Konstruksi Sosial dan Pendekatannya dalam Psikologi

Posted: April 14, 2009 in seputar ilmu sosial
Tags: , , , , ,

Idhamsyah Eka Putra & Lia Marina

Psikologi konstruksi sosial merupakan kajian psikologi yang berupaya membaca kembali keadaan sosial secara lebih kritis dan terperinci. Kajian ini juga mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang telah didapat oleh psikologi positivistik (mainstream). Psikologi potivistik dipandang oleh konstruksionis psikologi terlalu mereduksi suatu kebenaran ke dalam deskripsi fakta-fakta saja dan melupakan makna atau nilai yang terkandung di dalam fakta tersebut. Tulisan ini berupaya menjelaskan perihal sejarah dan konsep yang diberikan tentang konstruksi sosial.

Pendahuluan

Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang muncul diantara mereka. Makna tersebut dicerna dan disempurnakan saat proses interaksi sosial berlangsung. Berbagai makna senantiasa mengiringi tindakan sosial. Sedangkan arti sebuah makna terkait pada konstruksi sosial. Sesuatu yang dikonstruksikan secara sosial adalah sesuatu yang dibangun berdasarkan komunikasi dan interaksi antarindividu. Konstruksi dapat disepakati secara sadar maupun tidak sadar oleh masing-masing individu, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat untuk memahami atau mengetahui suatu hal tanpa terlebih dahulu harus menggunakan metodologi ilmiah seperti yang dilakukan oleh para akademisi terlebih dahulu, mereka cukup menempatkan makna dan nilai pada pengalaman yang sama berdasarkan kepantasan dan kecocokan yang telah mereka sepakati bersama. Konstruksionis sosial berupaya memahami makna dan nilai yang menjadi sebuah pengetahuan bersama dalam masyarakat secara spesifik. Tulisan ini berupaya merumuskan pemahaman konstruksi sosial dan penerapannya di dalam pendekatan psikologi.

Pendekatan Positivistik dan Konstruksionistik Sosial dalam Ilmu Sosial

Pendekatan teoritis antara positivistik dan konstruksionistik sosial memiliki beberapa perbedaan. Positivis cenderung menilai adanya kebenaran yang obyektif mengenai realitas, sementara konstruksionis sosial percaya kebenaran sebagai cultural artifact. Positivis percaya bahwa kebenaran hanya didapat melalui metode ilmiah, sementara konstruksionis mencari kebenaran melalui nilai dan makna yang berkembang di masyarakat.

Gergen (1999) melihat adanya pemahaman yang salah dalam pendekatan positivistik. Bberapa hal yang menjadi masalah mendasar di dalam kesalahan berpikir tersebut; pertama, mengenai sifat ketidak berpihakan positivistik di dalam penelitian. Para pemikir positivis selalu menggemakan upaya mereka dalam menggambarkan dunia apa adanya, tanpa bias dan hanya berpihak pada ilmu pengetahuan yang objektif. Kenyataannya tidak pernah ada ilmu pengetahuan yang tidak berpihak. Segala sesuatu selalu ada tujuan, bahkan seorang peneliti pun melakukan riset selalu bukan tanpa alasan, mereka memilih dengan sebuah tujuan. Kedua, pemahaman kondisi sebab akibat. Penelitian empiris positivistik, selalu didasari dari model sebab akibat. Mereka mengamini bahwa setiap kegiatan memiliki penyebab. Dengan demikian, pada prinsipnya penelitian mencoba memperhatikan sebab-sebab yang menstimulus suatu tindakan. Konstruksionis beranggapan bahwa ide yang menyebabkan atau yang memberikan akibat tidak bisa diamati sekedar sebab yang menyebabkan akibat tetapi sebab yang melibatkan proses sebelum menjadi akibat. Bentuk sebab akibat yang dijadikan model dan diterima sebagai kebenaran hakiki, akan menempatkan manusia tak ubahnya sebagai sesuatu yang mekanik (robot), yang melupakan konstruksi dialogis, proses interaksi, dan komunikasi di dalam realitas sosial.

Ketiga, merubah hasil observasi ke dalam angka-angka. Penelitian-penelitian yang dilakukan secara empirik positivistik cenderung mengubah hasil yang didapat menjadi angka-angka, dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dan pengukuran. Hal ini mungkin sekali mereduksi suatu hal yang multi interpretatif, seperti pemahaman bahasa.Keempat, pencarian jawaban yang paling benar. Penelitian empiris selalu diharapkan mendapatkan jawaban yang benar dan tepat secara universal. Di dalam kajian sosial, tentu saja jawaban ini sulit untuk didapat karena kondisi sosial yang cenderung berubah-ubah dan adanya penafsiran mengenai kondisi sosial yang tidak sama.

Setelah memaparkan permasalahan di dalam penelitian empiris, Gergen (1999) menyebutkan setidaknya ada empat asumsi yang melekat pada pendekatan konstruksionis. Pertama, dunia ini tidaklah tampak nyata secara obyektif pada pengamat, tetapi diketahui melalui pengalaman yang umumnya dipengaruhi oleh bahasa. Kedua, kategori linguistik yang dipergunakan untuk memahami realitas bersifat situasional, karena kategori itu muncul dari interaksi sosial dalam kelompok orang pada waktu dan tempat tertentu. Ketiga, bagaimana suatu realitas dipahami pada suatu waktu dan ditentukan oleh konvensi komunikasi yang berlaku pada waktu tersebut. Karena itu, stabilitas dan instabilitas pengetahuan banyak bergantung pada perubahan sosial ketimbang realitas obyektif di luar pengalaman. Keempat, pemahaman realitas yang terbentuk secara sosial membentuk banyak aspek kehidupan lain yang penting, bagaimana kita berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari umumnya ditentukan oleh bagaimana kita memahami realitas. Keempat asumsi tersebut menekan bahwa suatu konstruksi sosial sangatlah terikat pada konteks situasi tertentu. Hal ini menjelaskan pula bahwa situasi keadaan masyarakat di setiap tempat selalu berbeda. Kebutuhan, nilai, dan perhatian di dalam masyarakat juga selalu berbeda. Maka, sudah sewajarnya sesuatu yang dikonstruks di dalam masyarakat berbeda-beda pada setiap konteks, sejarah, dan situasi.

Sesuatu hal pun tidak akan muncul jika hal tersebut tidak dibangun karena memang tidak diinginkan dan tidak dipikirkan. Seperti misalnya jika seratus tahun yang lalu, pada tanggal 28 Oktober 1928, sekelompok pemuda yang berkumpul dalam kongres tidak pernah mengumandangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, maka mungkin saja tidak akan ada Bahasa Indonesia.

Banyak sekali contoh-contoh lainnya yang merupakan sebuah fakta bahwa sesuatu hal memang dikonstruk secara sosial. Diantara contoh-contoh teresebut adalah uang, koran, dan bahasa. Tidak ada makna atau pengetahuan yang bisa muncul tanpa melalui komunikasi atau interaksi yang terjadi ditengah-tengah masyarakat (Hacking, 1999).

Konstruksi Sosial Realitas Menurut Berger dan Luckman

Adalah Berger dan Luckman (1966) tokoh pertama yang menggunakan istilah konstruksi sosial. Dalam bukunya Social Construction of Reality, Berger dan Luckman menjelaskan betapa realitas dalam kehidupan sehari-hari telah memberikan ingatan, kesadaran, dan pengetahuan yang membimbing tindakan pada sesuatu yang dianggap wajar. Indikasi seperti ini menerangkan bahwa makna dalam kehidupan sehari-hari tidak akan ada tanpa interaksi dan komunikasi dengan orang lain. Lebih lanjut Berger dan Luckman menjelaskan:

“I know that my natural attitude to this world corresponds to the natural attitude of others, that they also comprehend the objectifications by which this world is ordered, that they also organize this world around the “here and now” of their being in it and have projects for working in it. All the same, I know that I live with them in a common world. Most importantly, I know that there is an ongoing correspondence between my meanings and their meanings in this world, that we share a common sense about its reality” (Berger & Luckman, 1966: 22)

Penjelasan Berger dan Luckman di atas memperlihatkan bahwa realitas dalam pandangan konstruksi sosial sangat mementingkan proses dialogis berkesinambungan yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya, terutama pada pemaknaan yang dibentuk masing-masing individu tersebut tentang dunia. Kualitas lain yang disebutkan oleh Berger dan Luckman adalah pemaknaan “here and now” pada manusia tentang keberadaan dan tujuan mereka di dunia.

Konstruksi sosial yang ditawarkan oleh Berger dan Luckman ini dipengaruhi oleh konsep Fenomenologi, khususnya dari Alfred Schutz. Schutz menjelaskan tiga unsur pengetahuan yang membentuk pengertian manusia tentang masyarakat, yakni: dunia sehari-hari, sosialitas, dan makna (Novri Susan, 2003, dalam Rosyadi, 2008). Dunia sehari-hari adalah urutan pertama dari kenyataan. Ia menjadi dunia yang paling fundamental dan esensial bagi manusia. Sosialitas berpijak pada teori tindakan sosial Max Weber. Tindakan sosial yang terjadi setiap hari selalu memiliki makna. Sumbangan Schutz yang utama bagi gagasan fenomenologi adalah mengenai makna dan bagaimana makna membentuk struktur sosial.

Berdasakan kenyataan sosial yang ada, Berger da Luckman menganggap bahwa unsur terpenting dalam konstruksi sosial adalah masyarakat, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan atau norma, baik itu norma adat, agama, moral dan lain-lain. Dan, semua itu nantinya akan terbentuk dalam sebuah struktur sosial yang besar, seperti institusi dan pertemuan. Struktur sosial atau institusi merupakan bentuk atau pola yang sudah mapan yang diikuti oleh kalangan luas di dalam masyarakat. Akibatnya institusi atau struktur sosial itu mungkin saja terlihat mengkonfrontasikan individu sebagai suatu kenyataan obyektif dimana individu harus menyesuaikan dirinya.

Menurut Berger dan Luckman (1967), kenyataan obyektif adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena yang memiliki keberadaannya berdasarkan interaksi individu dan masyarakat. Sementara itu, kenyataan obyektif yang menjadi pengetahuan merupakan kepastian bahwa fenomena itu nyata dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik, di dalam konteks tertentu.Dengan demikian, kenyataan sosial adalah kesepakatan bersama manusia terhadap pengetahuan dalam kehidupan sehari-sehari yang muncul dari proses dialogis.

Kehidupan sehari-hari menampilkan realitas obyektif yang ditafsirkan oleh individu dan dimaknai secara subyektif. Tragedi Mei 1998 merupakan sebuah realitas obyektif yang dimaknai berbeda oleh berbagai kelompok, seperti mahasiswa, pemerintah, tentara, maupun etnis Tionghoa. Perbedaan makna ini tidak hanya terjadi antarkelompok namun juga intrakelompok (individu-individu).

Hasil interaksi sosial membentuk pengetahuan bersama. Pengetahuan bersama yang dilakukan berulang-ulang berubah menjadi pembiasaan. Pembiasaan yang telah berlangsung memunculkan pengendapan dan tradisi, yang kemudian diwariskan ke generasi berikut dan dijaga kelestariannya oleh suatu lembaga.

Pendekatan Konstruksi Sosial di dalam Psikologi

Pemikiran Berger dan Luckman ini berpengaruh besar pada pemikir-pemikir sosial sesudah mereka, termasuk dalam kajian psikologis. Ilmu psikologi yang semakin positivistik berupaya menyederhanakan penelitian-penelitiannya ke dalam laboratorium, yang jauh dari realitas sosial yang sesungguhnya. Sugiman et al. (2008) menegaskan bahwa penyelidikan konstruksi sosial dalam psikologi dapat dijejaki sebelum Berger dan Luckman (1966), yaitu melalui karya Kuhn (1962), The Structure of Scientific Revolutions. Ia menjelaskan ilmu alam sebagai suatu paradigma yang kebenarannya digunakan sebagai acuan untuk menemukan kebenaran lainnya. Berger dan Luckman serta Kuhn, meskipun berbeda dalam pembahasan, mereka sama-sama melihat pengetahuan sebagai suatu cermin dari dunia, dan melihat apa yang akan manusia bawa ke dunia adalah juga produk dari masyarakat (Sugiman et al. 2008).

Dalam psikologi, konsep konstruksi sosial yang memberikan nuansa pergerakan pembaharuan, menawarkan solusi atas kemandegan ilmu psikologi. Setidaknya konstruksi sosial dalam kajian psikologis berupaya memahami secara holistik what people do dan what people are. Harre dan Langenhove menjelaskan lebih jelas:

Social constructionism psychologyst are:

(i)what people do, publicly and privately, is intentional, that is directed to something beyond itself, and normatively constrained, that is, subject to such assesments as correct/incorrect and so on.

(ii)what people are, to themselves and to others, is product of a lifetime of interpersonal interactions superimposed over a very general ethological endowment (Harre & Langenhove, 1999: 2)

Dari penjelasan di atas, Harre dan langenhove (1992) menjelaskan bahwa setiap individu, dirinya adalah produk dari hasil interaksi dengan di luar diri (sejarah, lingkungan, dan peristiwa), apa yang dilakukannya (dari proses penilaian dan pemaknaan), selalu berhubungan dari sesuatu yang di luar dirinya. Dari upaya konstruksionis psikolgi memahami what people do dan what people are, setidaknya menurut Burr (1995), ada empat karakter dasar konstruksi sosial yang dibutuhkan dalam penelitian psikologi, yakni:

Sikap kritis terhadap pengetahuan yang didapatkan dari kehidupan sehari-hari

Konstruksionis sosial menentang ide bahwa pengetahuan tentang hal yang alami mengenai dunia didapat manusia dari hasil observasi yang obyektif. Apa yang diamati dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang dipersepsikan dan menjadi pengetahuan. Persepsi subjektif mengenai kenyataan dalam dunia sehari-hari yang diterima begitu saja (taken for granted) adalah dasar dari sebuah konstruksi sosial. Dengan demikian kategori sosial adalah sebuah konstruksi yang harus terus menerus dipertanyakan dan tidak diterima begitu saja.

Kekhususan sejarah dan budaya

Konstruksionis sosial percaya bahwa cara manusia memaknai dunia, mengkategorikan, dan membentuk konsep sangat dipengaruhi oleh sejarah dan budaya. Cara manusia mengenal dan memperoleh pengetahuan tentang dunianya terkait pada periode waktu dan budaya tertentu dimana ia hidup. Bentuk pengetahuan yang terikat pada waktu dan budaya tertentu merupakan artefak sekaligus juga merupakan produk dari budaya dan sejarah pada saat itu. Dengan demikian tidak seharusnya kita mengasumsikan bahwa cara kita memahami dunia lebih baik dan lebih mendekati kebenaran absolut daripada cara-cara sebelumnya.

Pengetahuan ditopang oleh proses sosial

Pengetahuan bukanlah sebuah produk obyektif dari hasil observasi kita terhadap dunia, namun merupakan sebuah proses dan interaksi sosial dimana individu-individu saling berbagi. Kaum konstruksionis sosial tidak terfokus pada pembelajaran individu, melainkan pada bagaimana pengetahuan publik dalam disiplin ilmu seperti sains, matematika, ekonomi atau sejarah dibangun. Di luar dari jenis pengetahuan akademis ini, kaum konstruksionis juga tertarik pada bagaimana ide-ide yang masuk akal, keyakinan sehari-hari, dan pengertian umum mengenai dunia dikomunikasikan kepada anggota baru kelompok sosial budaya (Gergen, 1997). Melalui interaksi antar manusia terjadi pembentukan pengetahuan dan pemaknaan terhadap dunia. Dengan demikian interaksi sosial dalam bentuk apapun khususnya bahasa menjadi bagian yang paling penting dalam konstruksi sosial, baik dalam mengkonstruksikan ataupun mempertahankan pengetahuan manusia tentang dunianya.

Pengetahuan dan tindakan sosial berjalan bersama

Pemaknaan yang dinegosiasikan melalui pertukaran dalam interaksi sosial dapat termanifestasikan dalam berbagai variasi bentuk, yang lebih dikenal dengan pola tingkah laku. Dengan pola tersebut kita dimudahkan untuk membicarakan berbagai bentuk perilaku manusia. Bentuk konstruksi yang berbeda-beda tentang dunia sosial tidak pernah terbebas dari konsekuensi sosial. Di lain pihak, setiap konstruksi yang terbentuk dapat dihubungkan pada suatu bentuk tindakan yang spesifik (Chryssochoou, 2002). Dengan bentuk dan konstruksi sosial yang berbeda maka akan ada tindakan yang berbeda. Sebagai contoh, jaman dulu, seorang alkoholik dianggap bertanggung jawab akan semua perilakunya sehingga mereka dianggap bersalah ketika mebuat keributan, dan tindakan yang diambil adalah dengan memasukkan mereka ke penjara. Namun saat ini kasus alkoholik lebih dipandang sebagai kecanduan dimana cara penanggulangannya adalah dengan memberikan perawatan medis dan psikologis. Dari ilustrasi tersebut dapat terlihat bahwa konstruksi sosial yang berbeda berimplikasi pada tindakan yang berbeda pula.

Keempat karakteristik konstruksi sosial yang dipakai dalam bidang kajian psikologis, telah terbagi dalam beberapa fokus utama. Diantaranya adalah, psikologi wacana, psikologi naratif, dan psikologi kritis (Smith et al, 1995, Sugiman et al., 2008). Selanjutnya fokus utama ini akan dijelaskan dalam beberapa subjudul terpisah.

Psikologi Wacana dan Psikologi Naratif

Studi mengenai wacana adalah menganalisis bagaimana bahasa dan simbolisasi ke dalam sebuah pemaknaan.. Wacana selalu digambarkan dan dipahami oleh individu dalam penafsiran yang berbeda. Istilah wacana sendiri adalah sebuah arti yang disampaikan melalui kebudayaan yang mencakup percakapan, penulisan, komunikasi nonverbal, gambar, serta perumpamaan di dalam puisi dan seni (Parker, 1997).

Psikologi wacana sendiri memfokuskan analisisnya untuk menjelaskan cara-cara terbentuknyua dan berubahnya emosi, pikiran, dan sikap seseorang melalui peristiwa, percakapan, ataupun interaksi agar dapat menjelaskan proses tersebut dalam perubahan atau reproduksi sosial.

Analisis wacana dalam kajian psikologi menjadi penting karena selalu ada makna dan arti di dalam tindakan seseorang. Tindakan pun, saat dilakukan oleh individu selalu terikat dengan konteks dan situasi yang terjadi. Kenapa orang lebih banyak membunuh perempuan, kenapa orang lebih banyak membicarakan tokoh politik daripada aktris, kenapa perampokan terjadi kamis siang hari tetapi tidak jumat malam hari, keadaan tersebut pastilah ada suatu hal yang tidak sekedar fakta-fakta tetapi juga ada nilai-nilai yang dipahami kepanapa sesuatu keadaan tersebut terjadi atau dibicarakan.

Psikologi wacana selalu berupaya menempatkan Intentional acts sebagai suatu struktur yang bersifat sekuensi yang berupaya memahami sistem tanda atau orang lain sebagai sesuatu yang diproduksi bersama (Harre, 1995). Artinya, pemaknaan yang muncul tidak bisa hadir tanpa adanya interaksi dan kehadiran sesuatu yang lain.

Setidaknya Parker menjelaskan perbedaan karakteristik psikologi yang bersifat postivistik dengan karakteristik psikologi wacana ke dalam tiga bagian. Pertama adalah mengenai variabilitas. Psikologi postivistik cenderung untuk mencari suatu keonsistensi dari respons, atau serangkaian item-item pertanyaan atau tes yang saling terkait, atau kesederhanaan dari penjelasan. Penjelasan psikologi mencari alat yang akan meramalkan secara konsisten. Mereka cenderung mencari makna tunggal di dalam hasil observasi. Sementara psikologi wacana selalu berurusan dengan ketidakkonsistenan, dan variasi dalam laporan. Hal ini bukan untuk membatasi individu, tetapi untuk mengarahkan pada suatu keragaman dan memahami pemaknaan yang seringkali kontradiktif satu dengan lainnya.

Kedua adalah mengenai konstruksi. Psikologi positivistik memperlakukan individu seolah-olah mereka, secara prinsip, dapat dipisahkan dari kebudayaan, dan memperlakukan setiap proses mental individual seolah-olah terpisah dari kehidupan subyek. Psikologi wacana mencari makna dari bentuk, kata, ungkapan, argumentasi atau aspek-aspek lain dari bahasa yang tampaknya berbeda dan terkait erat dengan makna dan aktivitas lain. Suneber penting ini adalah etnometodologi (Garfingkel, 1967; Parker, 1997), yang melihat makna sebagai sesuatu yang selalu didefinisikan oleh konteks.

Ketiga adalah mengenai fungsi. Wacana tidak memberi suatu jendela yang jelas ke dalam pikiran individu atau dunia luar, seperti yang dipercaya oleh psikologi positivistik. Baik dalam bahasa sehari-hari maupun dalam deskripsi psikologis, ungkapan seseorang merupakan tindakan berbicara (speech acts). Dalam hal ini, bahasa adalah sesuatu yang amat penting dalam studi wacana. Dua hal yang terpenting dalam penggunaan bahasa adalah berupa linguistic medium, yang merupakan pembahasan perihal isu-isu tertentu, dan sebagai language-like system, yang merupakan sistem bahasa dalam penjelasan ‘semantic’.

Bahasa menurut Harre (1995) dikategorikan sebagai konstruksi sosial. Penggunaan bahasa selalu terkait dengan situasi dan pemahaman akan konteks tertentu. Perkembangan teori (di dalam psikologi misalnya behaviorisme, teori lapangan, psikodinamika) dalam pemaparannya selalu tidak pernah lepas dari bahasa, sementara bahasa selalu bersifat kontekstual. Ini pula yang menjelaskan betapa suatu kasus dalam konteks tertentu belum tentu akan cocok penggunaannya terhadap masalah yang lain. Studi wacana yang memfokuskan penelitiannya dalam bahasa ke dalam bentu bahasa tutur atau cerita biasa disebut dengan ”psikologi naratif”.

Psikologi naratif lebih menitikberatkan keterkaitan antara kehidupan dan cerita yang terkatakan. Dalam upaya untuk memahami psikologi naratif maka perlu dilakukan revolusi pada paradigma dalam berpikir. Di bawah ini akan sedikit dijelaskan mengenai folk psychology yang menjadi latar belakang dari psikologi naratif. Bruner mengunakan pada folk yang digunakan sebagai instrumen dalam sebuah budaya. Dalam definisi Bruner (1990), folk psychology didefinisikan sebagai:

”…a system by which people organize their experience in, knowledge about, and transactions with the social world.” (Bruner, 1990 : 35)

Dari definisi di atas dapat terlihat bahwa ada beberapa hal penting yaitu: (1) folk psychology dipandang sebagai sebuah sistem, (2) yang digunakan individu untuk mengorganisasikan pengalaman, pengetahuan dan hasil transaksi dalam dunia sosial.

Berhubungan dengan poin pertama, Bruner (1990) menegaskan bahwa folk psychology memiliki sistem dengan cara kerja tersendiri, yaitu cara kerja naratif bukan konseptual. Dalam hal ini naratif dipandang sebagai salah satu modus berpikir selain dari modus paradigmatik. Modus berpikir naratif menekankan pada pemahaman yang didasarkan pada urutan waktu (sequential). Mode naratif ini dijelaskan oleh Bruner (1990) sebagai cara yang digunakan manusia untuk memahami dan mencapai pemaknaan terhadap dunianya.

Bruner (1990), mengemukakan revolusi kognitif dalam memahami bagaimana manusia berpikir. Menurutnya, manusia tidak semata hanya robot yang terkonstruksi secara komputasional berdasarkan pada stimulus dan respon. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa konsep dasar dari psikologi dalam pembahasan tentang manusia berputar pada ’pemaknaan’ dan proses-proses serta transaksi yang terjadi dalam pengkonstruksian makna tersebut.

Berkaitan dengan pengkonstruksian makna inilah Bruner menekankan pada pentingnya budaya. Dalam penjelasannya, ia mengungkapkan bahwa untuk memahami manusia, perlu dilalui dalam dua tahapan. Tahapan pertama berkaitan dengan pemahaman pengalaman individu dan bagaimana setiap tindakan individu tersebut dibentuk oleh intentional states, dan tahapan kedua berbicara tentang bagaimana individu menyadari intenstional states melalui partisipasinya dalam sistem simbolik dalam budaya (Bruner, 1990).

Kembali pada psikologi naratif, dengan penjelasan di atas, maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa cerita yang dibentuk oleh individu-individu memegang peranan penting untuk memahami manusia. Bagaimana manusia memahami keadaan awal atau prinsip-prinsip dasar (canonicality) yang terpelajari dalam interaksi sosial serta managemen mental yang dilakukan individu terhadap kejadian yang berdeviasi dari keadaan awal atau prinsip-prinsip dasar (exceptionality) menjadi sentral dari pembentukan self pada manusia.

Senada dengan Bruner, Sarbin (1986, dalam Murray, 1995) mengatakan bahwa psikologi naratif mengeksplorasi cara individu memahami dunia nya melalui cerita. Adalah hal yang telah disepakati bersama bahwa orang memahami dirinya dan orang lain dalam term narasi (seperti cerita tentang kesuksesan dan kegagalan, perkembangan dan kemunduran) (Sugiman, et.al., 2008) bahkan cerita merupakan suatu link yang dapat merangsang tindakan.

Psikologi Kritis

Konstruksi sosial di dalam pemahaman psikologi kritis adalah suatu bangunan yang tidak pernah lepas dari sejarah, peristiwa, dan kesepakatan. Psikologi kritis berupaya mempertanyakan realitas kebenaran yang terjadi, bagaimana, dan atas dasar apa kebenaran tersebut diterima (Spears, 1997).

Apabila klaim untuk kebenaran yang dipahami sebagai konstruksi sosial, misalnya tentang kegilaan, pertanyaan yang akan muncul adalah atas dasar apa seseorang dapat dikatakan gila? Atas dasar kesepakatan siapa? Adakah yang merasa dirugikan atas kebenaran tentang kegilaan tersebut?

Jika kelompok positivis berupaya mendapat fakta dari suatu gejala sosial, psikologi kritis berupaya mempertanyakan bagaimana fakta tersebut dapat hadir, karena fakta-fakta tersebut sebenarnya merupakan produk masyarakat tertentu. Sementara banyak pengamat sosial lebih cenderung mengamati realitas yang ada, justru psikologi kritis berusaha mencari bagaimana realitas timbul.

Setidaknya ada enam hal utama yang diangkat dalam psikologi kristis (Fox & Prilleltensky, 1997). Penelitian dan pengetahuan. Pada dasarnya ilmu pengatahuan dan pemahaman yang muncul tidak bisa lepas dari pengaruh politik dan nilai subyektivitas penciptanya. Oleh sebab itu penelitian yang dilakukan sebagai wujud deskripsi masalah sebaiknya memberikan solusi untuk menolong masyarakat tertindas. Definisi persoalan dan penyelesaiannya. Apa yang dimasukkan dan dikeluarkan dalam definisi persoalan? Tingkat intervensi pada persoalan mana yang dituju? Persoalan didefinisikan secara holistik dengan menggunakan faktor-faktor psikologis dan sosial yang terkait dengan lingkungan yang tak memberdayakan dan menindas. Intervensi ditujukan kepada dimensi pribadi dan sosial, mencoba memeratakan kekuasaan, dan berjuang untuk mencapai keadilan merata dalam hal akses ke sumber daya. Kehidupan yang baik. Konsepsi kehidupan yang baik seperti apa yang dimajukan? Kehidupan yang baik didasarkan pada penentuan diri sendiri secara timbal balik dimana orang memenuhi kepentingan mereka dengan mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Masyarakat yang baik. Konsep masyarakat yang baik seperti apa yang diajukan? Masyarakat yang baik didasarkan pada kebersamaan, demokrasi, dan keadilan yang merata. Kekuasaan dalam hubungan. Apa yang membentuk legitimasi kekuasaan dan bagaimana seharusnya kekuasaan dirasakan bersama? Kekuasaan seharusnya dimiliki secara merata. Legitimasi lahir melalui proses demokratis yang dihambat baik oleh profesional psikologi maupun masyarakat. Etika profesional. Kepentingan mana yang dilayani oleh etika profesional? Pengguna layanan maupun partisipan penelitian seharusnya terlibat dalam mendefinisikan perilaku etis dan menentukan kepentingan mana yang dilayani oleh pedoman etis tersebut.

Dari keenam hal utama tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa psikologi kritis berupaya fokus pada pencapaian keadilan sosial, dan memajukan kesejahteraan masyarakat secara umum. sebagai upaya penyejahteraan. Selanjutnya karena ilmu psikologi tidak muncul dari suatu hal yang kosong yang tidak terikat dengan keinginan subyektif, maka dibutuhkan pula dialog dengan ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu politik, filsafat, dan antropologi. Peruntukannya pun ditujukan untuk memberikan keuntungan keseluruhan manusia, tidak hanya menguntungkan yang kuat namun merugikan yang lemah.

Kesimpulan

Membaca realitas sosial dengan mempertimbangkan wacana, narasi (cerita), dan kekritisan beripikir lebih dapat memungkinkan kemungkinan penilaian yang menyeluruh atas suatu kejadian. Psikologi tidak hanya berupaya menjelaskan bagaimana pikiran, emosi, tingkah laku, seperti apa yang tergambarkan atau tercatat tetapi juga dapat menyibak dan membaca sesuatu di balik hal yang terlihat secara empiris. Dalam hal ini, kajian psikologi tidak bisa lagi mengamati individu sebagai suatu hal yang terpisah dari ruang sosialnya, melainkan menempatkan individu sebagai sesuatu hal yang tidak terpisah dari keadaan sosial. Karena norma, tindakan, dan peristiwa yang dipahami oleh individu adalah proses dari interaksi pada individu lainnya.

Tendensi tentang kebenaran pun tidak bisa lagi dikatakan bahwa hanya yang melalui metodologi ilmiah, karena kebenaran pemahaman tentang sesuatu yang benar dapat muncul melalui spiritualitas, perasaan, keyakinan, interaksi, dsb., yang dalam keseharian kebenaran tersebut membaur dalam simbol dan nilai yang terus didiskusikan.

Konstruksi sosial tidaklah membantah penelitian-penelitian yang telah ada, tetapi lebih mengajak peneliti, akademisi, dan ilmuwan untuk lebih kritis dalam memahami relitas sosial. Tegasnya, konstruksi sosial mengupas keadaan orang banyak, secara sosial, sebagaimana adanya secara holistik dan konstektual (Hacking, 1999). Konstruksionis sosial berusaha memberikan pencerahan kepada peneliti-peneliti yang bekerja di dalam ilmu sosial untuk lebih peka lagi mengenai keadaan sosial yang tidak hanya menjelaskan fakta-fakta tetapi juga menjelaskan nilai atau makna apa yang terkandung pada suatu kejadian atau keadan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s