pertimbangan tersebut dapat kita sadari berasal dari pola sosiogenesis. Proses ini tidak hanya meliputi penjelasan representasi yang tersebar dalam sosieti, tetapi juga proses historisnya bagaimana representasi itu berubah. Saat kita terlahir, pengetahuan telah ada dan di share oleh banyak orang, jadi bentuk pengetahuan yang dibicarakan sosial yang telah ada tidak bisa kita tolak karena itu telah terjadi dan didiskusikan bahkan sebelum kita lahir.

Kedua , kita menyadari dalam prosesyang terjadi dalam representasi sosial terlibat pula individu di dalamnya. Kita menyebut istilah ini dengan ontogenesis. Bayi terlahir ke dalam dunia yang sudah tercipta disekitarnya struktur danterm representasi sosial dari komuitasnya, budayanya, dan tentunya anak tersebut bukanlah actoryang bebas dalam dunia ini, akan tetapi, sebagai individu, dia juga akan menafsirkan pengetahuan yang ada menurut pengalaman yang dia punya. Di sini sifat individu oleh jedeltet di bagi ke dalam 3 keadaan; subjektif sphere (expreesive, meaningful), inter-subjektive sphere (a mean to understand, a toor for interpretation), tran-subjektive sphere (cultural apparatus, social norms, values people link to social relations, allows to build tools for interpretations).

Selain sosiogenesis danontogenesisyang merupakan bagian bentuk dari repsos, adajuga aspek repsos genesis, hal dimana individu-individu bertemu, berkata, berdialog, dan menciptkan konflik. Singkatnya, inti dari genesis ini adalah orangyang berkomunikasi dengan yanglaindan dalam hal inilah sebenarnyapengaruh sosial timbul. Repsos timbul berasal dari semua interaksi sosial sebagai partisipan yang bernegoisasi di dalam identitas sosial mereka untuk menegakan/mendidrikan suatu definisi. Hal ini disebut dengan aspek microgenesis. Melalui ruang interaksi sosial partisipan bisa saja memiliki posisi yang bebeda dari mereka yang memulai interaksi. Dan, dalam hal ini microgenesis bisa saja dikatakan sebagai sebuah proses perubahan.

Nantiya, interaksi sosial adalah suatu medandimana pengaruh sosial secara langsung terlibat, dan dibanyak instansi pengaruh itu bekerja dalam interaksi sosial yangjugaakan membawa perubahan strutural dalam representasi para partisipan. Sifat Perubahan ini bisa saja hanya dalam transformasi ontogenesis dalam perkembangan repsos di individu, tetapi bisa juga menghasilkantransformasi sosiogenesis dalam restrukturasi repsos. Dan memang, ontogenesisdan sosiogenesis adalah hasil konsekuensi dariproses mikrogenesis.

Yang terpenting itu repsos sebagai teori, diakonsern pada signifikansi psikologikal pesan simbollik dalam budaya, dan menggambarkan perkembangan dari perpektif yang sedang muncul dipermukaan yang juga meyisakan ketidak jelasan ketika genesisdari pengetahuan sosial dirasakan berasal dari perspektifindividu teori koginsi sosial. Ingat,Pengetahuan sosial bukan hanya sekedar informasi atau sekedar rutinitas baru dariproses informasi, pengetahuan sosial juga selalu menyediakan wilayah bagi individu untuk mengkontruksinya.

representasi yang sudah meng-ada dalam sosial selalu berubah tetapi tidak menutup kemungkinan suatu pengetahuan itu ada dan terjaga. Hal-hal yang dapat menjaga bisa saja berasal dari budayanya, pendidikan, dan institusi politik (Bar-Tal).[ii]. Hal tersebut oleh Bar-Tal disebut dengan mentalitas siege, mentalitas yang sudah tertanam dengan dalam seingga sulit untuk dirubah. Mentalitas siege hadir dalam akar kepercayaan yang kuat (bar-tal).

Dalam repsos, kepercayaan yang hadir dalam mentalitas siege bisa disebut dengan hegemonic representasi. Hegemonic representasi ini berlaku pada semua symbol atau praktek afektif.mereka terlihat menjadi berseragam dan koersif. Mentalitas siege ini di ekspresikan lewa literature, film, pendidikan, dan pers, yang dipegang oleh pemimpin politik dan oleh bentuk kekuatan institusi yang berbeda dan ini disharepula oleh populasi mayoritas. Namun walaupun begitu, sifat yang telah menjadi mentalitas siege bukan berarti sesuatu yang tidak bisa didiskusikan. Tetap saja akan hadir nilai, dan keyakinan yang berbeda di dalam kepercayaan yang mayoritas.

Kalau dalam segi pengamatanya, suatu bentuk representasi sosial ini dapat di lihat dalam 3 keadaan: 1. Kondisi sirkulasi dan produksi suatu representasi sosial (di lihat dari norma, komunikasi bahasanya, dan bentuk pengetahuan yang di share), 2. Proses suatu representasi sosial (di lihat dari konstruk, ekspresi, praktikal, interpretai, simbolisasi), 3. Pengetahuan yang terbentuk (realitas pengetahuan yang berkembang).

Untuk lebih mudahnya, apa itu representasi sosial dan di mana keberadadaanya, saya rasa penjelasan Uwe Flick tentang apa itu Represesntasi sosial dan 3 keadaan di mana pengetahuan itu berada cukup mudahdi pahami. Flick menjelaskannya:

  1. social representation are social with respect to what is represented
  2. social representation are social with regard their genesis in everyday communication among individual and among social groups
  3. social reprentation are social in their function and needs to be studied with regard to this function

bentuknya: science everyday knowledge

scientificcoulddevelopfromeveryday knowloge

Everyday

knowlodge

Everyday knowlodge

Social

representationn

Social  representationn

Common

senses

Common  senses

ideology

ideology

Scientific

knowlodge

Scientific knowlodge

Myths,

religion

Myths, religionlevel

ofcollectives

levelof

everiday

life

Pre-scientificareaofinfluenceeveriday life

Everiday lifeofthesciencestransformed

Byscience

Sebenarnya darimanakah ide tentang Repsos timbul dari kepala Moscovici? Ide munculnya repsos ini datang dari suatu pertanyaan yang sederhana saja, yaitu 1. dari kenyataan perubahan ruag epistemologis hidup sehari-hari setelah PD I yang memaksa redefinisi atas benyak hal ( seperti industry, teknologi,, ekonomi, politik, & ideology). 2. Dar bergeraknya sejarah yang tidak sebanding lurus dengan pengertian rasionalitas. Melihat kenyataan ini, Mosvici melanjutkan pertanyaan,siapakah yang berhak memproduksi pengetahuan? Benarkah hanya saintis? Benarkah hanya petinggi-petinggi? Apakah benar kalau suatu konsep harus berpatokan dengan mereka (para ilmuwan yang membuat konsep)? Kenyataannya, ternyata suatu konsep yang ada tidak selalu sama dengan kenyataannya. Pemahaman tentang reformasi dari kalangan saintis, belum tentu sama dengan apa yang tersebar dalam masyarakat biasa. Perihal konsep, sebenarnya bukan hanya dari kalangan saintis saja yang membuatnya, tetapi mereka, para masayarakat awam juga berusaha membentuk konsep mereka sendiri, dan itula kenyataan pengetahuan yang ada. Kebodohan mereka bukan berarti ruang pengetahuan mereka mati, mereka tetap akan menshare pengetahuanya sebatas apa yang mereka punya. Untuk itu apa yang harus dikerjakan bagi mereka yang bekerja pada kajian-kajian sosial, yaitu merumuskan ulang fungsi dan letak ilmu-ilmu sosial bagi peradaban modern.

Lupakan ide anda tentang semiotik, di mana di situ ada “signifier” dan “signified”. Repsos tidak melihat siapa figure penguasa dan hamba, dan siapa yang memaksa pengetahuan ini terjadi. Bukan, bukan itu yang utama (walaupun repsos pada akhirnya nanti akan melihat itu), repsos hanya melihat bagaimana pengetahuan itu berkembang dan apa yang dibicarakan (yang sering dishare) sehingga membentuk pengetahuannya saat ini. Repsos lebih melihat pengetahuan dari segi retoriknya, yaitu bagaimana pengetahuan itu dibicarakan (lih. Kembali apa yang dijelaskan Flick).trims


 

[i]Gerard Duveen & Annamaria De Rosa, Sosrep and The genesis of Social knowledge, 1992, h. 94

[ii]Jorge Vala, issiegementalityahegemonic beliefe inIsrael? Acommenton bar-tal & antebi, 1992, h. 1.

Comments
  1. any rufaidah says:

    Kalo sosrep di Indonesiakan jd repsos. gak enak deh nyebutnya. suka keliru2. hehe

  2. jimmy leonard says:

    bung idham, punya referensi buku tentang representasi sosial? tapi terbit antara tahun 2007 sampai 2012 ini

    • idhamputra says:

      Ada bung..
      untuk yang berbahasa Indonesia, pembahasan mengenai representasi sosial sy kupas dalam 1 bab sendiri di publikasi buku sy (dengan kolega) terakhir.
      judul bukunya “Psikologi Prasangka: Sebab, Dampak, dan Solusi” terbitan 2012
      Penulis: Idhamsyah Eka Putra & Ardiningtiyas Pitaloka
      di Gramedia Jabodetabek buku sudah tersedia..

  3. jimmy leonard says:

    oh oke2, terima kasih bung, blog ini sangat membantu sekali🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s