Sumpah Pemuda dan Cacat yang Perlu Ditambal

Posted: October 20, 2008 in negeriku

Tanggal 28 Oktober biasa dikenang oleh rakyat Indonesia dengan Hari Sumpah Pemuda. Pada hari itu, tepatnya tanggal 28 oktober 1928, para pemuda dari seluruh Indonesia seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Pemuda Betawi, dll, berkumpul dan menyatakan Sumpah sebagai “bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.”

Apa yang menyebabkan mereka berkumpul serta bersatu dan menyatukan suara sebagai bangsa Indonesia sebenarnya tidak lepas dari latar belakang penderitaan yang sama. Mereka sama-sama merasakan pahitnya menjadi bangsa yang terjajah. Pokok utama inilah yang membuat mereka sama-sama merasakan adanya kedekatan emosional, adanya keinginan bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka. Ini pula yang menyebabkan mereka ingin bersatu, karena dengan bersatu mereka menjadi kuat, dengan bersatu cita-cita mereka akan lebih bisa terpenuhi.

Mohammad Yamin dalam pidatonya di Kongres Pemuda II mengemukakan kalau ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan bangsa Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan. Hal tersebut tentunya diperkuat pula dengan adanya musuh bersama saat itu, yakni penjajah.

Namun demikian, sudah cukupkah Sumpah Pemuda sebagai prinsip perjuangan, sebagai konsep bersama bangsa Indonesia memupuk dan memperkuat persaudaraan mereka menjadi bangsa yang satu ?

Memang, Sumpah Pemuda telah bisa membuktikan menjadi pemersatu yang sangat ampuh bagi para pemuda dalam perjuangannya melawan Belanda dan Jepang. Bahkan revolusi agustus 1945 dicetuskan dari berbagai golongan pemuda yang menjujung tinggi Sumpah Pemuda. Permasalahan perbedaan bahasa pun terselesaikan dengan penerimaan para pemuda Indonesia terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu mereka.

Akan tetapi, Sumpah Pemuda sebagai prinsip dasar perjuangan bukan berarti berdiri tanpa cacat. Ini bisa dilihat lewat saripati yang dihasilkan Sumpah Pemuda yang lebih menonjolkan satu prinsip, yakni persatuan saja. Misalnya slogan yang sering didengar seperti “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”, adalah slogan yang sangat menonjolkan prinsip persatuan.

Sumpah Pemuda yang lebih menonjolkan persatuan sebagai prinsip perjuangan akhirnya melupakan prinsip perjuangan yang lain seperti kesetaraan (equity) dan kemerdekaan (liberty). Padahal, persatuan sebagai slogan bangsa belumlah cukup menjadi perekat yang kuat pada suatu bangsa.

Sumpah Pemuda justru akan lebih bisa dihayati dan dipatuhi kalau semua diperlakukan setara atau adil. Justru Sumpah Pemuda menjadi bisa betul-betul diakui dan ditaati secara bersama dengan sepenuh hati, kalau semua merasa dihargai setara.

Adanya persatuan bukan berarti menghilangkan skema tentang hierarki sosial atau stratifikasi. Persatuan bukanlah kesetaraan. Persatuan belum tentu menghilangkan skema tentang golongan atas dan golongan bawah. Tidak adanya kesetaraan tentunya akan berdampak pula terhadap kehidupan berpolitik, toleransi atau intoleransi. Ini akan terlihat jelas ketika kemerdekaan telah sama-sama direbut. Masing-masing golongan yang merasa paling benar konsepnya, akan memaksakan konsepnya supaya dijalankan oleh pemerintahan yang baru.

Kalau kita mau menelaah kebelakang, sebenarnya sebelum dan sesudah Sumpah Pemuda dikumandangkan, konsep tentang negara Indonesia akan seperti apa nantinya terpecah, setidaknya menjadi dua kubu besar. Pertama dari golongan nasionalis Islam yang diusung oleh Partai Sarekat Islam (PSI), dan yang kedua dari golongan nasionalis sekular yang diusung oleh partai Nasional Indonesia (PNI) di bawah pimpinan Ir. Soekarno. GolonganNasionalisme Islam menghedaki negara Islam dan memakai Islam sebagai undang-undangnya, sedang golongan nasionalis sekular menghendaki Negara Pancasila.

Bagi golongan nasionalis Islam, konsep tentang negara Islam sudah menjadi keinginan yang tertanam sejak lama. Apalagi, wilayah jajahan Belanda adalah wilayah yang mayoritas penduduknya muslim. Pendapat mereka waktu itu, kalau Indonesia merdeka tentu hukum-hukum Islam pun akan berlaku. Oleh karena itu, yang dipentingkan pemimpin-pemimpin Islam saat itu bukanlah negara yang berdasarkan Islam, tetapi kemerdekaan Indonesia.

Jadi, tentu saja tujuan utama dari kubu Nasionalis Islam adalah negara Islam. Dalam kamus mereka, tujuan menggapai kemerdekaan adalah menciptakan prinsip hukum yang berdasarkan Islam.

Pertentangan antara nasionalis Islam dengan nasionalis sekuler meningkat dalam sidang-sidang panitia persiapan kemerdekaan Indonesia. Persidangan pun berlangsung alot. Tetapi akhirnya mereka menghasilkan suatu kesepakatan berupa piagam jakarta. Pancasila yang akan dibentuk disetujui pula oleh golongan Nasionalis Islam sebagai dasar negara, tetapi di dalamnya ditambahkan satu ketentuan mengenai umat Islam, sehingga sila pertamanya berbunyi: Kepercayaan pada Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban kepada Umat Islam Menjalakan Syariatnya.

Tetapi dikedepannya, isi perjanjian tersebut tidak dibacakan dan ditinggalkan. Sempat ada protes dari kalangan Nasionalis Islam, namun entah kenapa protes tersebut tidak begitu terdengar. Namun, permasalahan tersebut tentu saja belum selesai, hal tersebut masih menjadi permasalahan sampai saat ini.

Buruknya lagi, kini prinsip persatuan yang telah dilekatkan sejak Sumpah Pemuda justru kian pudar dan semakin terkikis. Ini bisa dilihat dari pertikaian antar etnis dan agama yang terjadi terus menerus sampai saat ini. Bahkan, permusuhan dan perpecahan sesama bangsa sendiri mulai nampak membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita.

Apakah ini petanda pula kalau semangat Sumpah Pemuda sudah tidak bisa lagi menjadi simbol persatuan ? Dahulu, Sumpah Pemuda bisa menjadi simbol persatuan karena saat itu hanya dengan bersatulah Bangsa Indonesia dapat bebas dari penjajahan, dan hal tersebut memang terbukti. Kini musuh bersama itu telah lama hilang, sehingga perjuangan bersama itupun kian memudar. Padahal musuh bersama itu akan selalu saja muncul dengan kostum yang berbeda.

Seharusnya, untuk generasi muda saat ini Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan bukan malah ditinggalkan dan dilupakan. Tetapi apa yang telah diusung oleh generasi sebelumnya, ditambahkan sesuatu yang kurang darinya. Sehingga Sumpah Pemuda yang dulunya hanya menonjolkan persatuannya saja, kini menjadi sumpah pemuda satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, yang bertoleransi terhadap pluralisme dan yang menghargai kebebasan hak.

Dengan demikian, sumpah pemuda tidak kembali berulang dari awal, tetapi menjadi dialektika yang kontinum. Sehingga permasalahan disintegrasi bangsa yang ada saat ini, dapat kembali bersatu lewat semangat sumpah pemuda yang baru dan segar. Idhamsyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s