Manusia; Otak, Kepribadian, dan Gen

Posted: October 20, 2008 in kesehatan

Manusia;

Otak, Kepribadian, dan Gen (Sebuah Perdebatan)

Anak-anak di Amerika Serikat biasanya selalu belajar untuk menghitung, walaupun mereka belum masuk Preschool. Faktanya pula, kemampuan untuk menghitung diperkirakan sebagai keahlian kognitif yang mendasar. Oleh sebab itu, orang yang rendah kemampuan menghitungnya sebaiknya harus disadari memiliki keterbelakangan mental (Lindolm, 2001). Benarkah pernyataan tersebut?

Allan Holmberg, antropolog dari Amerika, menemukan seorang anak yang tidak bisa menghitung angka ketiga. Hari ini, besok, dan lusa dia menyebutnya dengan hari ini, besok, dan saudara dari besok (the brother of tomorrow). Ini aneh, karena anak yang di teliti oleh Halmburg, selain permasalahan hitungan angka 3 dia tetap terlihat seperti anak normal lainnya.

Penemuan Holmberg sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa; pada masyarakat yang di teliti olehnya, daerah Amerika Tengah, setelah diteliti lebih dalam ternyata masyarakat lokal pada wilayah itu memang memiliki kapasitas yang sedikit untuk memikirkan angka secara abstrak (Lindolm, 2001). Apakah memang mereka memiliki kemampuan intelektual rendah dibandingkan kita? Apa mereka secara mental terbelakang? Penilaian hal tersebut cukup sulit untuk disimpulkan. Dari standarisasi mana kita menilainya, apakah dari standarisasi budaya kita (luar) atau budaya mereka (dalam).

Jauh menyebrangi samudra Pasifik, suku Dani dari Papua New Guinea memiliki persepesi yang berbeda tentang warna dari masyarakat lainnya. Cukup berbeda dengan penemuan Holmberg tentang kemampuan numerologi suatu suku di Amerika Tengah, di suku Dani mereka hanya melihat dua sisi warna yaitu hitam dan putih. Apakah persepsi yang sangat berbeda ini dapat dikatakan bahwa kemampuan mereka menangkap warna sangat terbelakang dibandingkan masyarakat modern?

Melanie P. Reyna dalam bukunya yang berjudul “Conection: brain, Mind, and Culture in a Social Anthropology”, menjelaskan kalau pelaku evolusi sebenarnya bukan hanya yang ada terlihat pada tubuh secara fisik, melainkan otak kita juga ikut berevolusi.[1]perubahan keadaan tubuh kita seperti apa, sebenarnya juga ikut mempengaruhi kapasitas berpikir dari otak. Tingkat kapasitas otak pun terbentuk sesuai dengan struktur budaya yang telah dijalani turun temurun. Bahkan sebenarnya, daya ingat kita ketika lahir ini sama sekali tidak berbentuk tabula rasa (Matt Ridley, 2005). Pada rangkaian kromosom 7, diduga kromosom ini membawa ide-ide nenek moyang mereka. “The Tabula of human nature was never rasa”, demikian yang di utarakan W.D. Hamilton. Buat Hamilton, mana mungkin suatu spesies yang sudah menjalani evolusi jutaan tahun, sama sekali tidak menurunkan sesuatu pada ide.

Daya pikir kita yang dihasilkan ini berasal dari hasil interaksi dengan lingkungan yang ada. Pola kehidupan berubah karena manusia berusaha menyesuaikan diri pada keadaan lingkungannya. Suku Dani di Papua berkebudayaan seperti itu karena keadaan lingkungan mereka masih bisa mereka atasi dengan keadaan seperti itu. Bentuk interaksi dari lingkungan sebenarnya tidak hanya membentuk budaya yang berada di luar melainkan juga naluri. Naluri ini terbentuk tidak hanya hinggap sementara pada tubuh tapi juga menetap dan berevolusi pada kromosom 7.

Hasil interaksi manusia dengan lingkungan lalu memakan makanan yang tersedia pada wilayah itu ikut juga berperan merangasang pola kerja metabolisme tubuh termasuk otak. Otak pun memerlukan cakupan gizi yang cukup. Telah diketahui, bahwa DNA otak tidak bertambah lagi sesudah berumur 6 bulan dan berat otak bertambah pesat pada tahun pertama (Brace & Livingstone, 1971). Kekurangan gizi akan menghambat pertambahan lingkaran kepala karena terhambatnya pertumbuhan otak dan dapat mencapai 2 simpangan baku di bawah ukuran rata-rata untuk anak-anak normal. Dalam hal ini sel otak, protein, RNA dan DNA otak juga berada di bawah normal. Akibatnya yang terjadi adalah terganggunya perkembangan kecerdasan.

Kekurangan gizi biasanya identik dengan kelaparan. Fenomena kelaparan sebenarnya juga suda sering terjadi dalam sejarah manusia. Kelaparan yang akut dapat menimbulkan kematian yang banyak dan juga penurunan fertilitas, yaitu kapasitas reproduktif yang nyata. Menurunnya kalori di bawah nilai tertentu, menyebabkan turunnya libido, oligospermia dan berkurangnya motilitas dan umur spermatozoa, penurunan fertilitas lebih hebat terjadi di kalangan pekerja kasar daripada pekerja kantor.

Kelaparan yang menahun akan menyebabkan adaptasi biologis. Populasi akan mengurangi biomassanya, yaitu jumlah berat badan seluruh populasi; jadi jumlah penduduk atau berat badannya akan berkurang, ataupun kedua-duanya, sehingga kalori yang diperlukan akan berkurang. Pertama-tama lemak akan berkurang, baik yang dekat permukaan maupun yang dalam, dan alat-alat dalam akan bertambah kecil. Perawakan ektomorf akan lebih banyak terdapat di dalam populasi daripada endomorf. Disamping itu, badan akan mengurangi aktivitasnya, sehingga ia memakai kalori lebih sedikit. Dengan perkataan lain populasi itu akan hidup pada tingkat energi yang lebih rendah dan pekerjaan-pekerjaan, yang diperlukan segera, tidak akan dilakukan (Jacob, 2000).

Tubuh manusia berkembang sesuai dengan apa di berikan olehnya. Struktur alam juga ikut mempengaruhinya. Manusia berbeda-beda karena mereka hidup pada kondisi alam yang berbeda-beda. Pola interaksi dengan alam tersebut membawa struktur tubuh untuk ikut berinteraksi. Bagaimana suatu organisme berhadapan dengan suhu yang kelewat menonjol, bagaimana mereka bergerak seputar lingkungan, makanan apa yang mereka makan, bagaimana mereka mendapatkannya, dan sebagainya.

Warna kulit menjadi ciri yang paling mudah dibedakan di mana kelompok manusia berbeda secara genetik. Hal itu disebabkan sejumlah gen. pigmentasi gelap barangkali memiliki keuntungan selektif terhadap sinar matahari di daerah tropis.Yang lebih mendekati ketepatan ialah adanya perubahan-perubahan dalam arah warna terang di daerah-daerah dengan sinar matahari lemah (F. Vogel & Motulsky, 1979). Sifat lain yang dapat diamati adalah berat badan, bentuk hidung, warna rambut, dan kesuburan rambut (Storza & Bodmaer, 1971).

Masalah cakupan gizi terhadap kapasitas mengkonsumsi makanan, akan sehatnya orang ini atau tidak, juga terpaut dengat ruang manusia tinggal dan beradaptasi di sana. Laporan tentang gizi sehat dan gizi kurang sehat pada suatu daerah tertentu belum tentu pula cocok dengan pada cocok pada daerah yang lain. Tubuh baradaptasi dengan struktur kehidupan manusia pada tempatnya, demikian pola makan dan pasokan gizi.

Para ahli gizi barat memiliki cukup bukti yang menunjukan bahwa tubuh manusia perlu berbagai vitamin dan mineral setiap harinya agar tidak menjadi korban dari penyakit defisiensi. Salah satunya penyakit akibat defisisensi adalah penyakit kudis yang banyak menyerang para pelaut, karena mereka hanya makan biskuit keras dan minuman berakohol, dan jarang makan sayuran dan vitamin yang banyak mengandung vitamin C. tetapi, di seluruh dunia, banyak suku bangsa yang selama berabad-abad hidup tanpa makan vitamin yang berkecukupan, tetapi tetap hidup sehat. Suku Indian Trahumara di Sonora Utara, Meksiko, suku Indian ini bisa berlari sejauh 25-50 mil setiap harinya di daerah dataran tinggi tanpa merasa kelelahan.

Yang lebih mengagumkan adalah kenyataan bahwa satu keluarga suku Indian Trahumara umumnya hanya makan seratus kilogram jagung setiap tahunnya, di mana setengah dari jumlah itu dibuat menjadi minuman semacam bir. Sumber nutrisi yang lain, seperti akar-akaran, hanya tersedia dalam jumlah kecil, dan terbatas pada musim panen saja. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan nutrisi yang jauh di bawah standar tersebut menunjukan adanya fleksibelitas sistem pikiran-tubuh yang hampir tak terbatas. Ironisnya, adaptasi mereka begitu sempurna sehingga bila diet mereka diubah menjadi diet yang seimbang, yang ditunjang dengan vitamin dan mineral dalam jumlah cukup, sebagian dari mereka akan mulai terjangkit penyakit jantung, hipertensi, kelainan kulit, dan kerusakan gigi, yang belum pernah mereka alami, dan jumlah itu cukup banyak (Chopra, 2002).

Hidup normal dan tidak normal hanya sekedar zona di mana kita hidup. Ini bukan sebuah aturan tapi pilihan. Para pelari suku Indian Tarahumara, yang membawa pesan sepanjang Pegunungan Andes keseluruh kerajaan Inca, memiliki nilai normal yang berbeda dengan kita, nilai normal yang lebih cocok untuk cara hidup mereka. Yang ingin mereka lakukan, berlari lima puluh mil sehari, menurut mereka lebih penting dari sekedar norma-norma tubuh, meski pun diet mereka dianggap tidak memadai. Tanpa banyak bertanya, tubuh mereka beradaptasi dengan kecerdasan, dan bukan sebaliknya. Kebiasaan hidup barangkali bisa mempersulit adaptasi, meskipun pikiran menginginkan pikiran perubahan. Orang-orang yang kegemukan sebaiknya tidak melompat dari tempat duduknya untuk mengikuti lari maraton. Tetapi, kemampuan manusia untuk beradaptasi tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Meskipun tubuh kita seperti komputer yang dilengkapi dengan ribuan mekanisme homeostatis, kita bisa mengubah keterampilan-keterampilan kita, melupakannya, melatih keterampilan baru, dan sebagainya.

Tubuh juga ikut berpikir dan berusaha menjawab dengan beradaptasi. Semua rangasangan yang diterima oleh tubuh, kemudian di kirim ke otak, di dalam otak rangsangan tersebut di olah kemudian di sebarkan kembali. Jalur yang ditempuh dalam tugas pengiriman ini mulai dari sistem syaraf pusat turun ke arah tulang belakang, di ujung atas tulang belakang, jalan akan bercabang ke kiri dan kanan; yang kemudian terpecah lagi menjadi jutaan jalur kecil yang menghubungkan setiap bagian tubuh manusia.

Transmiter- transmiter syaraf adalah pelari-pelari yang bergerak dari dan menuju otak, membawa berita ke setiap organ di dalam tubuh manusia, baik berupa emosi, keinginan, intuisi ataupun mimpi-mimpi. Tetapi, tidak satupun aktivitas tersebut tergantung hanya dari otak saja; tak satupun aktivitas yang hanya bersifat mental, karena mereka bisa dikodekan menjadi pesan-pesan kimiawi. Transmitter-transmitter syaraf menghidupkan setiap sel. Setiap kali sebuah pikiran ingin pergi, sejumlah senyawa kimiawi harus ikut pergi, karena tanpa mereka, tidak ada pikiran yang dapat dilepaskan. Berpikir merupakan latihan kimiawi otak, yang memicu reaksi di seluruh tubuh.

Sistem organisme yang bekerja pada tubuh manusia tidak murni bekerja secara bebas. Pikiran juga bisa ikut mengatur dan berperan dalam menentukan jalur-jalur tersebut. Dalam acara-acara ritual kebudayaan, atraksi-atraksi yang sifatnya melukai tubuh sering sekali ditemui. Seperti berjalan di atas api, atau menghunus senjata tajam ke badan atau ke tangan. Uniknya, seharusnya setelah melakukan hal tersebut tubuh mereka terluka dan mengeluarkan darah, tapi ternyata kejadian tersebut tidak mereka alami, tubuh mereka tetap normal tidak ada cacat. Menurut Cannon (1982) ini terjadi karena Kepercayaan mereka yang kuat dalam pikiran memaksa sistem syaraf yang bekerja sebagai pembawa berita sakit tidak berfungsi. Bahkan cannon menambahkan, perubahan kesadaran pada manusia juga ikut mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Cannon memperlihatkan bahwa ketakutan, dan juga kemarahan, berasosiasi dengan suatu aktivitas intensif khusus dalam sistem syaraf simpatetik. Aktivitas ini biasanya berguna, karena meliputi perubahan-perubahan organis yang membuat seseorang sanggup menyesuaikan diri dengan suatu situasi baru (Strauss, 97).

Setelah menyimak bentangan penjelasan tentang sistem melatbolisme pada tubuh, proses adaptasi, rangsangan berpikir dan pola berpikir pada manusia, akan sangat sulit menilai tentang intelektualitas pada tiap-tiap budaya manusia. Karena tiap-tiap budaya memiliki solusi dan jawaban yang berbeda untuk menjawab tantangan alam. Kebiasaan yang dilakukan pada suatu budaya, belum tentu pula biasa dilakukan pada budaya lainnya. Jika memang di Amerika Tengah, taraf kemampuan menghitung penduduknya rendah, ini karena mereka menjawab sebuah fenomena alam dan kehidupan bermasyarakat mereka tidak memerlukan proses menghitung.

Kita juga selalu menilai kemajuan dan tidaknya suatu masyarakat di lihat dari kacamata budaya kita. Padahal tiap kebudayaan memiliki kebiasaan yang berbeda. Apakah rakyat papua dan suku-suku primitif lainnya dapat dikatakan bahwa mereka sacara mental terbelakang? Suatu budaya adalah hasil dari faktor seleksi evolusi manusia. Jika keadaan alam sudah tidak mendukung pola hidup mereka seperti itu, dengan serta merta mereka pun akan berusaha untuk menyesuaikan diri kembali sesuai kebutuhan mereka. Idhamsyah

Referensi:

Berry, John W., Ype H. Poortinga, Marshall H. Segall, Pierre R. Dasen, Psikologi Lintas Budaya, ter. Edi Suhardono, Jakarta: Gramedia, 1999

Donald, Merlyn, A Mind So Rare: The Evolution of Human Consciousness, New York: W.W. Norton & Co., 2001

Reyna, Stephen P, Connections: Brain, Mind, and Culture in Social Anthropology, New York: Routledge, 2002

Carlson, Neil R, Physiology of Behavior, Allyn & Bacon, 2001

Ridley, Matt, Genom, terj. Alex Tri Kantono W, jakarta: Gramedia, 2005

Strauss, Claude Levi, Mitos, Dukun & Sihir, terj. Agus Cremers, santo Johanes, Yogya: Kanisius, 1997

Jacob, T, Antropologi Biologis, Departemen Pendidikan nasional, 2000

Charless Lindolm, Culture & Identity, McGraw Hill, 2001

Chopra, Deepak, Quantum Healing, terj. Lala Herawati Dharma, Bandung: Nuansa, 2002



[1] Penjelasan dari melanie ini tidak saya kutip langsung dari bukunya, tapi dari ulasan buku melanie oleh David Flynn; The Canadian review of Sociology and Anthroplogy; aug 2003; 40, 3; Proquest Psychology Journals

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s