Mencari Akar Munculnya Terorisme Islam di Indonesia

Posted: May 12, 2011 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , ,

Idhamsyah Eka Putra & Any Rufaidah

Abstrak

Penelitian ini berupaya menemukan jawaban akar sebab munculnya terorisme Islam di Indonesia. Temuan yang dilakukan oleh Henry dkk (2005) dan Sidanius dkk (2004) menunjukkan bahwa terorisme Islam muncul sebagai upaya konter dominansi terhadap Barat. Temuan yang didapat oleh Henry dkk (2005) dan Sidanius dkk (2004) ini mematahkan asumsi sebelumnya bahwa teorisme Islam muncul karena benturan nilai dua peradaban, yaitu Islam dengan Barat. Terorisme di Timur Tengah lebih menujukkan ketidaksukaannya atas intervensi dan dominansi Barat yang muncul di Timur Tengah. Kondisi Timur Tengah ini berbeda dengan kondisi di Indonesia. Di samping terjadi konflik antaragama, intervensi asing (Amerika) terhadap Indonesia juga terjadi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjawab kejelasan akar sebab munculnya terorisme di Indonesia. Penelitian dilakukan dalam bentuk FGD dan wawancara pada 40 orang tahanan dan mantan tahanan teroris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan terorisme di Indonesia dipicu oleh tiga sebab, yaitu kondisi konflik, kondisi sosial yang tidak baik, dan terampasnya akses politik dan ekonomi Muslim di Indonesia.

 Pendahuluan
Setelah terus-menerus diulas media pasca runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001, terorisme tidak lagi menjadi fenomena baru. Bahkan sebenarnya terorisme adalah fenomena yang telah muncul berabad-abad lamanya sebelum peristiwa 11 September. Mengenai definisi terorisme sendiri, deskripsi yang muncul tidak bersifat tunggal. Menurut hasil penelusuran Sutalan (2007a), ada lebih dari seratus definisi terorisme. Seratusan definisi ini dipersempit oleh Laquer (1999) pada perilaku yang mengandung ‘kekerasan’ atau ‘ancaman kekerasan’. Namun demikian, penyempitan arti terorisme yang dilakukan oleh Laquer tersebut dipandang masih terlalu sulit untuk membedakan antara perilaku yang dikatakan sebagai terorisme dengan perilaku yang bersifat kriminal. Menurut Post (2007) dan Horgan (2006), yang memang layak disebut terorisme adalah tindakan yang sering menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan politik, ideologi, atau agama (Horgan, 2006; Post, 2007).

Seminar Internasional yang dilakukan di New York dan Washington pada 12 Oktober 2002 sebagai acara untuk mengenang kejadian 11 September 2001 menghasilkan kesepakatan bahwa Asia Tenggara diletakkan sebagai wilayah kedua yang rawan terorisme (Tan, 2003). Di antara negara lainnya di Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu yang mendapat perhatian lebih dari media dunia, khususnya setelah Bom Bali 2002. Berbicara mengenai terorisme di Indonesia, setidaknya ada dua jenis terorisme di Indonesia, yaitu terorisme separatis dan terorisme agama. Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RSM) adalah contoh kelompok teroris separatis dan Jamaah al-Islamiyah (JI) dan Komite Pencegahan Krisis (KOMPAK) adalah kelompok teroris Islam. Yang disebut terakhir dibentuk oleh Dewan Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan berafiliasi erat dengan JI. Tujuan pembentukannya adalah membantu Muslim di Ambon pada saat konflik 1998. Setelah Bom Bali I pada tahun 2002, JI menjadi banyak dibicarakan (Barton, 2005). Hal tersebut memicu para ilmuwan ilmu sosial untuk mempelajari organisasi (Barton, 2004; Sarwono, 2006; Mamoto, 2008) dan menyediakan jawaban mengapa kelompok teroris seperti JI ada di Indonesia.

Studi-studi mengenai terorisme Islam menemukan sejumlah faktor yang menyebabkan suatu kelompok melakukan teror, baik dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Beberapa studi menemukan aksi teror dapat dipicu dari kegagalan ekonomi global modern dalam menyejahterahkan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Studi lainnya mengklaim bahwa munculnya terorisme disebabkan antara lain oleh dominasi identitas nasional di atas identitas Islam, ketidaksepakatan terhadap sistem politik tertentu (demokrasi misalnya), pendudukan Israel di Jerussalem, benturan Islam dan agama lain, dan kekuasaan oleh pemerintah sekuler (lihat Castells, 2004; Robinson, Crensaw, & Jenkins, 2006; Moghaddam, 2008). Masalah-masalah tersebut menimbulkan perasaan malu dan menghilangkan perasaan belas kasihan pada diri teroris (Abdel-Khalek, 2004; Rothschild, Abdollahi, Pyszczynski, 2009). Kelompok-kelompok teroris mengungkapkan Muslim harus dikeluarkan dari kondisi buruk. Mereka percaya bahwa menyerang dengan nama Allah dan agama adalah suatu perjuangan mulia untuk mencapai kesejahteraan Muslim (Venkrattraman, 2007; Kruglanski, Chen, Dechesne, & Orehen, 2009).

Muncul perbedaan uraian temuan pada peneliti-peneliti teroris mengenai target utama penyerangan atau aksi teror. Misalnya saja Pape (2005) menemukan kelompok teroris lebih sering menyerang negara dengan sistem pemerintahan demokratis. Berbeda dengan Pape, Sutalan (2007) mengungkapkan bahwa aksi teror terjadi baik di negara demokrasi maupun negara-negara anti-demokratis. Di lain pihak, Wade dan Reite (2007) juga menyampaikan tidak ada rezim tertentu yang memicu munculnya terorisme. Dengan demikian, target terorisme masih diperdebatkan oleh hasil temuan penelitian sebelumnya.

Beberapa penelitian mengenai kelompok teroris dan pemberi dukungan di Palestina dan Lebanon menjelaskan bahwa  sebagian besar Muslim memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok seperti Hammas, Jihad Islam, dan Hizbullah. Keluarga pelaku teror juga mendukung sepenuhnya anggota mereka untuk melakukan bom bunuh diri (Post, Sprinzak, & Denny 2003; Kimhi & Bahkan, 2004, Moghaddam, 2006). Atas fenomena yang terjadi ini, sebuah survei dilakukan di 14 negara (termasuk Indonesia) menginformasikan kenapa umat Muslim memberikan dukungan kepada seseorang atau kelompok yang berjuang atas nama Islam meskipun aksinya menyebabkan bencana kemanusiaan dan peradaban (Fair & Sheperd, 2006). Hasil penelitian tersebut tidak ditemukan perbedaan pendidikan atau tingkat ketaatan agama pada orang-orang yang mendukung aksi terror. Hal yang memberikan kontribusi paling besar pada orang yang mendukung aksi terror adalah perasaan terancam terhadap pihak luar. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Fair dan Sheperd ini perlu dikaji lebih dalam lagi.

Baru-baru ini, Henry Sidanius, Levin, dan Pratto (2005) dan Sidanius, Henry, Pratto, dan Levin (2004) mempelajari hubungan antara orientasi dominasi sosial (SDO) dan dukungan untuk tindakan teror. Sampel dari Amerika yang memiliki orientasi dominasi sosial yang tinggi cenderung mendukung kekerasan yang lebih besar terhadap Timur Tengah. Namun, sampel dari Lebanon menunjukkan pola yang berlawanan. Mereka yang lebih rendah dalam orientasi dominasi sosial cenderung mendukung kekerasan terhadap Barat. Artinya bahwa benturan peradaban antara Islam dan Barat (Kristen) bukanlah dasar dari aksi-aksi terror dan penyerangan terhadap Barat dan Israel. Hasil ini menunjukkan bahwa dukungan bagi terorisme di antara warga negara Timur Tengah adalah proyek kontra-dominasi, dimana hubungan antara orientasi dominasi sosial dan dukungan untuk kekerasan tergantung pada dinamika konflik dan status pelaku. Pada akhirnya, hasil temuan yang didapat dari Henry dkk (2005) dan Sidanius dkk (2004) mengantar sebuah penelitian lebih lanjut untuk menjawab fenomena terorisme di Indonesia. Muncul pertanyaan apakah temuan Henry dkk dan Sidanius dkk bahwa kemunculan terorisme Islam di daerah Timur Tengah serupa dengan kemunculan terorsime Islam di Indonesia?

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor fundamental yang menyebabkan tindakan teror Islam di Indonesia, mengingat fenomena di Indonesia berbeda dari apa yang terjadi di Palestina atau Lebanon. Di samping kuatnya intervensi pihak asing terhadap Indonesia, konflik besar antara Muslim dan non-Muslim juga terjadi di Indonesia dalam waktu yang bersamaan. Saat dana bantuan yang diberikan oleh pihak asing untuk membantu peningkatan perekenomian Indonesia turun, hampir disaat yang bersamaan pecah konflik di Ambon dan di Poso. Jika dianaliasis dari kejadian-kejadian pengeboman dan percobaan pengeboman yang muncul di Indoneesia, dua kondisi dan situasi yang terjadi di Indonesia sangat memberikan kontribusinya. Contoh dari ini dapat dilihat dari kejadian Bom malam Natal tahun 2000 yang muncul dikarenakan konflik Ambon dan Poso. Dilain pihak, kejadian bom Bali tahun 2002 lebih disebabkan oleh ketidak sukaan pihak asing, dalam hal ini Amerika dan aliansi.

Di samping penjelasan di atas, hal yang lain yang membuat fenomena teroris di Indonesia berbeda dengan di Timur Tengah adalah faktor dukungan sosial. Keluarga teroris Indonesia sering mencegah aksi terorisme (Soheh & Zeena, 2009) dan mayoritas Muslim di Indonesia (diwakili oleh organisasi Muslim seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah) mengecam kekerasan. Selain itu, pada kenyataannya, konflik Muslim dan non-Muslim adalah konflik lokal, sering berhubungan dengan etnis atau budaya (Satriyono, 2007). Beberapa aksi teror di Indonesia disebabkan oleh konflik antaragama, tetapi beberapa yang lain tidak. Dengan kata lain, tesis yang mengungkapkan bahwa terorisme disebabkan oleh benturan agama (Islam – non-Islam) ternyata tidak sesuai dengan konteks di Indonesia. Penelitian ini akan berupaya menggali lebih dalam akar sebab dari munculnya terorisme Islam di Indonesia.

 

*Versi lengkap artikel ini dimuat pada Jurnal Ilmiah Psikologi. vol. 4 no. 1, 2010
alamat redaksi: lembaga penelitian gunadarma jl. Margonda Raya no. 100 Depok
email: psikologi@gunadarma.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s