Gerakan Perempuan & Tantangan Masa Depan

Posted: October 21, 2008 in tulisan bebas

Sistem patriakal adalah kekuatan struktur purba silsilah manusia yang masih terbentuk hingga saat ini. Memang tidak semua kebudayaan yang menggunakan sistem tersebut tapi mayoritas tiap kebudayaan adalah patriakal. Tentu saja, jika laki-laki menjadi struktur yang dominan, menjadi orang yang dipertanggug jawabkan, pada akhirnya struktur kehidupan tersebut pun akan merembes kepada interaksi sosial, dari memproduksi dan menkonsumsi, dari politik, hukum, dan tentunya juga budaya. Simbol kelaki-lakian dalam semua struktur kehidupan pada akhirnya tidak dapat dihindari karena hampir semua aspek kehidupan berada dalam kontrol laki-laki.

Meskipun begitu, sampai kapankah patriakalisme akan terus menjadi simbol kekuatan dan kebijaksanaan, akankah laki-laki selalu menjadi pemimpin ? Inilah jaman ketika patriakalisme mendapatkan tantangannya. Jaman dimana dipertanyakannya pembagian peran laki-laki dan perempuan. Benarkah perempuan tidak bisa menjadi kepala rumah tangga ? kenapa seperti itu, apa yang salah dengan perempuan? Benarkah perempuan itu bukan manusia yang sesungguhnya melainkan hanya pelengkap laki-laki?

Ide tentang pembelaan terhadap hak-hak kaum perempuan sebenarnya baru merebak pada abad belakangan ini. Ide tersebut benar-benar meningkat sejak 1960 hingga saat ini (Tinjauan Castell, Power of Identity). Mengapa demikian? Ada 4 elemen menurut Castell kenapa ide feminis meledak dijaman kita ini; 1. adanya transformasi dunia ekonomi dan dunia pekerja yang membuka kesempatan kepada perempuan, karena ternyata ada ruang-ruang kerja yang sangat membutuhkan perempuan. 2. Berkembangnya teknologi kedokteran dalam mengontrol kelahiran bayi. 3, Imbas dari pembagian kerja & perkembangan teknologi akhirnya timbullah gerakan feminis yang penekanannya lebih ke poilitik. 4. karena gelombang informasi yang demikian cepat berkembang dan mengglobal sifatnya, akhirnya ide-ide feminis yang tadinya hanya keluar pada satu daerah menjadi populer di kalangan perempuan seluruh pelosok negeri.

Yang cukup menarik disimak adalah tentang kekerasan terhadap perempuan. Seharusnya ketika perjuangan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan menjadi suatu kepedulian, justru ternyata era ini adalah era di mana kekerasan terhadap perempuan meningkat. Perceraianpun meningkat ketika era kesamaan hak meledak menjadi suatu simbol perlawanan perempuan. Penelitian tersebut di teliti oleh Castell tahun sekitar 1960an sampai 1990an pada negara-negara di 5 benua. Kenapa hal tersebut terjadi, setelah ditinjau secara luas, hal tersebut terjadi karena posisi laki-laki mulai kehilangan dominasinya dari kalangan perempuan setelah berabad-abad dominasi itu selalu berdiri tegak.

Sebenarnya dominasi laki-laki yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan, tidak serta merta disebabkan oleh kekuatan laki-laki semata. Laki-laki dalam sejarah kehidupannya tidak hanya berinteraksi dengan sesamanya, melainkan juga berinteraksi dengan perempuan, dan lingkungan sekitarnya. Hal ini berlangsung terus selama berabad-abad sampai sekarang. Tentunya, dalam interaksi yang berabad-abad tersebut akan menciptakan suatu tatanan yang dibangun bersama, walaupun didalamnya tersibak juga suatu penekanan atau paksaan. Untuk itu, Perempuan pun tidak bisa menyalahkan laki-laki begitu saja atas dominasi yang terbentuk. Setuju atau tidak, perempuan pun ikut terlibat atas terciptanya dominasi laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.

Teori yang menguatkan kenapa laki-laki memegang hampir semua dominasi struktur kehidupan datang pula dari proses pemilihan perempuan terhadap pasangannya. Dalam hal memilih pasangan, ternyata perempuan jauh lebih selektif ketimbang laki-laki. Perempuan akan lebih suka memilih laki-laki yang status sosial atau status ekonominya lebih tinggi ketimbang laki-laki yang memilih berdasarkan keadaan fisiknya (sidanius & Pratto, 1999). Laki-laki yang kaya atau terhormat akan lebih cepat dipilih perempuan sebagai pasangan hidupnya. Untuk itu, makanya sesama laki-laki lebih sering terjadi konflik ketimbang sesama perempuan. Konflik antar laki-laki adalah konflik untuk menjadi penguasa, konflik untuk menjadi yang dominan.

Atas peristiwa awal yang hanya berasal dari proses pemilihan pasangan, ternyata konsekuensinya berlajut pada sisi kehidupan lainnya. Persaingan yang tadinya hanya ingin memberikan perhatian pada kaum hawa, pada akhirnya persaingan tersebut ikut berimbas pada sektor pertanian, perdagangan, politik, dan sektor lainnya dimana laki-laki merasa harus berbuat sesuatu untuk dirinya agar bisa terus meningkatkan status hidupnya.

Jika demikian penjelasannya, lantas siapakah asal-muasal sebenarnya yang menciptakan struktur patriakal. Apakah ada perempuan yang memilih pasangan yang lebih lemah darinya? Kalaupun ada, seberapa banyak jumlahnya dibanding dengan perempuan lainnya? Masukkah permasalahan ini ke dalam agenda perempuan?

Perlu diingat juga, pengaruh dari gerakan kaum perempuan, rupanya juga memicu timbulnya gelombang pergerakan kaum lebian dan homoseksul. Saat ini ide tentang patriakalisme benar-benar terlihat seperti berada dalam gelombang lautan yang maha besar karena di serang dari berbagai sudut hingga cukup menghancurkan pelayaran patriakalisme. Apalagi ketika filosof postmo asal prancis, Michael Foucault, menyibak tabir bahwa ternyata hasrat seksual juga diarahkan dengan paksa secara tidak sadar menuju hasrat seksual tunnggal. Maka timbullah ide-ide tentang hasrat seks yang tidak menyimpang dan yang menyimpang.

Yang dominan selalu ingin menekan pengetahuan yang tidak dominan. Dan jika suatu kewajaran nilai dilihat dari suara mayoritas, maka sampai sepanjang hayat suara minor itu tidak akan pernah menjadi wajar. Jadi kenapa homo dan lesbi itu dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang? Demikan teriak pergerakan kaum homo & lesbi.

Pada akhirnya, mungkin kita semua harus berintropeksi diri. Mempertimbangkan masak-masak apa yang kita suarakan sebenarnya, untuk kepentingan kelompok kita, manusia keselurhannya, atau untuk kedamaian. Jika suara yang kita teriakan sekedar untuk kepentingan dan akan menggoncang keseimbangan dalam kehidupannya, ada baiknya kita pikirkan dahulu suara yang akan kita perjuangkan. Untuk perempuan, tulisan ini sekedar memberikan gambaran keadaan saat ini dan proses kejadiannya atas suara-suara lantang yang diteriakan perempuan. Mungkin saja suara-suara perempuan yang akan dikumandangkan kedepannya cukup bisa memberikan solusi untuk tantangan masa depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s